Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Antara Kemegahan Institusi dan Krisis Kader Ideologis

Iklan Landscape Smamda
Antara Kemegahan Institusi dan Krisis Kader Ideologis
Oleh : Anas Febriyanto Anggota KM3 Nasional DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
pwmu.co -

Di berbagai forum internal Muhammadiyah, sebuah pertanyaan retoris sering kali menyeruak ke permukaan: apakah Muhammadiyah sedang mengalami krisis kader?

Pertanyaan ini bukanlah sekadar kekhawatiran tanpa dasar, melainkan sebuah refleksi mendalam atas kondisi persyarikatan hari ini.

Sebagian pihak bertanya-tanya apakah kita memang kekurangan sumber daya manusia, ataukah sebenarnya kader itu ada namun terabaikan dalam proses perawatan dan pembinaan yang berkelanjutan.

Muhammadiyah saat ini berdiri kokoh sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di dunia.

Kekuatannya termanifestasi dalam ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang berkiprah di bidang pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi.

Sekolah-sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, serta rumah sakit yang tersebar di pelosok negeri, merupakan bukti nyata kontribusi Muhammadiyah bagi bangsa.

Namun, dibalik kemegahan fisik tersebut, tersimpan tantangan ideologis yang sangat serius.

Fenomena Formalitas dan Kehampaan Ideologis

Muncul sebuah fenomena yang memprihatinkan di mana AUM yang besar justru sering kali diisi oleh individu yang hanya memiliki keterikatan profesional, namun miskin ikatan ideologis.

Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM) terkadang hanya dipandang sebagai syarat administratif atau “tiket masuk” untuk mendapatkan pekerjaan di lingkungan persyarikatan.

Hal ini menciptakan jarak yang lebar antara status keanggotaan dengan pemahaman mendalam terhadap visi dan misi gerakan.

Jika kondisi ini dibiarkan, Muhammadiyah akan terjebak dalam paradoks: besar secara institusional tetapi keropos secara substansial.

Sejarah mencatat bahwa KH Ahmad Dahlan tidak hanya mendirikan gedung, melainkan membangun jiwa manusia melalui gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Bagi sang pendiri, AUM hanyalah sarana atau alat untuk dakwah dan pembinaan umat, sementara kader adalah jantung yang memompa semangat perjuangan tersebut.

Krisis kader harus dipandang sebagai alarm untuk melakukan transformasi besar-besaran dalam sistem kaderisasi.

Gedung megah bisa dibangun dalam sekejap dengan modal materi, namun membentuk kader militan memerlukan waktu bertahun-tahun melalui proses pembinaan ideologi, pengalaman lapangan, dan keteladanan pimpinan.

Muhammadiyah sebenarnya memiliki infrastruktur kaderisasi yang sangat mapan melalui Organisasi Otonom (Ortom).

Jalur ini dimulai dari IPM untuk pelajar, IMM untuk mahasiswa, hingga Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Jalur-jalur ini seharusnya menjadi kawah candradimuka untuk mencetak pemimpin masa depan.

Namun, realitanya kaderisasi seringkali terjebak dalam kegiatan seremonial belaka.

Pelatihan dilakukan, namun pendampingan pasca-pelatihan sering kali menguap begitu saja.

Untuk mengatasi stagnasi ini, setiap unit Amal Usaha harus direposisi fungsinya.

AUM tidak wajar jika hanya menjadi tempat pelayanan publik.

Tetapi harus menjadi pusat laboratorium pembinaan kader.

Guru, perawat, dan karyawan AUM perlu didorong untuk tidak sekadar bekerja, tetapi menjadi aktor dakwah yang memahami nilai-nilai Muhammadiyah.

Selain itu, pimpinan di semua tingkatan harus memiliki keberanian untuk memberikan ruang strategis bagi kader muda.

Regenerasi yang sehat adalah kunci bagi organisasi yang dinamis.

Tanpa adanya kepercayaan kepada generasi muda untuk memimpin dan berinovasi, organisasi sebesar Muhammadiyah akan kehilangan relevansinya di tengah perubahan zaman yang serba cepat.

Merawat Harapan Masa Depan

Pada akhirnya, masa depan Muhammadiyah tidak ditentukan oleh seberapa luas tanah yang dimiliki atau seberapa megah gedung yang dibangun.

Keberlanjutan gerakan ini bergantung sepenuhnya pada kualitas kader yang menghidupinya.

Kader yang dimaksud bukanlah mereka yang sekadar “numpang hidup” di Muhammadiyah, melainkan mereka yang siap menghidup-hidupi Muhammadiyah dengan semangat keilmuan dan pengabdian.

Jika proses kaderisasi dirawat dengan kesungguhan dan ketulusan, maka krisis yang dikhawatirkan hari ini akan berubah menjadi momentum kebangkitan besar.

Muhammadiyah akan tetap bercahaya, bukan karena kilau bangunan fisiknya, tetapi karena pancaran semangat dakwah para kadernya yang terus bergerak demi kemajuan peradaban.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu