Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Diah Arfianti Ubah Kenangan Lapar Menjadi Gerakan Makan Gratis

Iklan Landscape Smamda
Diah Arfianti Ubah Kenangan Lapar Menjadi Gerakan Makan Gratis
Diah Arfianto (dua dari kri) ikut terjun dalam kegiatan makan gratis di Jalan Arjuno, Surabaya. Foto: Istimewa/PWMU.CO
Oleh : Agus Wahyudi

Sore itu, di kawasan Jalan Arjuna, Surabaya, aroma nasi hangat bercampur sayur tumis dan lauk rumahan menyeruak dari deretan meja sederhana di depan sebuah rumah.

Orang-orang datang perlahan. Ada pengemudi ojek online yang baru selesai menarik penumpang, pekerja serabutan dengan wajah lelah, pemulung, hingga beberapa lansia yang berjalan pelan sambil membawa kantong plastik.

Di teras rumah itu, mereka duduk berdampingan. Tidak ada sekat. Tidak ada pertanyaan siapa mereka dan dari mana asalnya. Yang ada hanya sepiring makanan hangat dan sapaan tulus.

Di sudut teras, seorang perempuan sibuk memastikan nasi cukup untuk semua orang. Sesekali ia tersenyum sambil membantu membagikan lauk. Perempuan itu adalah Diah Arfianti, owner Diah Cookies, yang sejak April 2026, rutin menggelar makan gratis setiap hari Selasa.

Diah Arfianti dikenal sebagai pelaku UMKM sukses dengan produk kue kering yang memiliki pasar luas. Produknya tidak hanya dikenal di Jawa Timur, tetapi juga menembus pasar nasional hingga mancanegara.

Diah Arfianti Ubah Kenangan Lapar Menjadi Gerakan Makan Gratis
Pemberian makan gratis yang diserbuwarga sekitar. Foto: Istimewa/PWMU.CO

Usaha tersebut dirintis sejak 2001 bersama sang suami, Mochammad Rofik. Rofik, pria sederhana yang tumbuh dari keluarga aktif di lingkungan Muhammadiyah Sidoarjo, bersama Diah membangun usaha itu perlahan dari nol hingga berkembang seperti sekarang.

Bagi banyak orang, kegiatan itu mungkin hanya berbagi makanan. Namun bagi Diah, setiap piring yang dibagikan membawa ingatan lama yang tidak pernah benar-benar hilang: rasa lapar di jalanan.

“Selasa kemarin itu sudah keempat kalinya. Minggu depan insya Allah yang kelima,” tuturnya kepada PWMU.CO, Jumat (8/5/2026).

Ia lalu mengingat masa-masa ketika dirinya dan sang suami masih berjuang membangun usaha kue dari nol. Kala itu, mereka mengantar pesanan sendiri ke rumah pelanggan demi menghemat ongkos kirim.

Perjalanan bisa sangat panjang. Dari Surabaya Barat menuju Kenjeran, lalu berputar lagi ke berbagai titik kota. Semua dilakukan sendiri, hanya agar dagangan tetap laku.

Di tengah perjalanan itu, rasa lapar sering datang. “Aduh, luwi rek nang ndalan,” kenangnya sambil tersenyum kecil.

Namun makan saat itu terasa seperti kemewahan. Bahkan uang Rp 20 ribu untuk membeli bakso berdua terasa terlalu berharga untuk dikeluarkan.

“Mau makan tuh mikir. Sayang uangnya. Saya pikir, enggak usah lah, kita tahan saja laparnya sampai pulang,” katanya.

Mereka akhirnya memilih menahan lapar hingga tiba di rumah dan makan makanan seadanya yang sudah dimasak sebelumnya.

“Tapi rasanya itu perih. Perut lapar di jalan,” ujarnya.

Kenangan itulah yang diam-diam tinggal lama di hati Diah. Ia pernah berjanji pada dirinya sendiri: jika suatu hari diberi rezeki lebih, ia ingin memberi makan orang-orang yang mungkin mengalami hal yang sama.

***

Kini, ketika usahanya mulai membaik, nazar kecil itu akhirnya terwujud.

Program makan gratis itu digelar di Jalan Arjuna, tepat di depan NC Club Herbalife tempat Diah biasa berkegiatan. Sejak lama ia sebenarnya sudah memikirkan tempat yang cocok untuk berbagi makanan.

Ia lalu memberanikan diri berbicara kepada pemilik rumah, seorang perempuan bernama Mbak Fitri.

“Mbak, saya punya niat dari dulu ingin bikin makan gratis. Boleh enggak orang-orang makan di teras sini?” tanyanya waktu itu.

Diah Arfianti Ubah Kenangan Lapar Menjadi Gerakan Makan Gratis
Masyarakat berbagai profesi ikut menikmati makan gratis. Foto: Istimewa/PWMU.CO

Di luar dugaan, izin langsung diberikan. Bahkan pada Selasa berikutnya, kegiatan makan gratis itu langsung berjalan.

Diah sengaja memilih hari Selasa, bukan Jumat seperti kebanyakan kegiatan sedekah makanan.

“Kalau Jumat sudah banyak Jumat berkah. Jadi saya ambil hari Selasa,” katanya.

Awalnya semua ia tanggung sendiri. Ia tidak ingin kegiatan itu menjadi rumit atau berubah menjadi proyek bersama yang berpotensi menimbulkan persoalan.

SMPM 5 Pucang SBY

“Saya maunya sederhana saja. Ini niat lama saya,” ujarnya.

Pada pekan pertama, ia menyiapkan sekitar 100 porsi makanan dengan biaya pribadi. Namun perlahan, kabar tentang kegiatan itu menyebar dari mulut ke mulut dan grup WhatsApp.

Teman-temannya mulai datang menawarkan bantuan. Ada yang ingin ikut berdonasi uang Rp 500 ribu untuk 50 porsi makanan. Namun Diah merasa tidak nyaman menerima uang tunai.

“Saya takut jadi suudzon atau malah seperti proyek,” katanya jujur.

Akhirnya ia memilih sistem sederhana: tidak menerima donasi uang, tetapi menerima tambahan menu secara langsung.

Dan dari situlah gotong royong kecil itu tumbuh dengan alami. Satu teman menawarkan kerupuk setiap minggu. Yang lain membawa mie. Ada yang memasakkan ayam kecap.

Ada yang rutin menyumbang 10 kilogram beras. Ada pula yang menawarkan gorengan, buah, es batu, hingga wadah makanan.

Tidak ada rapat. Tidak ada kepanitiaan resmi. Tidak ada proposal. Semuanya berjalan spontan melalui percakapan sederhana di WhatsApp.

“Nanti Selasa menunya apa?”
“Oh ada ayam kecap.”
“Ya sudah, aku tambahin gorengan.”

Begitu terus setiap minggu.

***

Karena dukungan itulah, jumlah porsi yang awalnya hanya 100 kini meningkat menjadi 200 porsi.

Di tengah kesibukan membagi makanan, Diah mengaku justru merasa dirinya yang menerima banyak hal.

“Sebenarnya bukan saya yang memberi, tapi saya yang diberi,” katanya lirih.

Ia mengaku ada rasa haru yang sulit dijelaskan setiap melihat orang-orang menerima makanan dengan wajah tulus.

Ada yang berkali-kali mengucapkan terima kasih. Ada yang mendoakan panjang umur dan kelancaran rezeki. Ada pula yang hanya tersenyum sambil menggenggam piring hangat dengan mata berkaca-kaca.

“Itu rasanya nyes di hati,” ujarnya.

Diah Arfianti Ubah Kenangan Lapar Menjadi Gerakan Makan Gratis
Penyediaan makan gratis yang disambut antusias masyarakat. Foto: Istimewa/PWMU.CO

Bagi Diah, sepiring nasi ternyata bisa menjadi lebih dari sekadar makanan. Ia bisa menjadi pengingat bahwa pernah ada masa sulit yang membentuk empati.

Bahwa lapar membuat seseorang memahami arti kenyang. Dan bahwa rezeki terkadang menemukan jalannya sendiri untuk kembali kepada orang lain.

Kini setiap Selasa sore, teras kecil di Jalan Arjuna itu tidak hanya menjadi tempat makan gratis. Ia berubah menjadi ruang hangat tempat orang-orang asing saling mendoakan dalam kesederhanaan.

Saat ditanya sampai kapan program itu akan berlangsung, Diah tersenyum.

“Insya Allah seterusnya. Semoga Allah mudahkan.” (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 08/05/2026 10:44
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡