Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi-6

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi-6

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab II halaman 13, 14, dan sebagian 15.

Sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi-5

***

Halaman 13

BAB II

JAWA TIMUR AWAL ABAD KE-20

A. Situasi Umum

Jawa Timur pada masa transisi, dari abad ke-19 ke abad ke-20, menunjukkan geliat perubahan sebagai akibat diterapkannya kebijakan-kebijakan baru dalam bidang investasi, pembukaan perkebunan besar di daerah pedalaman, pembangunan industri di Surabaya, pembangunan sarana transportasi modern, baik perkapalan, kereta api maupun angkutan mobil.

Dalam bidang sosial budaya juga telah berkembang pendidikan modern dan penetrasi kebudayaan Barat yang makin intensif, terutama ekonomi moneter, dan juga pemikiran-pemikiran pembaharuan keagamaan.

Kehidupan sosial, politik, budaya dan agama di Jawa Timur pada awal abad ke-20 mengalami dinamika dan pasang surut, sebagai manifestasi dari terjadinya berbagai perubahan sosial dan munculnya pergerakan nasional pada awal abad itu. Saat itu, di Jawa Timur telah tergelar drama sejarah perjuangan yang dinamis dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk sosial keagamaan.

Dinamika sosial keagamaan itu ditandai antara lain dengan berdirinya Jam’iyat al-Islah wa al-Irsyad al-Arabiyah (Al-Irsyad) di Jakarta pada 1914, yang kemudian membuka cabangnya di Surabaya (1917), Sarekat Islam (SI) yang Pimpinan Pusatnya berkedudukan di Surabaya (1913), dan Nahdlatul Ulama (1926).

Dinamika dan pasang surut tersebut menjadi konteks dari pertumbuhan dan perkembangan Muhammadiyah di daerah-daerah di Jawa Timur.

1. Geografi.

Secara geografis, dari segi fisik, Jawa Timur merupakan wilayah yang memiliki luas 47.921,98 kilometer persegi, atau seluas 2,5 %

Halaman 14

dari seluruh wilayah Indonesia yang luasnya 1.919.444 kilometer persegi. Wilayah tersebut juga mencakup Pulau Sempu, Pulau Nusa Barung, dan Pulau Madura, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Jawa Timur berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara, Selat Bali di sebelah timur, Samudera Indonesia di sebelah selatan, dan Provinsi Jawa Tengah di sebelah barat.(1)

Secara topografis, Provinsi Jawa Timur meliputi daerah pesisir, dataran rendah dan pegunungan. Wilayah tersebut terbagi menjadi empat sub-wilayah. Pertama, kawasan tengah yang merupakan daerah subur yang membentang dari daerah Ngawi sampai ke Banyuwangi.

Kedua, kawasan utara yang merupakan daerah yang cukup subur, meliputi pegunungan daerah Bojonegoro, Tuban hingga ke sebagian Pulau Madura. Ketiga, kawasan selatan, meliputi Malang bagian Selatan, hingga ke Pacitan yang berbatasan dengan Jawa Tengah.

Keempat, daerah yang kurang subur, yakni meliputi Gresik, Probolinggo, Sampang, dan kepulauan yang berada di bawah pemerintahan Kabupaten Sumenep.(2)

SMPM 5 Pucang SBY

Tanah di Jawa Timur tergolong subur karena dikelilingi gunung-gunung berapi (vulkanik) yang tinggi, seperti Gunung Lawu, Gunung Kawi, Gunung Welirang, Gunung Semeru, Pegunungan Tengger, Gunung Raung dan Pegunungan Hyang.

Wilayah Jawa Timur juga dialiri sungai-sungai besar, seperti Bengawan Solo (mata airnya di Jawa Tengah) sebagai sungai terpanjang di Jawa. Sungai Brantas mengalir dari hulunya di Gunung Semeru dan Gunung Arjuna, menyusuri dan membentuk lembah sangat subur di daerah-daerah Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto dan Surabaya, hingga akhirnya bermuara di Selat Madura.

Sungai Madiun mengalir dari Gunung Lawu, bertemu dengan Bengawan Solo di Ngawi, sehingga ketika masuk Jawa Timur menjadi lebar dan besar. Sungai-sungai tersebut di zaman dahulu merupakan jalur transportasi vital dari daerah pesisir ke pedalaman.

Jawa Timur juga memiliki hutan jati yang luas, di samping tanah perkebunan dan tanah pertanian. Memasuki abad ke-20, kekayaan dan sumber daya alam di Jawa Timur yang lestari itu mulai dieksploitasi secara besar-besaran.

Untuk menghubungkan antar daerah yang demikian luas, sebelum adanya alat transportasi modern, media perhubungan di

Halaman 15

Jawa Timur adalah cikar, gerobak, dan dokar. Sedangkan di daerah pegunungan orang-orang juga menggunakan kuda beban. Alat transportasi tersebut digunakan untuk mengangkut manusia dan barang-barang.

Sampai saat ini di beberapa kota dataran tinggi dokar atau bendi masih dipakai. Sedangkan cikar dan gerobak telah ditinggalkan karena dianggap tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Kendaraan bermotor kemudian menyusul masuk di Surabaya pada akhir abad ke-19, yaitu sejak 1893. Selanjutnya sekitar 1911 telah terbentuk grup motor, bernama Java Motor Club.

Pada awal abad ke-20, kendaraan mobil mulai memenuhi jalan-jalan raya di Surabaya. Dalam waktu tidak terlalu lama mobil kemudian menyebar ke berbagai kota di Jawa Timur.

Halaman selanjutnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 7

***

Buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggotanya adalah Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Sementara konsultannya adalah M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 24/05/2026 05:42
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu