Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi-5

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi-5
Cover depan dan cover dalam buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004 (Foto: dok/PWMU.CO)

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, halaman 9, 10, dan 11.

Sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 4

***

(halaman 9)

Pada tahap awal “menembus benteng tradisi,” dakwah Muhammadiyah menemui banyak tantangan. Muhammadiyah dikecam sebagai pembawa agama baru, menyimpang dari ajaran abl al-sunnah wa al-jama’ah atau setidak-tidaknya sebagai pemecah belah umat. Sekalipun pada tahap paling awal, Muhammadiyah belum terlibat secara intens dalam pertikaian furu’iyah (masalah-masalah fiqh yang detail), tetapi resistensi terhadap Muhammadiyah telah tampak.

K.H. Ahmad Dahlan pernah diancam bunuh kalau masuk Jawa Timur. Penentangan terhadap gerakan Muhammadiyah menjadi lebih besar setelah berdirinya Persatuan Islam (Persis) pada 1923, dan Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926. Pandangan PERSIS (Persatuan Islam) yang radikal dan puritan telah ikut mengukir

(halaman 10)

pemikiran tokoh-tokoh Muhammadiyah. Kedekatan pemikiran kedua organisasi itu juga dicerminkan dengan simbol yang hampir sama, yakni matahari bersinar, dengan latar belakang warna yang sama, yakni hijau dan putih. Muhammadiyah kemudian memiliki tema baru dalam dakwahnya, yaitu melawan taqlid, bid’ah, syrik dan khurafat, di samping tema-tema lama, seperti kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan.

Berdirinya NU juga menambah tingkat ketegangan karena berarti telah terlembagakannya semangat resistensi dengan segala perangkat kelembagaan yang dimilikinya.

Sekalipun demikian, Muhammadiyah Jawa Timur terus mengalami kemajuan baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Jumlah anggota dan amal usaha semakin meningkat, dan pemikiran Muhammadiyah kian banyak dianut orang.

Pada awalnya, shalat ‘id (hari raya) di lapangan, tarawih 11 raka’at, shalat tanpa usballi dan qunut, dan tanpa tahlilan pasca kematian, dipandang menyimpang dari ajaran Islam yang benar, dan karena itu menjadi sumber konflik agama dan sosial. Tetapi, sekarang amalan-amalan itu telah berlaku umum dan bahkan masyarakat di luar Muhammadiyah pun telah mengamalkannya.

SMPM 5 Pucang SBY

Tema-tema dakwah Muhammadiyah sekarang telah mengalami pergeseran. Fokus dari gerakan pencerahannya diarahkan pada pembangunan moralitas bangsa karena menyadari bahwa penyakit korupsi, kolusi, dan bentuk ketidakadilan lainnya telah menyebabkan kehancuran bangsa kita. Pada saat yang sama, tema-tema anti-bid’ah dan khurafat tidak lagi muncul dengan skala yang sama seperti dahulu.

Muhammadiyah juga menetapkan strategi dakwah kultural yang lebih arif dan karena itu diharapkan lebih efektif dan akan menekan ketegangan di tengah-tengah masyarakat. Tidak ada yang berubah dalam ideologi, visi dan misi Muhammadiyah. Yang berubah adalah strategi dan taktik gerakan.

Buku ini dengan gamblang menggambarkan bagaimana Muhammadiyah berkembang di Jawa Timur, sejak masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, perjuangan politik, sampai masa kebangkitan kembali. Pada masing-masing masa itu, Muhammadiyah memiliki ciri perkembangan yang spesifik. Pada masa penjajahan Belanda, pemikiran Muhammadiyah mulai

(halaman 11)

menembus Jawa Timur, dan kemudian baru pada 1921 secara resmi ada organisasi Muhammadiyah, yang sekalipun mendapat tantangan yang sangat besar dari masyarakat tradisional, perkembangannya relatif pesat.

Setelah itu, Muhammadiyah masuk pada masa pergolakan, yang ditandai dengan kesibukan tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam arena politik, baik akibat pendudukan Jepang, perang kemerdekaan maupun keterlibatannya dalam Partai Masyumi. Dalam kondisi seperti itu gerakan Muhammadiyah hampir mengalami stagnasi.

Setelah itu, Muhammadiyah masuk pada masa kebangkitan kembali, yang ditandai dengan tumbuhnya gairah baru untuk menggerakkan Persyarikatan, sehingga tumbuh banyak cabang dan ranting baru, amal usaha juga berkembang cepat dan kegiatan dakwah kian semarak. Yang terakhir ini bisa juga disebut masa kembalinya Muhammadiyah dari keterlibatannya dalam politik dan penemuannya kembali shibghah (identitas) gerakan, yang berorientasi pada pencerahan umat. Pada masa inilah dakwah Muhammadiyah dipadati dengan tema-tema aqidah, ibadah dan amal-sosial, bukan lagi tema-tema politik kepartaian.

***

Buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggotanya adalah Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Sementara konsultannya adalah M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 21/05/2026 00:43
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡