Ahad (10/5/2026), suasana wisuda terpadu Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran tahun ini bukan hanya dipenuhi senyum kebahagiaan para wisudawan.
Di balik toga hitam dan medali yang menggantung di dada, ada momen haru yang membekas dalam ingatan siswa kelas 12 ATCP Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Karangasem (Mamsaka) Paciran.
Di tengah rangkaian acara, para siswa memberikan kejutan spesial kepada wali kelas mereka, Ustadz Riski. Sosok yang selama dua tahun terakhir mendampingi perjalanan mereka itu tampak tak kuasa menyembunyikan rasa haru ketika menerima berbagai hadiah sederhana namun penuh makna.
Bukan hadiah mewah yang diberikan. Namun, justru dari kesederhanaan itulah tersimpan kenangan yang begitu dalam.
Para siswa menyerahkan sebuah kolase foto berisi perjalanan kebersamaan mereka selama di kelas. Foto-foto itu merekam banyak momen; mulai kegiatan belajar, kebersamaan di kelas, hingga aktivitas sederhana yang selama ini mungkin terasa biasa, tapi kini berubah menjadi kenangan berharga.
Di bagian bawah kolase tertulis ucapan terima kasih yang menyentuh hati. Kalimat sederhana itu menjadi bentuk penghormatan siswa kepada guru yang selama ini mereka anggap bukan hanya pengajar, melainkan juga orang tua kedua di sekolah.
Selain kolase foto, para siswa juga memberikan hadiah berupa gamis dan sebuah kaligrafi bertuliskan nama Ustadz Riski.
Kaligrafi tersebut tampak dibuat dengan nuansa elegan dan penuh penghormatan. Sementara jubah yang diberikan menjadi simbol penghargaan atas keteladanan dan dedikasi beliau selama mendampingi mereka.
Momen penyerahan hadiah berlangsung hangat. Para siswa tampak bergantian mengabadikan foto bersama.
Senyum dan tawa menghiasi wajah mereka, meski di balik itu terselip kesedihan karena harus berpisah setelah dua tahun bersama dalam satu perjalanan.
Selama menjadi wali kelas 12 ATCP, Ustadz Riski dikenal dekat dengan para siswa. Tidak hanya hadir saat proses pembelajaran berlangsung, beliau juga sering mendampingi berbagai aktivitas siswa di luar kelas. Sikap sabar dan perhatian itulah yang membuat kedekatan antara guru dan siswa terjalin begitu erat.
Bagi para siswa, dua tahun terakhir bukan sekadar masa belajar di ruang kelas. Ada banyak cerita yang tumbuh bersama; tentang perjuangan menghadapi tugas, persiapan ujian, kegiatan pondok, hingga berbagai dinamika yang mereka lalui sebagai satu keluarga kelas.
Karena itu, perpisahan kali ini terasa berbeda. Mereka ingin meninggalkan sesuatu yang dapat dikenang oleh wali kelas mereka di kemudian hari.
Hadiah yang diberikan bukan hanya benda, tetapi juga simbol rasa terima kasih atas waktu, tenaga, dan kesabaran yang telah diberikan selama ini.
Di tengah hiruk-pikuk wisuda dan ramainya sesi foto, momen kecil antara wali kelas dan siswa itu justru menjadi salah satu bagian paling hangat.
Sebab pada akhirnya, sekolah bukan hanya tentang nilai dan pelajaran, melainkan juga tentang hubungan manusia yang tumbuh dari kebersamaan.
Perpisahan memang tidak pernah benar-benar mudah. Namun kenangan baik selalu memiliki cara untuk tetap hidup. Dan bagi siswa kelas 12 ATCP Mamsaka, Ustadz Riski akan selalu menjadi bagian penting dari cerita masa putih abu-abu mereka.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments