إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحِسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَبَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ: أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَقَالَ الله تَعَالىٰ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ وَقَالَ أَيْضًا: الحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Hadirin, jamaah rahima kumullah
Marilah kita bersyukur kepada Allah SWT dengan syukur yang tiada henti. Karena Allah tiada henti pula mencurahkan rahmat dan nikmat untuk kita. Bahkan tatkala sedang jatuh sekalipun, misalnya, terkena musibah akibat bencana alam, sakit, kehilangan jabatan, atau kekurangan harta benda, kita mesti meyakini bahwa masih terlampau banyak rahmat dan nikmat Allah yang kita rasakan.
Dengan semua rahmat dan nikmat Allah itulah, maka pada pagi hari ini kita dapat mengikuti rangkaian ibadah salat Iduladha 1447 H secara berjamaah. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, serta mengampuni dosa dan kekhilafan yang telah kita kerjakan. Semoga Allah juga memberikan kesehatan, keafiatan, dan kelancaran beribadah bagi saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji.
Hadirin, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Allah SWT menegaskan bahwa menunaikan ibadah haji ke tanah suci itu merupakan kewajiban bagi orang yang sudah memiliki kemampuan (istitha’ah). Tetapi penting dipahami bahwa pelaksanaan ibadah haji bukan hanya berkaitan dengan kemampuan membayar biaya, menyiapkan bekal, dan kekuatan fisik. Ibadah haji juga mensyaratkan kesiapan mental spiritual.
Yang juga tak kalah penting adalah jaminan keamanan, baik dari negara asal jamaah haji maupun negeri yang dikenal sebagai pelayan dua kota suci (khadimul haramain), yakni Kerajaan Saudi Arabia. Tiadanya jaminan keamanan akan mempengaruhi kewajiban ibadah haji. Termasuk dalam kaitan ini adalah jaminan keamanan selama perjalanan menuju tanah suci dan kembali ke kampung halaman di tanah air tercinta.
Jaminan keamanan penting menjadi perhatian karena pada musim haji 1447 H/2026 M, dunia diwarnai peperangan yang begitu mengkhawatirkan. Dalam situasi seperti ini, yang sangat diutamakan tentu menjaga keselamatan jiwa (hifdz al-nafs). Karena persyaratan yang begitu ketat, maka Allah menekankan bahwa ibadah haji hanya diwajibkan bagi orang yang mampu melaksanakan perjalanan ke Baitullah dengan aman dan nyaman (QS. Ali ‘Imran: 97).
Hadirin, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Allah SWT juga memberikan pesan sekaligus perintah yang tegas agar setiap jamaah haji membawa bekal yang terbaik. Dan, bekal terbaik dalam pandangan Allah adalah bertakwa (QS. Al-Baqarah: 197). Modal ketakwaan itulah yang akan menjamin setiap jamaah mampu memahami makna dari setiap tahapan ibadah haji. Setiap CJH juga penting meneladani karakter tokoh-tokoh yang diperankan dalam keseluruhan rangkaian ibadah haji.
Keutamaan Ibadah Haji
Bagi setiap muslim, menunaikan ibadah haji ke tanah suci merupakan dambaan. Bahkan bagi mereka yang sudah berhaji sekalipun, hasrat untuk beribadah ke tanah suci tetap tinggi. Senantiasa muncul kerinduan untuk sekali lagi dan sekali lagi berziarah ke tanah suci. Itu karena pergi ke tanah suci juga memberikan kesempatan setiap jamaah untuk berziarah, terutama ke makam Nabi Muhammad dan beberapa sahabat utama Rasulullah SAW.
Selain untuk menyempurnakan rukum Islam, ibadah haji senantiasa memberikan pengalaman keagamaan yang begitu penting dan mendalam. Karena itulah dapat dipahami jika gairah umat untuk menjalankan ibadah haji selalu menggelora. Semangat umat menunaikan rukun Islam kelima itu pula yang menjadikan antrean Calon Jamaah Haji (CJH) terus mengular. Dampaknya, daftar tunggu CJH mencapai puluhan tahun.
Menurut data Kementerian Haji dan Umrah, bahwa pada 2026 ini antrean CJH di sejumlah daerah berkisar 20-30 tahun. Bahkan beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan antrean CJH mencapai 45-50 tahun. Antrean CJH yang panjang menandakan dua hal. Pertama, gairah umat untuk beribadah sangat tinggi. Bukan hanya untuk beribadah haji, gairah umat menunaikan umrah juga luar biasa.
Kedua, antrean panjang dari CJH itu juga menunjukkan bahwa kesejahteraan umat semakin membaik. Hal itu karena untuk memperoleh porsi antrean ibadah haji seseorang harus mendaftarkan diri melalui bank-bank mitra pemerintah dengan menyetor uang puluhan juta rupiah. Yang menarik, antrean CJH bukan hanya terjadi untuk haji reguler. Haji plus dengan biaya tinggi pun, kini harus mengantre 5-10 tahun.
Menghadapi antrean yang panjang itu rasanya tidak ada pilihan lain. Semua CJH yang mengantre selama puluhan tahun harus tetap bersabar. Inilah makna bahwa ibadah haji memang panggilan Allah. Bersabar hingga pada saatnya benar-benar dipanggil sebagai tamu-tamu Allah (wafdullah). Antrean yang begitu panjang sekaligus menunjukkan keutamaan ibadah haji dibanding ibadah lainnya.
Berkaitan dengan keutamaan ibadah haji, Rasulullah bersabda:
الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللَّهِ إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ وَإِنْ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ
“Jamaah haji dan umrah adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa, Allah memenuhi permintaan mereka dan jika mereka meminta ampun kepada-Nya, niscaya Allah mengampuni mereka” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).
Panggilan sebagai tamu Allah jelas sangat menyentuh hati nurani. Dengan panggilan itu berarti Allah yang akan menjadi tuan rumah perjumpaan jutaan jamaah haji dari seluruh penjuru dunia. Karena itulah dikatakan bahwa jamaah haji berkunjung ke Baitullah (rumah Allah). Sebagai tuan rumah, Allah yang akan menyambut, melayani, serta memberikan rasa aman dan nyaman bagi jamaah haji.
Bangunan Ka’bah (Baitullah) yang menghadap ke semua penjuru juga melambangkan bahwa Allah akan menjamu siapapun yang datang dan dari negara manapun, tanpa melihat latar belakang ideologi, paham keagamaan, etnis, dan kelas sosial ekonominya. Allah tidak membedakan siapa pun CJH yang datang, kecuali berdasarkan level ketakwaannya.
Keutamaan lain dari ibadah haji juga dapat dipahami dalam beberapa hadis Nabi SAW. Misalnya, Nabi bersabda bahwa ibadah haji yang diterima Allah (mabrur) itu pahalanya tiada lain kecuali surga. Rasul juga menegaskan bahwa haji yang dilakukan dengan benar (tidak berbuat rafats dan tidak pula fasiq), maka ia akan bersih dari dosa-dosanya laksana baru dilahirkan dari rahim ibu masing-masing. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Haji yang mabrur itu tiada balasan baginya kecuali surga” (HR. Malik, Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Al-Asbihani).
مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Siapa pun yang berhaji, lalu tidak berkata keji dan tidak berbuat dosa, niscaya ia pulang dalam keadaan suci seperti hari dilahirkan oleh ibunya” (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasai, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Menangkap Pesan Spiritual
Pemikir asal Iran, Ali Shariati (1933-1977), dalam buku berjudul Hajj/Pilgrimage (2005), mengilustrasikan ibadah haji laksana sebuah pertunjukan. Pernyataan Shariati tentu tidak berlebihan jika kita memperhatikan protokoler ibadah haji. Jika diamati secara seksama, pelaksanaan rukun Islam kelima itu memang laksana sebuah pertunjukan. Tetapi bukan pertunjukan biasa, melainkan pertunjukan akbar karena melibatkan jutaan umat.
Hadirin, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Dalam pertunjukan akbar itu, Allah SWT menjadi sutradara. Tokoh-tokoh yang harus diperankan adalah Adam, Ibrahim, Hajar, dan Syetan. Lokasi utamanya di sekitar Masjid Haram, Masjid Nabawi, Tanah Haram, Ka’bah, Shafa, Marwah, Arafah, Muzdalifah, Mina, dan tempat bersejarah lainnya. Simbol-simbol yang penting diperhatikan adalah siang, malam, matahari terbit, matahari tergelincir, matahari terbenam, berkurban, tahallul (mencukur rambut), dan berhala.
Baju kebesaran yang harus dipakai adalah pakaian ihram. Yakni, dua lembar kain putih tanpa jahitan (untuk pria) dan pakaian menutup aurat (untuk wanita). Pakaian ihram melambangkan kesucian dan kesetaraan di hadapan Allah SWT. Penting ditegaskan, bahwa pemain utama dari seluruh pertunjukan akbar itu adalah setiap jamaah haji sendiri. Setiap pemain dituntut untuk memainkan peran dengan penuh penghayatan.
Apabila dihayati dengan seksama, maka prosesi ibadah haji pasti dapat mengantarkan setiap pribadi dalam kehidupan yang diwarnai kesadaran mengenai keberadaan Allah. Rumah Allah (Ka’bah) yang mengarah ke semua penjuru melambangkan bahwa Allah berada di mana saja. Tatkala kesadaran itu muncul, maka setiap jamaah haji termotivasi untuk mencium batu hitam (hajar aswad), atau minimal melambaikan tangan ke arah Ka’bah.
Saat itulah setiap jamaah haji merasakan kedekatannya dengan Allah. Dan, tanpa disadari air mata pun tumpah sebagai wujud rasa syukur karena dapat memenuhi panggilan Allah untuk berkunjung ke Ka’bah. Pertanyaannya, dapatkah setiap jamaah haji menghayati peran yang dimainkannya? Untuk menjawab pertanyaan ini memang tidak mudah. Pasti dibutuhkan kajian mendalam.
Tetapi umumnya jamaah haji sukses memainkan peran dalam pertunjukan akbar itu. Salah satu indikatornya, tidak ada jamaah haji yang merasa “kapok” atau minimal menyesal berangkat ke tanah suci. Yang terjadi justru keinginan untuk senantiasa dipanggil sebagai tamu-tamu Allah (wafdullah). Setiap tamu Allah pasti selalu teringat tatkal melaksanakan prosesi ibadah haji di tanah suci.
Selalu terbayang tatkala ia mengelilingi Ka’bah (thawaf), berjalan mondar-mandir antara Bukit Shafa dan Marwa (sa’i), berkumpul dan bermunajat di hamparan yang luas padang Arafah (wuquf), bermalam (mabit) di Muzdalifah dan Mina, melontar dengan batu-batu kecil (jumrah), menggunting atau mencukur rambut (tahalul), dan mencium batu hitam (hajar aswad).
Khusus jamaah haji laki-laki juga ada ketentuan yang harus dipatuhi. Misalnya, kewajiban menggunakan pakaian ihram, dua helai kain putih yang tidak berjahit. Pada saat tertentu juga tidak diperkenankan untuk menggunakan alas kaki yang menutup mata kaki. Jika pakaian ihram telah dikenakan, maka tidak boleh lagi bersolek. Bersisir, menggunting kuku, dan mencabut bulu, apabila dilakukan saat berpakaian ihram, akan dikenai denda.
Terlebih lagi jika bercumbu, membunuh binatang, dan mencabut tanaman. Semua larangan itu harus dipatuhi karena Allah semata. Hanya dengan menyerahkan diri seutuhnya pada Allah, para jamaah akan memahami peran yang dimainkan dalam keseluruhan prosesi ibadah haji. Itulah makna spiritual yang sulit dilupakan sekaligus menjadi pengalaman keagamaan terpenting dari siapa pun yang diundang sebagai tamu-tamu Allah untuk menunaikan ibadah haji.
Pesan Kemanusiaan Ibadah Haji
Pakaian kebesaran jamaah haji, yakni kain ihram yang serba putih dan tidak berjahit itu, menandakan bahwa semua orang memiliki kedudukan sama di hadapan Allah. Dimensi kemanusiaan yang disimbolkan melalui pakaian ihram ini sangat penting. Rasulullah dalam pidato perpisahannya tatkala menunaikan ibadah Haji Wada’ (Haji Perpisahan) juga menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan yang amat mengharukan.
Rasulullah bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى
“Wahai sekalian umat manusia, ketahuilah sesungguhnya Tuhanmu satu (esa). Nenek moyangmu juga satu. Ketahuilah, tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa selain Arab (Ajam), dan tidak ada kelebihan bangsa lain (Ajam) terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah (putih) terhadap yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan yang berkulit hitam dengan yang berkulit merah (putih), kecuali dengan taqwanya” (HR. Ahmad).
Secara keseluruhan ibadah haji juga tidak dapat dilepaskan dari figur sentral, yakni Nabi Ibrahim. Bahkan, dikatakan bahwa ibadah haji tidak dapat dipahami dengan baik tanpa mengenali sosok dan karakter Nabi Ibrahim. Di antara keistimewaan Kekasih Allah (Khalilullah) itu adalah bahwa melalui Nabi Ibrahim kebiasaan mengorbankan manusia sebagai sesaji atau tumbal dibatalkan Allah.
Hadirin, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Allah lantas mengganti Ismail yang akan disembelih Nabi Ibrahim dengan hewan sembelihan yang besar (QS. al-Shaffat: 100-107). Hal itu terjadi bukan karena manusia terlalu mulia untuk dikorbankan, melainkan karena rahmat dan kasih sayang Allah semata. Sebab jika Allah telah berkehendak, maka apapun yang kita miliki harus diserahkan. Bahkan nyawa pun mesti diserahkan jika Allah sudah menentukan kapan kita kembali (QS. Al-Baqarah: 156).
Karena itulah perintah berkurban dalam rangkaian ibadah haji penting ditunaikan. Jika dilacak secara historis, berkurban merupakan ibadah yang paling awal diperintahkan Allah pada manusia. Hal itu dapat dipahami dari perintah Allah pada anak-anak Nabi Adam, yakni Qabil dan Habil. Allah memerintahkan pada keduanya untuk berkurban dengan kurban yang terbaik.
Qabil dan Habil lantas berkurban dengan caranya masing-masing. Kurban Habil diterima karena keikhlasannya. Sementara kurban Qabil ditolak. Akibatnya, muncul kedengkian dari Qabil hingga berujung pada pembunuhan terhadap Habil. Kisah pengorbanan sekaligus pembunuhan pertama di muka bumi dalam sejarah peradaban manusia itu diabadikan dalam Al-Qur’an (QS. al-Ma’idah: 27-31).
Perintah berkurban (al-udlhiyah) dalam rangkaian hari raya Idul Adlha secara khusus merujuk pada kisah penyembelihan Ismail oleh Nabi Ibrahim. Kisah penyembelihan Ismail yang kemudian diganti dengan hewan sembelihan sekaligus mengajarkan pentingnya komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Begitu pentingnya ajaran berkurban, Nabi SAW bersabda:
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
“Barangsiapa mempunyai kemudahan untuk berkurban, namun ia belum berkurban, maka janganlah sekali-kali ia mendekati tempat sholat kami” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Melalui ibadah kurban umat diperintahkan untuk membantu sesama tanpa melihat latar belakang sosial, agama, etnis, dan golongan. Disamping sebagai bentuk pengabdian pada Allah, perintah untuk berkurban memiliki pesan-pesan kemanusiaan yang kuat. Hal itu tercermin dari ajaran untuk menyembelih hewan kurban dan membagikannya pada mereka yang berhak. Daging hewan kurban itu tentu juga sangat bermanfaat bagi mereka yang terdampak bencana, baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan.
Hadirin, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Mengakhiri khutbah ini marilah kita memanjatkan do’a kehadirat Allah SWT. Semoga do’a kita diamini para malaikat dan dikabulkan Allah SWT.
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمـُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمـُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. فيَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ اللّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ





0 Tanggapan
Empty Comments