Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

5 Sebab Iblis Celaka Menurut Islam

Iklan Landscape Smamda
5 Sebab Iblis Celaka Menurut Islam
Ilustrasi: luckylexi
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM

Sikap jujur pada diri sendiri adalah langkah pertama menuju kebaikan. Ketika kita berani mengakui kesalahan dan dosa, pintu taubat akan terbuka lebar. Sebaliknya, kesombongan justru menjerumuskan manusia ke dalam sifat Iblis, yang enggan mengakui kesalahannya dan merasa lebih baik daripada yang lain. Ini 5 sebab iblis celaka menurut Islam:

1. Tidak Mengakui Dosanya

Kalau kita salah, akui kalau salah. Kalau maksiat, akui maksiat. Karena ketika kita mengakui, maka kita akan bertaubat. Jangan mau sama seperti Iblis.

Setan diusir dari surga, mengapa? Ketika Allah memerintahkannya untuk bersujud pada Nabi Adam, ia enggan. Dengan congkaknya ia berkata, “Ya Allah, Kau ciptakan ia dari tanah. Sedangkan Kau ciptakanku dari api. Api jelas lebih mulia dari tanah!”

• وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۙ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

Kisah mengenai setan atau Iblis yang enggan bersujud kepada Nabi Adam AS diabadikan dalam Al-Qur’an, salah satunya pada Surat Al-Baqarah ayat 34.

Keengganan ini disebabkan oleh kesombongan Iblis yang merasa dirinya lebih mulia karena diciptakan dari api, sementara Adam diciptakan dari tanah

2. Tidak Menyesal

Ketika Allah mengusirnya dari surga, ia sama sekali tak menyesal. Ada satu kisah tentang setan dan Nabi Musa.

Pernah setan la’natullah, mengatakan pada Nabi Musa, “Wahai Musa, aku ingin bertaubat.”

Nabi Musa: “Baik, aku akan sampaikan pada Allah.”

Setan: “Ya, sampaikanlah, aku takkan menggoda manusia lagi.”

Bertemulah dua orang kekasih, Nabi Musa dan Rabb-nya, Allah SWT.

Nabi Musa pun menyampaikan perkataan setan, dan Allah menjawab: “Boleh, tapi ada syaratnya.”

Nabi Musa pun menemui setan. Ia berpikir, ‘pasti setan akan menuruti segala perintah Allah, agar ia tak masuk neraka.’

Setan: “Baiklah, aku akan melakukan apapun yang Allah perintahkan.”

Kembalilah Nabi Musa menemui Allah SWT,

Nabi Musa: “Ya Allah, setan akan melakukan apapun yang kau perintahkan.”

Allah: “Aku perintahkan ia untuk bersujud pada kuburan Nabi Adam…”

Ketika setan mendengar perintah tersebut, kembalilah keangkuhan memolesi hatinya,

“Wahai Musa! Bagaimana mungkin? Ketika Adam masih hidup saja aku tak sudi bersujud padanya, bagaimana aku bersujud padanya sekarang, sedangkan ia telah jadi mayit?!”

Maka Nabi Musa mengadukan hal ini kepada Allah,

Allah: “Aku takkan menerima taubatnya!”

Na’udzubillah mindzalik…

SMPM 5 Pucang SBY

3. Tidak Menyalahkan Dirinya

Orang lemah adalah orang yang selalu mencari kesalahan orang lain. Bahkan ketika ia salah pun, ia masih menyalahkan orang lain.

Kebiasaan mencari kesalahan orang lain untuk menutupi kekurangan atau kesalahan diri sendiri sering kali merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri.

Orang yang bersikap demikian biasanya memiliki mental yang belum matang dan kesulitan untuk menerima kenyataan atas tindakannya sendiri.

Mengkambinghitamkan (melempar kesalahan pada orang lain) adalah sifat tercela yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Islam mewajibkan umatnya untuk jujur, berani bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, dan melarang keras menuduh orang lain tanpa bukti yang sah, seperti firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 112

وَمَن يَكْسِبْ خَطِيٓـَٔةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِۦ بَرِيٓـًٔا فَقَدِ ٱحْتَمَلَ بُهْتَٰنًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.”

4. Tidak Berminat Tobat

ان الله يحب التوابين

Allah mencintai orang yang bertobat.

Apakah tak ingin kita menjadi makhluk yang dicintai Sang Khalik???

5. Putus Asa dari Rahmat Allah

و لا تيأس من رحمة الله

Janganlah berputus asa dari rahmat Allah!

Kalimat “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah” adalah terjemahan dari penggalan ayat Al-Qur’an (Surah Yusuf ayat 87), yaitu wa la tay’asu min rahmahillah.

Secara makna, kalimat ini adalah pengingat spiritual yang sangat dalam agar kita tidak pernah kehilangan harapan, baik dalam menghadapi kesulitan hidup, ujian, maupun dosa.

Berikut adalah rincian makna dan hikmahnya:

• Allah Maha Pengampun: Sebesar apa pun dosa atau kesalahan yang pernah diperbuat, pintu ampunan Allah SWT akan selalu terbuka bagi hamba-Nya yang mau bertaubat.

• Tidak Ada Jalan Buntu: Dalam menghadapi masalah, kegagalan, atau cobaan hidup, tidak ada alasan untuk merasa putus asa. Allah SWT selalu memiliki jalan keluar dan pertolongan yang tidak disangka-sangka.

• Larangan Berburuk Sangka: Putus asa sering kali membuat seseorang merasa ditinggalkan oleh Allah. Padahal, Allah SWT sangat menyayangi hamba-Nya dan ujian yang diberikan pasti sesuai dengan kesanggupan manusia itu sendiri.

Boleh kita bilang, “Aku tukang maksiat! Maksiat apa yang belum kulakukan?!”
Tapi jangan bilang, “Aku tukang maksiat! Allah tak mungkin mengampuniku.”

Allahumma ba’idna minhum. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 19/05/2026 21:14
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡