Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Anak-Anak di Masjid: Dilarang atau Disambut?

Iklan Landscape Smamda
Anak-Anak di Masjid: Dilarang atau Disambut?
pwmu.co -
Gambar ilustrasi. (Pngtree.com/PWMU.CO)

Oleh: Muhammad Ajmalul Wafa Mahasiswa Program Pendidikan Ulama Tarjih Universitas Muhammadiyah Malang

PWMU.CO – Fenomena ini bukanlah hal yang baru,keterlibatan anak anak dalam shalat menjadi bahasan penting yang perlu dipahami dan dimengerti oleh kalangan umat islam, misalnya di desa, masih sering kita jumpai orang tua yang tegas dan menolak kehadiran anak-anak yang mereka anggap adalah sebuah gangguan. Padahal sepenuhnya tidak, jika keadaan anak tersebut tenang dan bisa dikontrol.

Dari hal seperti inilah terbentuk pemikiran yang salah, karena apa? Ketika anak-anak mulai merasa masjid bukan tempat yang aman, bukan tempat yang nyaman, bukan tempat yang harus diutamakan mereka akan mulai tidak nyaman, dan menjauh dari lingkungan masjid.

Kita lihat kembali pada zaman Rasulullah dalam hadis berikut:

Dari Abdullah bin Buraidah radhiallahu ’anhu, ia berkata:

: خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم، فأقبل الحسن والحسين رضي الله عنهما عليهما قميصان أحمران يعثران ويقومان، فنزل فأخذهما فصعد بهما المنبر، ثم قال: “صدق الله، إنما أموالكم وأولادكم فتنة، رأيت هذين فلم أصبر”، ثم أخذ في الخطبة

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami. Lalu Hasan dan Husain radhiallahu ’anhuma datang ke masjid dengan memakai gamis berwarna merah, berjalan dengan sempoyongan jatuh bangun (karena masih kecil). Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar masjid dan menggendong kedua cucu tersebut, dan membawanya naik ke mimbar. Lalu beliau bersabda, “Maha Benar Allah, bahwa harta dan anak-anak itu adalah fitnah (ujian), aku melihat kedua cucuku ini aku tidak bisa bersabar”. Lalu Rasulullah kembali melanjutkan khutbahnya.” (HR. Abu Daud no. 1109, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Dari hadis di atas membuktikan bahwa anak-anak memang butuh rangkulan hangat dari orang tua nya.hal ini dapat menumbuhkan mindset, ini lho rumah saya, ini lho tempat yang paling nyaman, jadi ketika mereka mendapati waktu shalat datang, mereka dalam alam bawah sadarnya langsung berkata, “Ayo ke masjid shalat”, dalam tanda kutip mereka belum paham apa yang dibaca dalam shalat.

“Istirahat di masjid saja atau berhenti sebentar yuk kita shalat biar lebih tenang,” ungkap mereka saat berpergian jauh. Mana yang dari waktu kecil dibiasakan ke masjid dan tidak akan terlihat jelas. Mereka akan mengutamakan masjid walaupun tempat tujuan sudah dekat.

Kembali ke topik pembahasan, dan bagaimana jika anak anak tersebut tidak bisa dikontrol? Merujuk pada ayat berikut, semua bentuk gangguan terhadap shalat harus dihilangkan dan dihindari. Karena itu berasal dari setan. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat.” (QS. Al Maidah: 91).

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رُصُّوا صُفُوفَكُمْ ، وَقَارِبُوا بَيْنَهَا ، وَحَاذُوا بِالأعْنَاقِ؛ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إنِّي لأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ ،

     كَأَنَّهَا الحَذَفُ

“Rapatkanlah shaf-shaf kalian! Dekatkanlah di antara shaf-shaf tersebut! Sejajarkan leher-leher. Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku benar-benar melihat setan masuk dari celah shaf, seakan-akan setan itu anak-anak kambing.” (HR. Abu Daud no. 667, An Nasa-i no. 815, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Larangan di atas memang jelas, untuk menjauhkan sumber-sumber kegaduhan, misal anak anak yang sulit dikontrol. Adapun anak-anak yang sulit dikontrol yang dapat membuat kegaduhan, mohon untuk diawasi atau disendirikan dalam shaf shalat.

Terkadang mereka gaduh karena satu shaf bersamaan dengan temannya, banyak yang memakai cara ini dapat meminimalisir gerak mereka dalam bermain saat shalat di laksanakan.

Jadi tidak ada alasan buat orang tua untuk melarang mereka pergi ke masjid. Mindset tumbuh justru semenjak mereka mengenal rumah Allah (masjid) sedari mereka kecil bukan ketika mereka sudah dewasa.

Marilah mengajak dan membiasakan ke masjid buat putra-putri kita, jangan biarkan mereka tumbuh di luar lingkup masjid. Kebiasaan-kebiasaan ini suatu saat yang akan menumbuhkan kesadaran diri bekualitas dan menjadikan generasi yang dirindukan Rasulullah kelak.(*)

Editor Zahrah Khairani Karim

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu