Search
Menu
Mode Gelap

Allah Maha Tahu Letihmu, Lukamu, dan Doamu

Allah Maha Tahu Letihmu, Lukamu, dan Doamu
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Bukannya Allah tak tahu lelahnya diri kita. Bukan pula karena Allah menutup mata dari beratnya beban yang kita pikul.

Namun Allah Maha Mengetahui batas kemampuan hamba-Nya. Dia tahu bahwa di balik kelelahan itu, masih ada daya yang tersisa, masih ada kekuatan yang belum sepenuhnya kita sadari.

Allah SWT berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Sering kali kita merasa sudah di ujung kemampuan. Pagi hingga malam bekerja, berjuang demi keluarga, menahan lelah fisik dan tekanan batin.

Namun nyatanya, esok hari kita masih bisa bangkit, masih bisa melangkah. Di situlah rahasia pertolongan Allah—bukan dengan menghilangkan beban, tetapi dengan menambah kekuatan di dalam dada.

Bukannya Allah tidak tahu perihnya luka kita. Air mata yang jatuh di sepertiga malam, keluh kesah yang tak terucap, semua tercatat rapi di sisi-Nya. Namun Allah tahu bahwa luka itu tidak datang untuk menghancurkan, melainkan untuk mendewasakan.

Seperti besi yang ditempa api, ia justru menjadi kuat dan bernilai. Demikian pula hati seorang mukmin—semakin diuji, semakin matang jiwanya, semakin dalam ketergantungannya kepada Allah.

Allah SWT berfirman: “Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kamu, agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu.” (QS. Muhammad: 31)

Bukannya Allah tidak tahu sepinya kesendirian kita. Ada masa ketika kita merasa berjalan sendirian, doa-doa belum juga berbuah, dan manusia yang diharap justru menjauh.

Namun Allah tahu, barangkali kesendirian itu adalah jalan agar hati kita kembali utuh hanya kepada-Nya, tidak bergantung pada makhluk, tidak menggantungkan harap pada yang fana.

Banyak orang baru benar-benar menemukan makna hidup justru saat ia merasa kehilangan segalanya. Di titik itulah, ia sadar bahwa satu-satunya sandaran yang tak pernah pergi adalah Allah.

Maka bersabarlah. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi keteguhan hati dalam ketaatan dan ketekunan dalam ikhtiar.

Rasulullah saw bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Iklan Landscape UM SURABAYA

Jika apa yang kita harapkan belum kita dapatkan, jangan berputus asa. Bisa jadi Allah sedang menunda, bukan menolak. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik, pada waktu yang paling tepat.

Karena sering kali Allah memberi bukan seperti yang kita minta, tetapi seperti yang kita butuhkan.

Kita meminta kemudahan, Allah memberi kesabaran. Kita meminta kekayaan, Allah memberi kecukupan. Kita meminta kebahagiaan instan, Allah memberi ketenangan yang lebih dalam.

Dan ketahuilah, Allah Maha Lembut terhadap hamba-Nya.

“Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS. Asy-Syura: 19)

Jika kita merasa rintangan hidup sepanjang sungai, maka kesabaran kita harus seluas samudera. Jika harapan terasa setinggi bintang, maka ikhtiar harus sejauh langit.

Jika pengorbanan terasa sebesar bumi, maka keikhlasan harus melampaui jagad raya. Dan jika masalah terasa sebesar kapal, yakinlah bahwa nikmat Allah seluas lautan—tak akan pernah habis meski terus kita syukuri.

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)

Maka tetaplah berjalan. Tetaplah berdoa.Tetaplah berharap dengan hati yang bersih.

Karena Allah Maha Tahu segalanya—tentang lelahmu, lukamu, doamu, dan masa depanmu.
Dan tak satu pun yang luput dari kasih sayang-Nya. (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments