Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Membedah Pesona Puncak Sejati Gunung Raung 3344 Mdpl

Iklan Landscape Smamda
Membedah Pesona Puncak Sejati Gunung Raung 3344 Mdpl
Membedah Pesona Puncak Sejati Gunung Raung 3344 Mdpl
Oleh : Retno Kuntjorowati

“………..Gunung tidak pernah bertanya siapakah yang datang, tetapi selalu memberi pelajaran kepada siapapun yang berani melangkah bertamu kepadanya……….”

Prof. Imam Robandi, guru besar ITS sekaligus founder IRo-Society (sebuah komunitas ‘belajar’ yang membernya tersebar di pelosok Nusantara), tidak pernah kehabisan ide untuk bahan belajar para santrinya. Kali ini melalui agenda rutin IRo-Society yaitu Kajian Spesial Jum’at Malam (KSJM) ke-318 pada Jum’at, 8 Mei 2026, topiknya adalah pengalaman Ustadz Edi Purnomo, guru SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Surabaya yang memiliki hobi ‘muncak’ (mendaki gunung), dan telah berhasil menaklukkan Gunung Raung dengan ketinggian 3344 mdpl.

Menurut Prof. Imam, ini adalah hal yang luar biasa membanggakan Indonesia, karena sangat jarang ustadz yang mempunyai keinginan mendaki gunung, memasuki alam yang oksigennya sangat sedikit, dan sukses. Ucapan selamat juga disampaikan kepada Ustadz Edi atas keberhasilannya dapat mencapai Puncak Sejati, yang merupakan puncak tertinggi dari Gunung Raung (3344 mdpl). Ini adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Tidak semua orang mampu mempunyai tekad untuk naik karena memang tingkat keberbahayaannya sangat tinggi, sehingga tidak banyak orang yang mempunyai ‘nyali’ untuk mendaki.

Ustadz Munali selaku OC menyampaikan bahwa menceritakan pengalaman mendaki adalah berbagi kebahagiaan, karena berhasil mencapai puncak merupakan suatu kebahagiaan. Jika ‘sumpek’ dengan aktivitas sehari-hari maka mendaki gunung akan merasa bahagia meskipun belum mencapai puncak. Gunung Raung termasuk tujuh gunung di Pulau Jawa yang mempunyai tingkat risiko tinggi, sehingga tidak banyak orang yang mempunyai ‘nyali’ untuk mendaki. Harapan pemaparan ini adalah semoga semangat Ustadz Edi dapat menular kepada yang lain untuk bertekad dan berani mendaki, meskipun belum setinggi Gunung Raung yang terletak di perbatasan Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember.

Ustadz Edi Purnomo memulai dengan menyampaikan bahwa gunung adalah guru yang diam, sebagaimana tertera pada QS An-Naba (78): 6-7, “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?” dan QS An-Naziat (79): 32, “Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh.” Ayat-ayat di atas ditafsirkan bahwa gunung bertindak sebagai penstabil (pasak) bagi kerak bumi, memberikan ketenangan dan pelajaran tentang kekokohan.

Ide mendaki Gunung Raung ini muncul saat Ustadz Edi mendaki Gunung Ijen (terletak di perbatasan Banyuwangi–Bondowoso) yang kedua kali pada Pebruari 2025 dan berhasil menyaksikan blue fire (api berwarna biru yang muncul dari pembakaran gas belerang di kawah Ijen). Pada pendakian pertama ke Gunung Ijen, Ustadz Edi belum berhasil melihat blue fire karena terlambat.

Pada pendakian kedua, Ustadz Edi bertemu dengan seseorang yang menyapanya dan menanyakan apakah ia akan mendaki. Hal itu karena melihat perlengkapan pendakian yang dibawa. Kemudian orang tersebut bercerita tentang pasangan suami istri yang pergi mendaki Gunung Raung, padahal sang suami baru pulih dari kecelakaan yang mengakibatkan kakinya cedera. Dari sini muncul keinginan Ustadz Edi untuk mendaki Gunung Raung, setelah sebelumnya mempelajari pengetahuan tentang karakteristik Gunung Raung.

Beberapa bulan kemudian Ustadz Edi mewujudkan keinginannya untuk mendaki Gunung Raung. Ia bergabung dengan empat orang lainnya dan mengikuti program open trip Alas Raung. Pada tanggal 30 Oktober 2025 berkumpul di base camp Alas Raung untuk memulai pendakian menuju puncak yang akan melewati sembilan pos.

Pos 1 sampai pos 7 ditempuh dari pagi hingga sore hari. Rute pendakian ini berbeda dengan Gunung Rinjani yang memiliki banyak panorama alam indah dan beberapa jalur pendakian. Sedangkan pendakian ke puncak Gunung Raung hanya memiliki satu jalur yang sangat ekstrem. Jika lengah sedikit atau konsentrasi kurang optimal, maka akan sangat berbahaya bagi pendaki.

Pos 1 berada pada ketinggian 1100 mdpl. Pos 1 sampai pos 9 berupa vegetasi pepohonan yang rapat dan tinggi sehingga saat sore hari medan sudah tampak gelap. Perjalanan dari pos 2 sampai pos 5 berlangsung dalam kondisi hujan sehingga diperlukan ketelitian dan kewaspadaan tinggi. Lengah sedikit dapat mengakibatkan terpeleset atau bahkan terjatuh.

Pukul 17.30 tim sampai di pos 7 dengan ketinggian 2541 mdpl. Menurut Prof. Imam, ini sama dengan ketinggian Gunung Prau di dataran tinggi Dieng. Ustadz Edi dan tim menginap semalam di pos 7 yang merupakan base camp.

Pada pukul 00.30 dini hari tanggal 1 Nopember 2025, perjalanan menuju pos 8 dimulai dan dicapai dalam waktu sekitar satu jam. Di pos 8 semua pendaki diberi peralatan climbing. Setelah itu pendakian dilanjutkan menuju pos 9 mendekati waktu subuh. Medan yang dilalui masih berupa vegetasi. Pos 9 ditempuh sekitar 2,5 jam.

Pos 9 merupakan batas vegetasi. Yang tampak adalah kawah-kawah dan dataran yang digunakan untuk pengambilan foto. Dataran ini cukup luas dan dipasang bendera merah putih sehingga disebut Puncak Bendera dengan ketinggian 2800 mdpl.

Setelah melewati pos 9 dan kawah-kawah, pendaki sudah tidak dapat mengambil foto karena harus fokus pada medan yang sangat ekstrem.

Di Puncak Bendera ini vegetasi sudah tidak ada. Yang tampak adalah jalan setapak menanjak yang di kanan kiri berupa jurang, semacam bentuk ‘punggung naga’ atau menurut Prof. Imam disebut “geger boyo” atau punggung buaya. Karena jalurnya sempit dan membahayakan, orang-orang menyebutnya “jembatan shiratal mustaqim”.

Setelah melewati jalur tersebut, pendakian dilanjutkan dengan cara panjat tebing menggunakan peralatan yang telah disiapkan. Pendaki harus lebih waspada dan berhati-hati karena jika tidak, risikonya sangat fatal.

SMPM 5 Pucang SBY

Setelah melewati jalur panjat tebing dengan bantuan tali-tali pengaman, pendaki turun sedikit untuk menuju Puncak Sejati dengan mengitari tebing berbatu yang memiliki pijakan menonjol. Tempat tersebut dinamakan Puncak Tusuk Gigi yang letaknya bersebelahan dengan Puncak Sejati.

Akhirnya pada pukul 07.30 Ustadz Edi berhasil mencapai Puncak Sejati dengan ketinggian 3344 mdpl. Saat sampai di sana sudah ada beberapa rombongan pendaki lain. Di tempat ini para pendaki dapat mengambil foto karena areanya cukup luas. Namun pendaki hanya diizinkan berada di puncak sekitar 45 menit karena angin sangat kencang dan untuk menghindari hypothermia.

Menurut Ustadz Edi, perjalanan turun justru lebih berat dan lebih menakutkan dibandingkan saat mendaki. Meskipun demikian, semua pendaki yang berani naik harus berani turun. Karena itu, kewaspadaan dan kehati-hatian harus lebih ditingkatkan, terutama karena semilir angin yang sejuk dapat memicu rasa kantuk.

Ditambah lagi hujan turun pada sore hari sehingga jalanan menjadi licin dan terdapat pohon tumbang akibat hujan. Ada petugas dari tim atas dan bawah yang berkomunikasi menggunakan HT untuk mengatur jalur karena hanya ada satu jalur untuk naik dan turun. Tidak boleh dalam waktu bersamaan ada pendaki yang naik dan turun.

Menurut Ustadz Edi, di titik panjat tebing sudah terpasang tali-tali untuk membantu pendakian. Sungguh luar biasa keberanian orang-orang yang memasang peralatan tersebut di medan seekstrem itu.

Ketika ditanya apakah masih bisa tersenyum saat turun karena medan lebih berat, Ustadz Edi menjawab bahwa ia terus tersenyum. Saat mencapai puncak ia bersyukur karena Allah mengizinkannya mencapai Puncak Sejati Gunung Raung. Saat turun pun ia tetap tersenyum karena impiannya untuk muncak ke Gunung Raung telah terlaksana.

Di Puncak Tusuk Gigi terdapat batu berbentuk segitiga yang harus dilewati dengan cara meloncat. Pukul 08.00 rombongan turun menuju pos 7 setelah sebelumnya beres-beres dan membersihkan sampah. Ada aturan bahwa sampah tidak boleh ditinggalkan di gunung dan harus dibawa turun.

Sekitar pukul 10.00 rombongan sudah sampai di pos 7. Setelah berkemas dan makan, sekitar pukul 11.00 rombongan turun menuju base camp.

Tentang makanan dan bekal untuk muncak, menurut Ustadz Edi menu andalan adalah roti sisir. Selain itu air menjadi kebutuhan yang sangat penting karena di gunung tidak ada sumber air.

Pukul 15.30 rombongan sampai di base camp, kemudian Ustadz Edi langsung menuju stasiun untuk kembali ke Surabaya dengan kereta yang berangkat pukul 17.30.

Sesi diskusi menjadi sangat menarik karena banyak partisipan tertarik dengan keberhasilan pendakian Gunung Raung oleh Ustadz Edi. Ia menyampaikan bahwa sampai Nopember 2025, menurut informasi, belum ada “bule” yang mendaki Gunung Raung. Berbeda dengan Gunung Rinjani yang banyak didatangi wisatawan asing.

Hal ini karena wisatawan asing lebih suka menikmati panorama indah, sedangkan Gunung Raung terlalu ekstrem sehingga membutuhkan persiapan maksimal. Mereka lebih cenderung mendaki untuk menikmati kenyamanan sehingga kurang tertarik dengan medan ekstrem Gunung Raung.

Di akhir diskusi, Ustadz Edi menyampaikan bahwa mendaki gunung adalah bentuk syukur atas kuasa Allah. Adapun dapat mencapai puncak hanyalah bonus. Selain itu, mendaki gunung juga menjadi sarana belajar dunia meta, belajar rendah hati, tidak sombong, serta “bisa merasa, bukan merasa bisa”.

Prof. Imam menambahkan bahwa mendaki gunung adalah aktivitas berisiko tinggi sehingga orang yang mendaki gunung cenderung memiliki mental kuat. Nilai-nilai baik banyak dititipkan kepada orang-orang yang mendaki gunung. Di gunung sinyal handphone mungkin hilang, tetapi hati justru menjadi tenang.

Revisi Oleh:
  • Satria - 11/05/2026 00:02
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡