Prof. Imam Robandi selalu ada saja ide segar, apalagi tentang pencerahan (enlightening) dan pemberdayaan (empowering), yang kali ini tentang semangat Kartini. Membahas semangat Kartini adalah sepanjang masa, karena selalu sesuai dengan dinamika zamannya.
Tanggal 21 April sudah berlalu, tanggal bersejarah yang ditandai dengan aneka pakaian adat dari berbagai suku di Indonesia dikenakan oleh siswa-siswi maupun pegawai negeri dan swasta. Sekolahan, kampus, kantor-kantor mengadakan peringatan hari kelahiran Kartini pada tanggal tersebut, begitu juga Dewan Profesor (DP) ITS.
Kegiatan yang diadakan oleh DP ITS Adalah sangat berbeda. Seminar dengan tema Srikandi-Srikandi Inspiratif Pejuang Bangsa menjadi pilihan. Seminar yang diadakan Adalah sangat menarik, dimotori oleh para guru besar ITS dan menghadirkan empat orang Srikandi masa kini sebagai invited speaker.
Seminar itu melibatkan para guru besar dari berbagai universitas di Tanah Air yang diawali oleh Prof. Surya Rosa Putra sebagai among tamu. Mantan duta besar Indonesia untuk Unesco di Paris ini tidak sekadar menyapa peserta seminar dan mempersilahkan para tamu yang hadir, tetapi juga memberikan kata-kata kunci tentang peran semangat Kartini di era modern.
Data yang disampaikan bahwa angka partisipasi wanita di bidang sains adalah 29% untuk tingkat dunia, 31% untuk Eropa, dan 54% untuk. Tulisan-tulisan Kartini dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” masuk dalam Memory of the World Register 2025 dalam Sidang Dewan Eksekutif Unesco ke-221 di Paris, Perancis.
Kartini tidak hanya tokoh Indonesia, namun sudah masuk dalam tokoh dunia. Penyampaiannya berkaitan dengan kemajuan kaum perempuan dalam menyejajarkan dengan kaum laki-laki.
Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan nilai Programme for International Student Assessment (PISA) menyebutkan siswa perempuan Indonesia meraih skor lebih tinggi 10 poin dari siswa laki-laki dalam kemampuan matematika dan dunia membutuhkan sains, dan sains membutuhkan perempuan.
Menghadapi tantangan abad ke-21 pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematic (STEM) dalam pembelajaran perlu dikembangkan menjadi Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics (STEAM), sehingga ada unsur art, dan ini ada pada perempuan.
Prof. Imam Robandi selaku Ketua Dewan Profesor ITS dan Ketua Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI) memaparkan bahwa seminar ini adalah acara guyup rukun, “Omah gendheng disaponi abot entheng bareng dilakoni”.
Seminar diselenggarakan Bersama FDGBI, Asosiasi Profesor Indonesia (API), dan Majelis Dewan Guru Besar (MDGB) PTNBH adalah acara langka. Makna mendalam memperingati hari Kartini adalah etos, karena pada tahun 1800-an seorang wanita dapat muncul di permukaan, menyejajarkan diri dengan laki-laki. Ini membutuh semangat, keberanian, dan ketelatenan.
Tidak ada hal yang tidak mungkin dalam menelorkan ide-ide seminar, itu adalah yang biasa dilakukan oleh Prof. Imam Robandi. Tema seminar Srikandi-Srikandi Inspiratif Pejuang Bangsa adalah tema yang dipilih, dengan menghadirkan empat perempuan hebat dengan latar belakang yang berbeda.
Prof. Rosmayati mewakili MDGB PTNBH, dalam sambutannya, perempuan sebagai agen perubahan nemiliki peran strategis dalam membangun peradaban yang berorientasi pada kemajuan sosial, ekonomi, dan keberlanjutan kehidupan.
Sambutan Prof. Ari Purbayanto, ketua API dan Direktur Dewan Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) menyinggung tentang empat pilar pendidikan menurut UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to live, dan learning to be. Wanita sebagai guru pertama anak-anak, peran ini tidak boleh ditinggalkannya.
Dicontohkan di Jepang, sejak dini pendidikan dengan disiplin tinggi, saling menghormati, saling mengisi, tidak kompetisi. Untuk menghasilkan generasi kuat, tidak cengeng, dan tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, kaum bapak harus ikut berperan serta.
Acara seminar secara resmi dibuka oleh Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati. Dalam sampaiannya, Kartini tetap ada, yang membedakan adalah perubahan peran dan tugas. Empat narasumber yang dihadirkan mewakili dari berbagai bidang pengabdian. Banyak orang ingin dekat dengan masa muda, tetapi sedikit yang ingin dekat dengan masa senja.
Kiprah Perempuan-Perempuan Hebat
Seminar ini adalah sangat spesial dengan pembicara adalah Mufakhiroh dari Griya Lansia Husnul Khatimah-Wajak, Malang, Agustina Lurah Kulim, Lurah Kulim, Kota Pekanbaru, Retna Widyawati, penasihat Dharma Wanita Persatuan BRIN, dan Prof. Arlette Suzy Setiawan dari Unpad yang dipandu oleh moderator Prof. Vita Ratnasari dari ITS.
Mufakhiroh (Mufi), salah satu pendiri dan pengasuh Griya Lansia. Seorang bidan desa, tahun 2017 membuat kegiatan sosial bersedekah Jumat berkah untuk lansia dan duafa bersama teman-teman dari lintas kota. Melihat para lansia yang tidak mempunyai tempat tinggal, muncul ide menampung dan merawat mereka.
Tahun 2021, pembangunan selter Griya Lansia Husnul Khatimah terwujud. Semua dana diperoleh dari para sukarelawan. Saat ini ada 200 lansia terlantar yang dirawat di Griya Lansia Husnul Khatimah.
Dari 200 orang tersebut yang ODGJ ada 60, dimensia 40 orang, dan 100 orang bedrest total. Seorang lansia membutuhkan biaya satu juta rupiah per bulan, sebagian besar dana diperoleh dari netizen. Mufakhiroh yang berprofesi bidan memilih mundur sebagai ASN untuk dapat mendampingi para lansia. Ada ketenangan batin dan kebahagiaan melihat lansia yang didampingi melakukan ibadah, tuturnya.
Agustina adalah Lurah Kulim yang memulai paparannya dengan menampilkan gambaran wilayahnya. Berada di wilayah yang menjadi jalur strategis dengan dinamika yang tinggi. Keberagaman suku adalah gambaran penduduk di kelurahan Kulim, yaitu suku Jawa, Melayu, Minang, dan Nias.
Hasil bumi yang terkenal adalah ubi, yang terkenal enak, bahkan pada tahun 2025 rombongan dari Kementerian Malaysia datang di kelurahan Kulim untuk melihat lahan ubi dan hasil UMKMnya.
Dalam paparannya, pembicara menyampaikan ada empat peran strategis lurah, yaitu sebagai administrator, peran sosial, fungsi atau peran utama, dan kehadiran langsung. Fungsi utama sendiri meliputi pendengar aspirasi masyarakat, penengah konflik, serta penghubung antara warga dengan pemerintahan.
Di kantor kelurahan, kehadiran perempuan sangat langka, kepemimpinan perempuan hadir dalam dominasi laki-laki. Pendekatan kepemimpinan berbasis empati, kehadiran langsung, dan kedekatan dengan masyarakat. Program kerjanya yang zero anak putus sekolah sangat layak untuk mendapat acungan jempol.
Kepemimpinannya sebagai lurah telah menunjukkan prestasi gemilang. Agustina menjadi satu-satunya lurah di Provinsi Riau yang memperoleh penghargaan Peacemaker Justice Awaard (PJA) 2025 dari Kementerian Hukum (Kemenkum) RI. Lurah Kulim ini dinilai mampu menyelesaikan sengketa melalui jalur non-litigasi.
Retna Widayawati (Neno) penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan kegiatan yang telah dilakukan dan dihasilkan dengan sangat detail. Tema yang dipilih adalah “Perempuan sebagai Arsitek Dampak”, beliau membandingkan Kartini dan perempuan sekarang.
Kartini telah membuka akses dan menyuarakan kesetaraan, sedangkan perempuan sekarang perlu menjaga keberlanjutan perubahan dan menciptakan dampak nyata. Sebagai organisasi sosial kemasyarakatan, DWP berperan dalam pemberdayaan keluarga PNS. Bu Neno tidak menginginkan kegiatan yang dilakukan oleh DWP BRIN bersifat seremonial, namun kegiatan yang diadakan harus terukur, diukur, dan menghasilkan dampak.
Sebagai penasihat, perempuan smart ini berdampak pada level komunitas, yaitu menggerakkan dan memberdayakan. Tantangan Perempuan saat ini adalah kekurangan kepercayaan diri dan minim jejaring dan peluang.
Untuk menjadi perempuan berdampak yang mandiri dan percaya diri, berdaya secara ekonomi, dan mampu menciptakan perubahan sosial maka harus memiliki strategi. Strateginya adalah kapasitas, kesempatan, dan ekosistem.
Untuk mengukur dampak maka dapat dilihat dari apa yang dilakukan (output), apa yang berubah (outcome), dan hasil jangka panjang (impact).
Prof. Arlette Suzy Setiawan memiliki dua dunia. Dunia akademik berbasis evidence, struktur, dan logis, sedangkan lari lebih erat kaitannya dengan pengalaman, ketidak-pastian, dan rasa. Prof. Arlette mengawali hobi berlari sebagai hukuman yang diberikan oleh guru karena kendala bahasa saat menempuh pendidikan dasar di luar Indonesia.
Kebiasaan lari ini berlanjut, hingga menjadi pelari ultra dan fundraiser sejak tahun 2019. Lari ultra adalah lari jarak jauh dengan jarak tempuh lebih dari 50 km, sedangkan fundraiser adalah kegiatan berlari yang bertujuan menggalang dana.
Prof. Arlette pernah mengikuti Nusantara Run, Gunungkidul-Ponorogo sejauh 133 km hingga mencapai finish. Yayasan yang mengadakan kegiatan ini berhasil menggalang danab lebih dari 14 milyar untuk membantu pendidikan.
Fundraiser untuk bantuan air bersih dan berhasil mengumpulkan dana lebih dari 2 milyar juga pernah diikuti. Pengalaman beliau berlari jarak jauh memberikan nilai yang berharga, pertama, kekuatan akan diperoleh saat berada pada titik terlelah, dalam berlari saat mencapai 70 km.
Kedua, empati akan lahir saat merasakan lelahnya perjuangan, dan ketiga, bukan tentang “saya” sampai di garis akhir, tetapi siapa yang terbantu karena “saya” berlari. Pesan akhir bu dokter gigi adalah kita tidak harus menunggu, kita tidak harus sempurna, tetapi mari kita memulai. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments