Allah ﷻ dengan rahmat dan kasih sayang-Nya menjadikan dalam kehidupan manusia musim-musim kebaikan dan waktu-waktu istimewa untuk memperbanyak ibadah serta mendekatkan diri kepada-Nya. Di antara musim ibadah yang paling agung adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, hari-hari terbaik di dunia yang dipenuhi dengan keutamaan, keberkahan, dan pahala berlipat ganda.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«افْعَلُوا الْخَيْرَ دَهْرَكُمْ، وَتَعَرَّضُوا لِنَفَحَاتِ رَحْمَةِ اللَّهِ، فَإِنَّ لِلَّهِ نَفَحَاتٍ مِنْ رَحْمَتِهِ يُصِيبُ بِهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ»
“Lakukanlah kebaikan sepanjang hidup kalian dan carilah hembusan rahmat Allah. Sesungguhnya Allah memiliki hembusan rahmat yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya.”
Takhrij Hadis
Diriwayatkan oleh Al-Qudha‘i dalam Musnad Asy-Syihab no. 701, Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir (1/250) no. 723, dan Abu Nu‘aim dalam Hilyatul Auliya’ (3/162).
Mengapa Sepuluh Hari Dzulhijjah Begitu Istimewa?
Hari-hari ini memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Allah karena padanya berkumpul berbagai ibadah besar yang tidak berkumpul pada waktu lain, seperti:
- Shalat
- Puasa
- Sedekah
- Dzikir
- Haji
- Kurban
Allah ﷻ bahkan bersumpah dengan hari-hari tersebut dalam Al-Qur’an:
﴿ وَالْفَجْرِ * وَلَيَالٍ عَشْرٍ ﴾
“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr: 1–2)
Mayoritas ulama tafsir seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ»
Para sahabat bertanya:
«وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟»
Beliau menjawab:
«وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ»
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.”
Takhrij Hadis
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari no. 969 dengan lafaz yang sedikit berbeda, dari sahabat Ibnu Abbas رضي الله عنهما.
Menjaga Amal Wajib dan Memperbanyak Sunnah
Amalan paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah menjaga kewajiban-kewajiban yang telah Allah tetapkan.
Dalam hadis qudsi Allah berfirman:
«وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ»
“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya.”
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari no. 6502 dan Al-Baihaqi no. 6466 dengan sedikit perbedaan lafaz.
Kemudian Allah berfirman dalam lanjutan hadis tersebut:
«وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ»
“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.”
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari no. 6502.
Keutamaan Puasa pada Hari-Hari Ini
Puasa termasuk amalan yang sangat dianjurkan pada sembilan hari pertama Dzulhijjah.
Disebutkan dalam hadis:
«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ»
“Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada sembilan hari Dzulhijjah, hari Asyura, dan tiga hari setiap bulan.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2437 dan An-Nasa’i no. 2372 dari Hunaydah bin Khalid, dari istrinya, dari sebagian istri Nabi ﷺ.
Puasa Hari Arafah
Di antara hari paling utama adalah Hari Arafah, tanggal 9 Dzulhijjah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ»
“Puasa Hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.”
Diriwayatkan oleh Muslim no. 1162, Abu Dawud no. 2425, Ahmad no. 22650, At-Tirmidzi no. 749 dan 752, Ibnu Majah no. 1730 dan 1738, serta Ibnu Hibban no. 3632.
Memperbanyak Dzikir dan Takbir
Dzikir adalah amalan ringan namun sangat agung di sisi Allah. Pada sepuluh hari Dzulhijjah dianjurkan memperbanyak:
- Takbir
- Tahmid
- Tahlil
- Tasbih
- Istighfar
Rasulullah ﷺ bersabda:
«فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ»
“Maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid pada hari-hari tersebut.”
Diriwayatkan oleh Ahmad no. 5446, Ad-Daraquthni dalam Al-‘Ilal (12/376), dan Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar no. 2971 dengan sedikit perbedaan lafaz.
Bentuk Takbir
Di antara lafaz takbir yang populer:
الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
Takbir terbagi menjadi dua:
- Takbir mutlak: sejak awal Dzulhijjah hingga akhir hari Tasyrik.
- Takbir muqayyad: dibaca setelah shalat fardu mulai Subuh Hari Arafah hingga Ashar 13 Dzulhijjah.
Membaca Al-Qur’an dan Bersedekah
Membaca Al-Qur’an termasuk amal terbaik pada hari-hari ini. Para salaf dahulu bersungguh-sungguh menghidupkan hari-hari Dzulhijjah dengan tilawah, dzikir, dan ibadah.
Selain itu, sedekah juga memiliki keutamaan sangat besar, terlebih pada hari-hari mulia ini. Memberi makan orang lapar, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, dan meringankan kesulitan sesama termasuk amalan yang sangat dicintai Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالصَّائِمِ الْقَائِمِ»
“Orang yang membantu janda dan orang miskin seperti orang yang terus berpuasa dan terus shalat malam.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah kesempatan emas yang belum tentu terulang kembali dalam hidup kita. Hari-hari ini adalah ladang pahala, musim pengampunan, dan waktu terbaik untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.
Maka marilah kita menyambutnya dengan:
- Taubat yang sungguh-sungguh
- Menjaga shalat
- Memperbanyak puasa
- Membaca Al-Qur’an
- Memperbanyak dzikir dan takbir
- Bersedekah
- Dan seluruh amal saleh lainnya
Semoga Allah ﷻ menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang meraih keberkahan pada hari-hari mulia ini. Aamiin.





0 Tanggapan
Empty Comments