Kabar duka itu akhirnya datang juga. Baru dua pekan lalu kami masih menggalang dana untuk biaya pengobatan Bapak. Namun siang ini, Selasa, 5 Mei 2026, beliau berpulang meninggalkan kami semua.
Wagiman KS, sosok yang pernah mengabdikan diri sebagai Kepala Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep selama dua puluh tahun (1994–2014), kini telah tiada. Beliau wafat di usia 79 tahun, meninggalkan seorang istri tercinta, Sri Wahyuni, serta empat orang anak—dua laki-laki dan dua perempuan.
Kepergian beliau bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga jejak sejarah dan keteladanan yang tak akan pernah hilang.
Pejuang Sunyi dari Jogja ke Sumenep
Wagiman KS adalah seorang pejuang tanpa pamrih. Lahir di Yogyakarta, beliau datang ke Sumenep sebagai seorang PNS yang ditugaskan di daerah terpencil, tepatnya di Kecamatan Ambunten.
Di tanah pengabdian itulah beliau dipertemukan dengan jodohnya, Sri Wahyuni, yang kemudian menjadi teman seperjuangan dalam membina keluarga sekaligus mengasuh anak-anak panti.
Sebagai pribadi yang tumbuh dalam lingkungan Muhammadiyah, kehadiran beliau di Sumenep menjadi energi besar bagi gerakan dakwah. Dari Ambunten, beliau kemudian berpindah ke Kota Sumenep dan turut mengembangkan SMA Muhammadiyah 1 Sumenep.
Di sekolah itu, beliau dipercaya sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum, bekerja bersama tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya. Mereka adalah penggerak yang gigih dalam membesarkan Muhammadiyah hingga ke pelosok desa dan kepulauan.
Ayah bagi Anak-Anak Panti
Namun, bagi kami, beliau lebih dari sekadar guru atau aktivis. Beliau adalah segalanya.
Sejak tahun 1994, beliau mengemban amanah sebagai Kepala Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep—sebuah panti yang saat itu baru berdiri dengan segala keterbatasan.
Bersama istrinya, beliau merawat panti dari hanya empat anak, lalu berkembang menjadi enam, dua belas, hingga puluhan anak. Dengan penuh kesabaran dan keteguhan, beliau membesarkan panti menjadi tempat yang melahirkan generasi unggul.
Beliau dikenal tegas namun sangat sabar. Tidak pernah terdengar kata kasar dari lisannya. Disiplin, tepat waktu, dan kerja keras adalah napas hidupnya.
Setiap hari beliau bangun pukul 03.00 pagi dan baru beristirahat sekitar pukul 23.00 malam.
Beliau tidak hanya memerintah—tetapi memberi teladan.
Saat kerja bakti, beliau ikut bekerja. Saat anak-anak belajar, beliau ikut mengajar. Siang hari mengajar di SMA Muhammadiyah 1 Sumenep, malam hari membina anak-anak panti.
Segala kebutuhan anak-anak dipikirkan: makanan, pakaian, hingga pendidikan.
Beliau memastikan setiap anak memiliki masa depan.
Buah dari Kesabaran dan Keikhlasan
Dari tangan beliau, lahir anak-anak yang dahulu yatim, miskin, dan terlantar—menjadi pribadi yang berhasil.
Banyak di antara mereka yang menjadi guru, PNS, pegawai KUA, bahkan dosen.
Sebagian melanjutkan pendidikan hingga S1, S2, bahkan doktor, termasuk di luar negeri.
Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep yang beliau kelola bahkan pernah melahirkan tokoh nasional—seorang Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.
Itu bukan kebetulan. Itu adalah hasil dari ketekunan, keikhlasan, dan cinta yang beliau tanamkan setiap hari.
Setelah pensiun, beliau kembali ke kampung halamannya di Yogyakarta. Namun karena anak-anaknya berada di luar pulau, khususnya di Lampung, beliau sering menghabiskan waktu bersama mereka di sana.
Takdir Allah berkata lain. Beliau wafat di Lampung, di dekat orang-orang tercinta.
Dua pekan lalu, kami sempat meminta beberapa teman untuk menjenguk beliau. Tidak pernah kami sangka, itulah pertemuan terakhir kami dengan Bapak.
Terima Kasih, Bapak
Kami semua adalah saksi.
Kami datang dari latar belakang yang sulit—yatim, miskin, bahkan terlantar. Kami bukan anak-anak yang mudah diatur.
Namun di tangan Bapak, kami berubah.
Kami dibimbing, diarahkan, dan dididik dengan kesabaran yang luar biasa.
Entah bagaimana hidup kami jika tidak bertemu dengan Bapak.
Selamat Jalan
Selamat jalan, Bapak kami.
Bapak bagi anak-anak miskin.
Bapak bagi anak-anak yatim.
Bapak bagi anak-anak yang terlantar.
Kami bersaksi, engkau adalah orang baik. Bahkan sangat baik.
Terima kasih atas segala jerih payah, cinta, dan pengorbanan yang telah engkau berikan.
Namamu akan selalu hidup dalam setiap langkah kami. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments