Arsyadany Ghana Akmalaputri, 43 tahun, tidak pernah membayangkan keputusan masa mudanya untuk menekuni teknik elektro akan mengantarnya ke salah satu kursi terpenting di perusahaan listrik terbesar di Indonesia.
Ketika kakak-kakaknya menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri di Semarang, dia justru memilih Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Pilihan itu, yang awalnya terasa sederhana, berubah menjadi gerbang karier besar yang menuntunnya menjadi Direktur Distribusi termuda dan perempuan pertama dalam sejarah PLN.
“Semua kakak saya kuliah di Semarang. Saya sendiri kuliah di UMS,” tutur perempuan yang akrab disapa Arsya itu saat ditemui pada akhir Oktober lalu.
Bungsu dari tiga bersaudara ini mengingat bagaimana ayahnya dulu mendorongnya mengambil jurusan kedokteran—sebuah profesi yang menurut sang ayah ideal bagi perempuan: mampu mengurus rumah, mendidik anak, sekaligus bekerja. Tetapi Arsya mengetahui sejak awal bahwa dunia medis bukanlah panggilannya.
“Kedokteran itu bukan passion saya,” kenangnya.
Melihat penolakannya, kedua orang tuanya kemudian mengarahkan ia memilih jurusan Teknik Elektro.
“Kalau mau teknik, ya teknik elektro saja,” ucapnya menirukan ayahnya. Sebuah kalimat yang kelak menjadi langkah penting pembentuk masa depannya.
Memasuki tahun 2000, saat Indonesia memasuki milenium baru, Arsya mulai belajar tentang arus kuat, bidang teknik yang mengkaji sistem listrik bertegangan tinggi seperti pembangkit, transmisi, distribusi, dan sistem tenaga listrik nasional. Ketertarikan inilah yang mengantarnya menuju dunia kelistrikan yang sesungguhnya.
Menembus PLN Lewat Delapan Tahap Seleksi
Setelah lulus pada 2004, Arsya memberanikan diri mengikuti seleksi kerja di Perusahaan Listrik Negara. Prosesnya sangat panjang: delapan tahapan tes, ditempuh dengan bolak-balik Solo–Surabaya.
“Awalnya ramai-ramai berangkat sama teman-teman. Setiap naik tahap, berkurang terus yang lolos. Sampai terakhir wawancara itu tinggal saya dan teman saya, Nur Seto,” ujarnya.
Arsya akhirnya lolos dan resmi menjadi pegawai PLN pada 2005. Dari situlah perjalanan profesionalnya dimulai.
Selama dua dekade, Arsya menempati berbagai posisi strategis: supervisor teknologi informasi, asisten manajer SCADA, asisten manajer perencanaan, manajer area pengatur distribusi Jawa Tengah dan Jawa Timur, hingga senior manajer perencanaan.
Tahun 2020 menjadi titik loncatan ketika ia dipercaya sebagai Vice President Komunikasi PLN—juru bicara perusahaan yang bertugas menjaga citra dan hubungan dengan publik.
Setahun kemudian, ia diangkat menjadi Executive Vice President (EVP) Umum dan Aset Properti serta merangkap EVP Stakeholder Management dan Board of Director Support PLN—satu tingkat di bawah direktur.
Saat itulah ia melahirkan inovasi besar: New E-Arsip, sebuah aplikasi digital berbasis artificial intelligence dan optical character recognition yang merevolusi sistem pengelolaan dokumen di PLN.
Di luar pekerjaan, Arsya adalah sosok multitalenta. Ia aktif di berbagai organisasi energi dan teknologi, mulai dari Sekretaris Eksekutif Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia hingga Sekretaris Jenderal Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia.
Ia juga memimpin tim voli Jakarta Electric PLN serta terlibat dalam Komunitas Srikandi BUMN.
Kiprahnya di berbagai lini membuat namanya semakin diperhitungkan. Puncaknya, pada RUPS Luar Biasa PLN bulan Juni 2025, Arsya ditetapkan sebagai Direktur Distribusi PLN, menjadikannya direktur perempuan termuda dalam sejarah 78 tahun PLN.
“Saya selalu berdoa ingin menjadi orang yang bermanfaat,” ujarnya lirih.
Mengemban tugas sebagai Direktur Distribusi berarti mengawal jantung layanan PLN—mendistribusikan listrik untuk lebih dari 90 juta pelanggan di Nusantara.
Namun tantangannya besar. Hingga kini, terdapat 10.068 titik di Indonesia yang belum teraliri listrik. Sebagian besar berada di wilayah-wilayah terpencil di luar Jawa—area yang terpisah oleh sungai, pegunungan, hingga pulau-pulau kecil.
“Papua Pegunungan itu effort-nya luar biasa,” kata Arsya.
Bahkan di Pulau Jawa yang dikenal surplus energi, masih terdapat daerah-daerah yang belum menikmati listrik.
Target besar pun dicanangkan: Indonesia 100 persen berlistrik dalam empat tahun ke depan, sesuai mandat Presiden Prabowo.
“Insya Allah empat tahun ke depan seluruh Indonesia sudah terang,” tekadnya.
Tetap Menjadi Insan Muhammadiyah
Meski kini berada di jabatan tinggi, identitasnya sebagai alumni UMS dan insan Muhammadiyah tidak pernah pudar.
Ia masih aktif berkomunikasi dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir dan kerap mendorong peningkatan kualitas laboratorium di kampus-kampus Muhammadiyah.
“Era ini sudah digitalisasi. Inovasi cepat sekali,” ujarnya.
Pada peringatan Milad ke-67 UMS, 24 Oktober 2025, Arsya kembali ke kampus almamaternya. Di hadapan civitas academica, ia menyerahkan fasilitas Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan mini RTU SCADA untuk laboratorium Teknik Elektro.
Fasilitas tersebut akan membantu mahasiswa memahami teknologi kelistrikan terkini, termasuk smart grid, advanced metering infrastructure, hingga virtual power plant.
“Perguruan tinggi harus menjadi laboratorium inovasi energi nasional,” tegasnya.
Dalam dirinya, menyatu kecerdasan teknis, ketangguhan mental, empati sosial, serta kepedulian pada akar pendidikan yang membesarkannya. Dari ruang kelas Teknik Elektro UMS hingga ruang rapat direksi PLN, perjalanan Arsya adalah kisah tentang keberanian memilih jalan sendiri—dan konsistensi untuk terus bermanfaat bagi sesama.
Ia kini memegang tanggung jawab besar: memastikan setiap sudut Nusantara mendapatkan cahaya. Cahaya listrik, juga cahaya harapan.
Dan di setiap langkahnya, ia selalu mengingat satu doa sederhana: menjadi manusia yang memberi manfaat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments