Oleh Dr Sholikh Al Huda MFilI
Sekretaris PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur Periode 2010–2014 & Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Masangan Wetan Sidoarjo.
Tema Tanwir Pemuda Muhammadiyah tahun ini cukup keren: “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Raya.” Kalimatnya teduh, optimistis, dan khas bahasa forum organisasi—terdengar penuh harapan sekaligus aman dari potensi bikin gaduh.
Tapi justru karena terlalu indah, tema itu perlu sedikit “diganggu” dengan pertanyaan sederhana: yang bertumbuh ini sebenarnya apa? Ideologinya, keberpihakannya, atau cuma baliho organisasinya?
Sebab belakangan kita hidup di zaman ketika banyak organisasi tampak besar secara visual, tetapi kurus secara gagasan.
Kadernya ramai, acaranya megah, media sosialnya aktif, tetapi sensitivitas sosialnya makin tipis.
Semua sibuk bicara branding, tetapi lupa mendengar suara rakyat kecil yang makin megap-megap hidup di negeri sendiri.
Indonesia hari ini memang lucu. Negara sering bicara pertumbuhan ekonomi, tetapi rakyat tumbuh dalam kecemasan.
Harga kebutuhan naik, pekerjaan makin sulit, rumah makin tidak terjangkau, pendidikan mahal, sementara elite politik sibuk pamer senyum di TikTok seolah negeri ini baik-baik saja.
Yang lebih ironis, anak muda juga mulai didorong menjadi generasi yang rajin flexing tetapi malas berpikir. Semua ingin cepat terkenal, cepat kaya, cepat viral.
Tidak banyak yang mau repot membaca kenyataan sosial secara serius. Akibatnya, ruang publik penuh motivator dadakan, tetapi miskin pemikir yang benar-benar peka terhadap ketimpangan.
Revitalisasi Gerakan Pemuda Muhammadiyah
Di titik ini, Pemuda Muhammadiyah seharusnya tidak ikut-ikutan menjadi organisasi yang sekadar sibuk mengurus pencitraan. Karena kalau hanya ingin terlihat besar, buzzer politik juga bisa.
Muhammadiyah sejak awal lahir bukan untuk menjadi dekorasi moral kekuasaan. Ahmad Dahlan membangun gerakan ini dengan kegelisahan sosial, bukan dengan obsesi jabatan.
Spirit Al-Ma’un tidak lahir dari ruang rapat ber-AC, tetapi dari keberanian melihat kemiskinan sebagai problem iman dan kemanusiaan.
Masalahnya, semakin besar organisasi, kadang semakin besar pula godaan menjauh dari rakyat kecil. Aktivis lebih sibuk mencari posisi strategis
ketimbang mendampingi masyarakat pinggiran.
Forum-forum organisasi dipenuhi bahasa “kolaborasi”, tetapi minim keberanian mengkritik ketidakadilan struktural. Padahal rakyat sedang menghadapi banyak hal absurd.
Petani kalah oleh korporasi. Guru honorer digaji memprihatinkan. Anak muda dipaksa bersaing di dunia kerja yang makin tidak manusiawi. Bahkan pendidikan tinggi pelan-pelan berubah seperti marketplace: siapa punya uang, dia punya akses lebih besar.
Sementara itu, negara sering hadir dengan wajah yang aneh: keras kepada rakyat kecil, tetapi lembut kepada pemilik modal.
Dalam situasi seperti ini, tema “mengakar” mestinya jangan berhenti jadi spanduk forum. Mengakar berarti berani masuk ke realitas sosial yang tidak nyaman.
Berani bicara soal oligarki ekonomi, kerusakan lingkungan, korupsi sumber daya, hingga politik yang makin kehilangan etika.
Kalau tidak, organisasi pemuda hanya akan tumbuh sebagai administrasi, bukan sebagai gerakan.
Dan terus terang saja, tantangan terbesar organisasi Islam hari ini bukan kekurangan kader. Yang kurang adalah kader yang punya keberanian intelektual dan sensitivitas sosial sekaligus.
Banyak yang pintar membuat proposal kegiatan, tetapi gagap membaca penderitaan masyarakat. Padahal bangsa ini tidak kekurangan orang saleh.
Yang kurang adalah orang saleh yang mau berpihak.
Karena itu, Tanwir Pemuda Muhammadiyah 2026 seharusnya menjadi momentum untuk bertanya ulang: apakah kita masih benar-benar berdiri bersama kaum mustad’afin, atau jangan-jangan mulai nyaman berada terlalu dekat dengan lingkar kekuasaan?
Sebab sejarah biasanya kejam kepada organisasi yang lupa akar sosialnya. Awalnya kehilangan keberpihakan, lalu kehilangan relevansi, dan akhirnya tinggal menjadi kenangan seremoni tahunan.
Selamat Bertanwir Saudaraku… I love Pemuda Muhammadiyah





0 Tanggapan
Empty Comments