Pagi itu, suasana Penerimaan Santri Baru (PSB) 2026–2027 di Pondok Pesantren Al-Ishlah, Sendangagung, Paciran, Lamongan, terasa berbeda. Di antara para orang tua yang datang mengantarkan anaknya, terselip satu benang merah yang menarik: banyak di antara mereka adalah alumni pesantren yang sama.
Fenomena ini kerap digambarkan dengan peribahasa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Alumni yang dulu pernah menimba ilmu di Al-Ishlah, kini kembali—bukan sebagai santri, melainkan sebagai orang tua yang mempercayakan pendidikan anak-anak mereka di tempat yang sama.
Ikatan Keluarga Ponpes Al-Ishlah (IKPI) menjadi salah satu penguat fenomena tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, peran IKPI semakin terasa, tidak hanya dalam menjaga silaturahmi antaralumni, tetapi juga dalam mengenalkan kembali kualitas pendidikan pesantren kepada generasi berikutnya.
Sof Fahruddin, salah satu Dewan Pembina IKPI, membenarkan kecenderungan tersebut. Ia menyebut banyak alumni yang tetap percaya pada almamaternya karena adanya ikatan emosional dan keyakinan terhadap kualitas pendidikan yang diberikan.
“Fenomena ini menarik. Banyak alumni yang menyekolahkan anaknya di Al-Ishlah karena adanya ikatan kekeluargaan dan kepercayaan. Istilahnya, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” ujarnya saat ditemui di lokasi PSB, Senin (30/3/2026).
Pengalaman pribadi Sof Fahruddin juga mencerminkan hal itu. Ia telah menyekolahkan beberapa anaknya di Al-Ishlah. Dari anak pertama yang telah lulus, hingga kini kembali mendaftarkan anak keempatnya. Baginya, Al-Ishlah bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang pembentukan karakter.
Cerita serupa datang dari Erma Oktavi Rohmah, alumni angkatan 1995 asal Sidokelar, Paciran. Ia mendaftarkan anak bungsunya ke MA Al-Ishlah dengan harapan sang anak dapat memperdalam ilmu agama, menguasai bahasa asing, sekaligus membentuk kedisiplinan hidup.
“Saya ingin anak saya memiliki karakter islami, mandiri, dan lebih siap menjalani kehidupan ke depan,” ungkapnya. Ia juga berharap lingkungan pesantren mampu membentuk kemandirian anaknya yang masih tergolong manja.
Sementara itu, Ahmad Faried Asshidiqie, Ketua Bidang Pendidikan IKPI, turut mengikuti jejak yang sama. Ia mendaftarkan anak pertamanya ke Al-Ishlah, melanjutkan tradisi keluarga yang telah lebih dulu mengenal kehidupan pesantren.
Baginya, ada ketenangan batin tersendiri saat mempercayakan pendidikan anak di tempat yang pernah membentuk dirinya. Lingkungan pesantren, dengan nilai keikhlasan yang diajarkan para kiai dan guru, menjadi alasan utama.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap lembaga pendidikan tidak hanya dibangun dari reputasi, tetapi juga dari pengalaman personal yang berkesan. Bagi para alumni Al-Ishlah, pesantren bukan sekadar masa lalu, melainkan warisan nilai yang ingin terus hidup dalam generasi berikutnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments