Di tengah hiruk-pikuk modernitas, terselip sebuah kisah abadi tentang ketulusan yang melintasi zaman. Ini adalah kisah tentang KH. Ma’sum Affandi.
Seorang ulama kharismatik asal Paciran yang menghibahkan hidupnya demi memastikan “cahaya iman” tetap menyala di pesisir utara Lamongan. Khususnya wilayah Brondong Barat. Yaitu Desa Lembor, Desa Sendangharjo, Desa Brengkok, dan Desa Labuhan.
Lahir pada 31 Maret 1931, Kiai Ma’sum bukan sekadar pengajar agama. Ia adalah simbol perlawanan terhadap keterbatasan.
Sosoknya tegap dan berkulit kuning, dengan tatapan teduh di balik hidung mancungnya. Gambaran itu masih melekat kuat dalam ingatan kolektif warga Desa Lembor hingga Labuhan, dan dusun Gembyang.
Kayuhan Sepeda dan Mahalnya Harga Ilmu
Bagi Kiai Ma’sum, jarak bukanlah penghalang. Melainkan jembatan menuju rida-Nya. Sejak tahun 1962, sejarah mencatat pemandangan yang menyentuh hati. Seorang kiai menembus debu jalanan dan terik matahari yang menyengat hanya dengan seunit sepeda ontel.
Bukan kendaraan mewah yang menemaninya. Melainkan derit rantai sepeda tua yang menjadi saksi bisu betapa mahalnya harga sebuah ilmu. Di MI Islamiyah Desa Labuhan, dia tidak hanya mengajarkan huruf hijaiyah. Tapi sedang memahat karakter generasi bangsa.
“Kiai Ma’sum naik sepeda ontel dari Desa Lembor ke Desa Labuhan untuk mengajar para siswa di Madrasah Islamiyah”, ujar Munawar salah satu muridnya. Jarak kedua desa itu sekitar 12 kilometer.
“Ilmu adalah senjata, dan akhlak adalah perisainya,” begitulah pesan yang selalu KH. Ma’sum Affandi tanamkan.
Dengan bahasa Jawa yang membumi, dia menerjemahkan kerumitan kitab Nahwu dan Sharaf menjadi mudah meresap ke dalam hati sanubari masyarakat jelata.
Menara yang Tak Menjulang Tinggi, Tapi Mendekat
Kiai Ma’sum tidak membangun “menara gading”. Dia tidak membiarkan umat kebingungan mencari arah. Justru dialah yang mendatangi rumah-rumah warga. Ruang tamu sederhana milik Asmawi dan Moh. Rohzam menjadi saksi betapa hangatnya dakwahnya.
Di sana, dia membimbing warga memahami hakikat bersuci (thoharoh) hingga kekhusyukan salat dengan penuh kasih sayang.
“Kiai Ma’sum berdakwah kepada masyarakat di rumah-rumah warga, seperti rumah Bapak Asmawi dan Bapak Rohzam”, ungkap Moh. Na’im tokoh Desa Labuhan.
Kiai Ma’sum membuktikan bahwa menjadi seorang yang alim tidak harus membuat diri menjadi asing dari kehidupan sosial. Dia hadir sebagai sahabat, guru, sekaligus orang tua bagi siapa saja.
Ada satu prinsip yang membuat sosoknya begitu dihormati: kemandirian. Di sela-sela waktunya mengajar kitab suci, Kiai Ma’sum adalah seorang pekerja keras.
Dia tidak ingin membebani umat dengan misi dakwahnya. Demi menjaga kehormatan ilmu, dia terjun langsung menjadi pedagang sembako hingga pengepul kulit sapi dan kambing.
“Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Kiai Ma’sum berjualan dan menjadi bakul kulit sapi dan kambing,” tutur Munawar.
Kiai Ma’sum memberikan teladan nyata bahwa kemuliaan seorang mukmin terletak pada kemandiriannya. Ia mengajarkan bahwa tangan di atas jauh lebih mulia daripada tangan di bawah.
Warisan yang Tak Pernah Padam
Tahun 2004, kayuhan sepeda itu akhirnya berhenti. Tubuh kekar yang telah melewati puluhan kilometer tiap harinya di jalanan berdebu itu akhirnya beristirahat untuk selamanya.
Langit Brondong seolah mendung. Melepas kepulangan sang guru bangsa ke haribaan Sang Khalik di pemakaman Dusun Widhe Desa Sendangharjo.
“Kiai Ma’sum wafat tahun 2004 karena sakit dan dimakamkan di pemakaman umum dusun Widhe Desa Sendangharjo”, tutur Mafazah Helna, anaknya.
Kiai Ma’sum pergi meninggalkan sembilan putra-putri dari dua istri tercinta, Siti Maemunah dan Munifah. Namun, jejaknya sama sekali tidak terkubur bersama raga.
Hari ini, setiap kali seorang anak di Labuhan melantunkan ayat suci Al-Qur’an, atau setiap kali seorang warga di Lembor menyempurnakan wudunya, di sanalah ruh perjuangan KH. Ma’sum Affandi hadir.
Kiai Ma’sum telah tiada. Namun pahala jariyahnya terus mengalir, sederas kasih sayang yang pernah ia berikan untuk tanah Brondong. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments