Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sinisme Perbedaan: Mayoritas Tidak Selalu Benar

Iklan Landscape Smamda
Sinisme Perbedaan: Mayoritas Tidak Selalu Benar
Agus Rosid - Mantan Aktivis Pemuda Muhammadiyah
Oleh : Agus Rosid Mantan Aktivis Pemuda Muhammadiyah

Ramadan telah berlalu, dan gebyar Idul Fitri pun usai. Harapan menjadikan kedua momentum itu sebagai wasilah memperkuat persatuan umat ternyata masih jauh dari kenyataan.

Perdebatan tentang Kalender Hijriyah Global pun tetap menyisakan benih pertentangan di ruang digital.

Di berbagai platform media sosial, masih banyak berseliweran komentar bernada sinis yang cenderung menyalahkan salah satu kelompok umat Islam karena dianggap enggan berkompromi.

Bahkan, sekadar perbedaan hasil ijtihad yang sejatinya lumrah dalam khazanah fikih justru memicu munculnya label “haram” bagi mereka yang tidak mengikuti penetapan pemerintah.

Dalam konteks ini, seolah tak ada ruang dialog untuk memberikan pemahaman bahwa perbedaan ijtihadiyah tidak bisa diteropong dengan kacamata tunggal: benar atau salah, haram atau tidak.

Akibatnya, penghormatan terhadap pilihan yang berbeda dari mayoritas kian luntur, digantikan anggapan bahwa sesuatu dianggap benar hanya jika sejalan dengan mayoritas.

Kita kadang lupa bahwa mayoritas tidak selalu benar. Dalam kajian psikologi sosial, misalnya, fenomena groupthink menunjukkan bagaimana kelompok besar dapat terjebak dalam keputusan yang tidak rasional karena mengabaikan pandangan berbeda.

Ditambah lagi efek bandwagon, di mana orang cenderung mengikuti arus demi diterima dan takut dianggap berbeda. Celakanya, kondisi ini seolah menegaskan bahwa banyaknya pengikut adalah kebenaran.

Sejarah mencatat bagaimana Fir’aun menggunakan narasi mayoritas untuk membungkam kebenaran yang dibawa Musa.

Ia tidak hanya bertindak sebagai tiran, tetapi juga memprovokasi rakyatnya agar percaya bahwa Musa dan kaumnya hanyalah sekelompok kecil pengacau yang mengancam stabilitas tradisi yang telah mapan.

Menilik khazanah syariat Islam, menyampaikan kebenaran (al-haq) tidak pernah ditentukan oleh suara mayoritas. Jika kebenaran diukur dari besar dan panjangnya barisan, maka dakwah Rasulullah di Mekkah akan dianggap gagal karena berdiri sebagai kelompok minoritas di hadapan mayoritas yang sudah mapan.

Islam justru mengajarkan bahwa menjadi “asing” (al-ghuraba) di tengah kemapanan yang keliru adalah sebuah kemuliaan.

Bukankah Rasulullah SAW juga bersabda, “Tidak akan bersepakat umatku pada kesesatan” (HR. Tirmidzi)? Artinya, mayoritas tidak selalu identik dengan kebenaran; kebenaran bisa saja tetap ada meski hanya diikuti oleh minoritas.

SMPM 5 Pucang SBY

Hal serupa terjadi pada masa awal pergerakan Islam di Indonesia. Kita tentu ingat betapa getirnya K.H. Ahmad Dahlan saat meluruskan arah kiblat di Masjid Besar Kauman.

Kala itu, beliau bagaikan orang “asing” yang harus berhadapan dengan kuatnya otoritas Penghulu Kraton dan kemapanan tradisi mayoritas.

Bayangkan, garis shaf yang dibuat bersama santrinya dengan landasan ilmu falak justru dianggap sebagai pembangkangan terhadap kesepakatan yang telah berumur panjang.

K.H. Ahmad Dahlan tidak hanya menghadapi perdebatan, tetapi juga sinisme, tuduhan bid’ah, hingga berujung pada perobohan musholla pribadinya. Semua itu dihadapi dengan santun dan ikhlas tanpa pernah terpikirkan untuk berhenti berbuat kebaikan.

Hal ini semakin mengukuhkan bahwa K.H. Ahmad Dahlan tidak membutuhkan legitimasi mayoritas untuk menyampaikan kebenaran.

Baginya, sekalipun sendiri, selama didasari iman dan ilmu dalam beramal, maka kebenaran akan tetap menemukan jalannya.

Teladan itulah yang layak menjadi cermin bagi kita, dengan terus memperbaiki kualitas pribadi dan ketulusan hati untuk berlomba-lomba dalam kebaikan di tengah arus suara mayoritas.

Mengapa? Karena kualitas dan ketulusan memiliki kekuatan moral yang lebih besar daripada sekadar kuantitas.

Mayoritas tidak selalu benar, tetapi kualitas dan ketulusan dapat menunjukkan jalan yang benar.

Dengan cara itu, kita tidak sekadar merespons sinisme mayoritas dengan elegan, tetapi juga memberikan jawaban bahwa kebaikan dan kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya pengikut, melainkan oleh kualitas dan ketulusan dalam menjalaninya.

Wallahu a‘lam.

Revisi Oleh:
  • Satria - 24/03/2026 16:54
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu