Senin pagi, 5 Oktober 2026, menjelang turun di Stasiun Kereta Api Kediri, saya melihat sebuah pemandangan yang sering kita jumpai, termasuk di stasiun: suasana orang-orang yang sedang antre.
Duh, sudah adakah pelajaran besar yang kita serap dari “peristiwa kecil” itu?
Antre, hanya lima huruf. Namun, kata ini tidak sederhana. Ada kedalaman rasa dan pelajaran di sana.
Misalnya, belajar menekan ego untuk tahu diri akan posisi. Belajar sabar untuk tidak mendahului hak orang lain. Belajar memanfaatkan waktu saat menunggu agar bisa mengusir bosan dan mendapatkan manfaat.
Antre!
Saya banyak belajar saat kunjungan lapangan di Jepang, negara ihsan yang minim iman. Penduduknya superdisiplin dan tertib, pantang melanggar, apalagi merampas hak orang lain.
Antre adalah sebuah pendidikan yang harus dinarasikan dan diajarkan dengan baik agar kita mengerti bahwa sejatinya kita semua sedang ANTRE MENUJU TUHANNYA.
Antre menuju kematian.
Antre untuk dipanggil satu per satu, tidak bisa menyerobot, tidak bisa diwakilkan.
Lalu, di ujung antrean itu, akan dibacakan lembaran catatan kita. Di titik ini kita ingat bahwa Allah berfirman yang terjemahnya adalah:
“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghisab atas dirimu” (QS Al-Isra’ 14).
Di dunia kita antre kereta, antre makan, antre masuk. Jika terlambat sedikit, kita gelisah.
Maka, bagaimana dengan antrean kita menuju Allah?
Sudahkah kita isi waktu menunggu ini dengan amal yang membuat lembaran kita layak dibaca?
Karena di sana nanti, tidak ada lagi waktu untuk berbenah. Hal yang ada hanya membaca ulang apa yang sudah kita tulis di dunia.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang tersenyum saat tiba giliran membaca kitabnya.
Mudah-mudahan, Allah membimbing kita di semua proses antre, terutama dalam konteks antre mati.





0 Tanggapan
Empty Comments