Tidak semua kenikmatan adalah tanda kasih sayang Allah. Ada kalanya harta, jabatan, dan kesenangan justru menjadi bentuk istidraj, jebakan yang membuat manusia semakin jauh dari tobat.
Lebih berbahaya lagi ketika seseorang tidak menyadari bahwa hatinya sedang dihukum: ibadah terasa berat, salat kehilangan kekhusyukan, zikir tak lagi menenangkan, dan Al-Qur’an tak lagi menyentuh jiwa.
Inilah salah satu musibah terbesar dalam hidup, ketika nikmat bermunajat kepada Allah perlahan dicabut akibat dosa dan kemaksiatan yang terus dilakukan.
Allah Azza wa Jalla memberikan sanksi kepada kaum Munafiqin dengan cara diperpanjang waktunya agar mereka terus bergelimang di atas kesesatan. Sehingga azabnya sangat keras. Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ
“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari perkara dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Bukhari Muslim)
Dan yang lebih berat dari itu ketika seseorang bergembira dengan perkara yang sebetulnya adalah hukuman dari Allah Azza wa Jalla yang diberikan kepadanya.
Salah satu contohnya adalah ketika seseorang merasa sangat bangga ketika mendapatkan kedudukan dan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara.
Padahal kedudukan dan kekuasaan itu menambah beban siksa dalam api Neraka. Orang yang keadaannya seperti ini tidak akan pernah sukses mendapatkan ketaatan…
Ketika seseorang sudah mendapatkan manisnya kemaksiatan maka dia akan merasakan bahwa ketaatan adalah sesuatu yang sangat pahit dan getir.
Sebaliknya orang yang sudah merasakan nikmatnya ketaatan pada saat beribadah kepada-Nya, itu artinya tidak akan pernah mau melakukan perbuatan maksiat. Kalaupun dia terjatuh ke dalam maksiat maka hatinya menjadi sedih. Hatinya akan menyesal.
Di antara siksa yang tersembunyi dan banyak sekali orang yang tidak menyadarinya adalah dicabutnya kenikmatan ketika bermunajat. Dicabut lezatnya beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.
Ketika berzikir seseorang tidak merasakan kenikmatan, ketika salat seseorang tidak merasakan kekhusyukan, ketika membaca Al-Quran, tidak merasakan dampak positif apa-apa di hati. Ini semua adalah sanksi yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada hamba akibat maksiatnya kepada Allah Azza wa Jalla.
Oleh karena itu jika di dalam hati seorang Muslim mulai terasa berat untuk melakukan ketaatan, maka sudah sepantasnya seorang Muslim segera bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments