Malam itu gerimis tipis begitu kerasan mengidari kota Surabaya, Senin (27/04/2026). Dinginnya Surabaya tak mengurangi kehangatan diskusi. Sejak jam 20-an hingga dinihari, diskusi kali ini tentang arti Peneleh sebagai pusat pergerakan Islam awal abad XX.
Diskusi itu berlangsung di sebuah café anggung, berseberangan dengan Makam Belanda Peneleh. Tepatnya Café Lodji Besar, Jl. Makam Peneleh Nomor 46. Café ini dikenal dengan basecamp komunitas Begandring Soerabaia. Sebuah komunitas pecinta sejarah dan pegiat cagar budaya yang aktif di Surabaya hingga hari ini.
Malam itu, saya sebenarnya hanya mendampingi sang senior. Pemimpin Redaksi Utama PWMU.CO, Agus Wahyudi. Sementara narasumber yang ditemui kali ini adalah salah satu inisiator dan pendiri Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo. Kuncar, begitu kami biasanya memanggil.
Tema diskusi hangat malam itu sebenarnya tentang pikiran dan gerakan dari sosok yang bernama Tjokrosoedarmo. Salah satu sahabat HOS Tjokroaminoto dalam menggerakkan Syarikat Islam (SI) sebagai pelopor pergerakan Islam di Indonesia.
Lazimnya diskusi yang menguras pikiran karena temanya yang berat, tentu terselip diskusi ringan. Senyampang ketemu pakar arsip tempo dulu, saya pun ikut nimbrung.
“Sejarawan Ahmad Suryanegara pernah menulis bahwa logo SI sebelum berubah menjadi partai politik adalah banteng. Itu bagaimana ceritanya,” begitu saya menyela diskusi antar dua tokoh ini.
Lontaran itu langsung di-iya-kan oleh Kuncar. Simpulannya, sama dengan apa yang ditulis Ahmad Suryanegara dalam buku Api Sejarah. Dia pun langsung menunjukkan lambang SI yang telah disimpannya di handphone. Tentu saja dengan berbagai penjelasan ini dan itu.
Kesamaan Suryanegara dan Kuncar pun terekam senada saat logo ini digunakan oleh Soekarno saat mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927. Banteng tidak lagi dipakai SI sebagai lambangnya ketika berubah menjadi partai politik pada tahun 1923. SI memilih lambang bulan dan bintang.
Karena sudah tidak dipakai SI, Soekarno pun meminta izin kepada Tjokroaminoto untuk memakai banteng sebagai lambang PNI. Dan, diizinkan. Izin ini mudah didapat Soekarno karena kedekatannya dengan Tjokroaminoto. Selain sebagai murid ideologis, Soekarno sendiri pernah menjadi menantu dari Tjokroaminoto.
Yang membedakan versi Suryanegara dan Kuncar adalah siapa yang menggambar lambang banteng sebagai logo SI sejak 1917 itu. Suryanegara tidak pernah menyebut nama. Sementara Kuncar secara tegas mengatakan bahwa Soekarno-lah yang menggambar logo itu sebelum kemudian dipakai oleh SI dan Tjokroaminoto.
Sejak tahun 1927 saat PNI berdiri itulah, lambang banteng berubah Haluan. Awalnya, ia identik dengan kaum hijau, atau organisasi Islam. Tapi kemudian lebih identik dengan perkumpulan nasionalis, kaum merah. Bahkan hingga hari ini, banteng bukan lambang partai politik Islam.
Tentang Banteng Hijau ini, insyallah akan dibuat dalam tulisan tersendiri yang lebih serius.
Dokar Atau Sampan
Soal ringan lain yang kami bicarakan adalah transportasi yang digunakan KH Ahmad Dahlan saat mau ke Peneleh. Sejarah mencatat bahwa pendiri Muhammadiyah ini saat ke Surabaya naik kereta api dari Yogyakarta. Turunnya di stasiun kota. Stasiun Semut, lebih tepatnya.
Jarak stasiun Semut ke langgar Plampitan –tempat utama tabligh Kiai Dahlan–, yang hari ini dikenal dengan Masjid Plampitan, sekitar 2 kilometer. Pertanyaannya, bagaimana Kiai Dahlan ke Masjid Plampitan dari stasiun. Berjalan kaki, naik dokar, naik cikar, atau naik sampan/perahu?
Hipotesa tentang naik perahu/sampan ini saya dapatkan cerita dari Totok Wijayanto. Tokoh masyarakat Kecamatan Genteng yang aktif jamaah di Masjid Bahagia, juga keturunan asli Peneleh. Menurut cerita dari kakek dan buyutnya dulu, KH Dahlan naik perahu dari Stasiun Semut ke Peneleh melalui sungai Kalimas.
Cerita inipun menurut saya juga cukup masuk akal. Sebab, baik stasiun semut maupun Peneleh, adalah berlokasi tepat di pinggir sungai Kalimas. Sementara teknologi tahun 1915-an belum maju, sungai masih menjadi salah satu jalur transportasi.
Namun, pendapat ini ditolak oleh Kuncar. “Jalan kaki, naik cikar atau naik dokar. Stasiun Semut itu dekat kok, cuma di situ,” begitu katanya. Maklum, jarak 2 km, untuk zaman itu bukanlah jarak yang jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki.
Lebih daripada itu, pada tahun 1900-an, tambah Kuncar, kondisi jalan di kota Surabaya, yang hari ini masuk pusat kota –salah satunya Peneleh-, kondisi jalannya sudah beraspal. Moda kendaraan yang umum, selain sepeda angin, adalah cikar dan dokar.
Cikar adalah alat transportasi darat berupa gerobak kayu beroda dua, ditarik oleh sepasang sapi. Di beberapa daerah juga dikenal sebagai pedate. Sementara dokar adalah alat transportasi tradisional berupa gerobak beroda dua yang ditarik oleh satu ekor kuda.
Sepeda angin diabaikan sebagai alat transportasi Kiai Dahlan dari stasiun semut ke Peneleh. Sebab, selain berdakwah, Kiai Dahlan juga berdagang batik. Butuh alat transportasi yang juga bisa mengangkut barang dagagang, selain dirinya sendiri.
Jam menunjukkan pukul 00.15 WIB tanggal 28 April 2026. Diskusipun diakhiri, dan pulang ke rumah masing-masing.





0 Tanggapan
Empty Comments