Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Karakter Ibrahimik Jadi Solusi di Tengah Zaman Penuh Gimik dan Pencitraan

Iklan Landscape Smamda
Karakter Ibrahimik Jadi Solusi di Tengah Zaman Penuh Gimik dan Pencitraan
Dr, Hidayatulloh menyampaikan tausiyah dalam pengajian di PCM Ngagel, Surabaya. Foto: Istimewa/PWMU.CO

Fenomena pencitraan, sensasi, dan budaya viral di media sosial dinilai semakin memengaruhi cara berpikir masyarakat modern. Terlebih di zaman penuh gimik dan pencitraan.

Kondisi ini mendorong umat Islam untuk kembali meneguhkan nilai tauhid, kejujuran, integritas, dan keteladanan sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim as.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim Dr. Hidayatullah, M.Si dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngagel Surabaya yang digelar pada Ahad (17/5/2026).

Dalam kegiatan yang dihadiri ratusan jamaah dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan organisasi otonom (Ortom) se-PCM Ngagel itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) itu mengusung tema “Mengadaptasi Karakter Ibrahimik di Zaman Gimik”.

Mengawali paparannya, Hidayatulloh menegaskan bahwa masyarakat saat ini hidup di tengah budaya yang sarat pencitraan.

“Saat ini kita hidup di zaman yang penuh pencitraan, sensasi, dan gimik,” ujarnya.

Dia lalu menjelaskan makna gimik yang kini banyak digunakan dalam berbagai bidang kehidupan.

“Apa itu gimik? Gimik adalah sesuatu alat atau trik yang digunakan untuk menarik perhatian. Sering digunakan dalam dunia hiburan, pemasaran, atau politik untuk mengelabui atau meyakinkan orang lain,” ungkapnya.

Menurutnya, di era digital saat ini, konten viral sering kali memaksa orang percaya terhadap sesuatu meskipun belum tentu benar.

Karena itu, masyarakat perlu memiliki fondasi tauhid dan nalar kritis agar tidak mudah terbawa arus.

Hidayatulloh menjelaskan, Nabi Ibrahim as merupakan sosok luar biasa yang disebut sebagai Abul Anbiya atau bapak para nabi. Nama dan kisah beliau disebut sebanyak 69 kali dalam Al-Qur’an.

Sifat pertama yang disoroti adalah kuatnya tauhid Nabi Ibrahim. “Sifat yang pertama, Nabi Ibrahim mempunyai tauhid yang kuat,” tegasnya.

menjelaskan bahwa sejak muda Nabi Ibrahim berusaha mencari Tuhan yang sebenarnya dengan menggunakan akal sehat dan pengamatan terhadap alam semesta.

Ibrahim memperhatikan bintang, bulan, dan matahari hingga akhirnya menyimpulkan bahwa Tuhan bukanlah benda-benda langit, melainkan pencipta seluruh alam.

Kisah pencarian Tuhan itu diabadikan dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Al-An’am ayat 76.

Menurut Hidayatulloh, karakter tauhid Nabi Ibrahim relevan untuk diterapkan pada masa sekarang, terutama ketika masyarakat dibombardir informasi dan tren media sosial.

“Tauhid mengajarkan kita untuk mencari kebenaran yang substansial. Kita tidak boleh mudah terpengaruh hoaks, tren, atau pencitraan di media sosial,” ujarnya.

Berani Menyampaikan Kebenaran

Karakter kedua, sebut Hidayatulloh,  Nabi Ibrahim adalah keberanian menyampaikan kebenaran dan mengoreksi kesalahan.

Dia menjelaskan bagaimana Nabi Ibrahim berdialog secara santun namun kritis kepada ayah dan kaumnya yang menyembah berhala.

Peristiwa itu diabadikan dalam QS Maryam ayat 42.

Dalam kisah lainnya, Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala kecil dan meletakkan kapak di berhala terbesar untuk menggugah logika kaumnya.

“Dengan begitu Nabi Ibrahim berani tampil beda sehingga muncul tauhid kontra budaya,” katanya.

Hidyatulloh menilai,  sikap tersebut sangat relevan di tengah kehidupan modern yang sering mengukur kebahagiaan melalui gaya hidup konsumtif dan hedonistik.

“Kita harus berani bersikap jujur dan memegang prinsip meski berbeda dengan arus utama. Berani menolak gaya hidup konsumtif atau hedonistik yang dipamerkan sebagai ukuran kebahagiaan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, dia juga menukil hadis tentang pentingnya kejujuran yang diriwayatkan Imam Ahmad, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban.

SMPM 5 Pucang SBY

“Jika anda jujur akan muncul kebaikan. Jika kebaikan muncul akan masuk surga. Sedangkan kedustaan akan melahirkan malapetaka,” jelasnya.

Dia menambahkan, Nabi Ibrahim maupun Nabi Muhammad SAW merupakan teladan kejujuran. Bahkan Nabi Muhammad mendapat gelar Al-Amin karena sifat jujurnya.

Karakter Ibrahimik Jadi Solusi di Tengah Zaman Penuh Gimik dan Pencitraan
Dr. Hidayatulloh bersama pengurus PCM Ngagel Surabaya. Foto: Istimewa/PWMU.CO

Karakter berikutnya, terang Hidayatulloh adalah konsistensi Nabi Ibrahim dalam keyakinan dan tindakan.

Saat menghancurkan berhala, Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa keyakinan bukan sekadar ucapan, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Akibat keberaniannya itu, beliau dibakar hidup-hidup oleh Raja Namrud dan kaumnya sebagaimana dikisahkan dalam QS Al-Anbiya ayat 68–70.

Namun ancaman tersebut tidak menggoyahkan keimanannya. “Ini mengindikasikan Ibrahim mempunyai sikap teguh dan tidak goyah oleh ancaman,” katanya.

Menurutnya, sikap istiqamah sangat dibutuhkan di era pragmatis dan oportunis saat ini.

“Kita harus mampu menyelaraskan keyakinan internal dengan tindakan nyata, menolak terlibat dalam korupsi, manipulasi data, maupun suap,” tegasnya.

Keteladanan dalam Keluarga

Hidayatulloh juga menyoroti keteladanan Nabi Ibrahim dalam membangun keluarga yang taat kepada Allah SWT.

Ia menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim baru dikaruniai anak pertama, Nabi Ismail AS, pada usia 86 tahun. Namun setelah itu Allah memerintahkannya meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di lembah tandus Makkah sebagaimana dikisahkan dalam QS Ibrahim ayat 37.

Dalam kondisi sulit tersebut, Nabi Ismail kecil menghentakkan kaki hingga memancarkan air zamzam, sedangkan perjuangan Siti Hajar berlari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah kemudian menjadi bagian dari rukun haji, yakni sai.

Ujian Nabi Ibrahim tidak berhenti sampai di sana. Dalam mimpinya, beliau diperintahkan menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail, sebagaimana tertuang dalam QS As-Saffat ayat 100–105.

“Maka keduanya melaksanakan perintah Allah dengan penuh ketaatan. Ketika akan disembelih, Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba besar,” jelasnya.

Menurut Hidayatullah, nilai pengorbanan Nabi Ibrahim sangat relevan dalam kehidupan modern, termasuk dalam dunia bisnis dan pekerjaan.

“Dalam kehidupan sekarang, kita harus berani mengambil keputusan secara jujur, meninggalkan penghasilan ilegal, serta bersedia ‘menyembelih’ ego pribadi, status sosial, obsesi materi, dan pragmatisme,” ujarnya.

Hidayatulloh juga mengaitkan kisah Nabi Ibrahim dengan ibadah kurban sebagaimana disebut dalam QS Al-Kautsar ayat 1–2.

Dia turut menyampaikan hadis Rasulullah SAW tentang ancaman bagi orang yang mampu berkurban namun enggan melaksanakannya.

“Barangsiapa yang mempunyai kelapangan harta tetapi ia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami,” kutipnya dari hadis riwayat Ahmad dan Ibnu Majah.

Di akhir kajiannya, Hidayatulloh menyimpulkan bahwa karakter Ibrahimik merupakan solusi di tengah budaya gimik yang semakin dominan.

“Di era gimik ini, pencitraan dianggap lebih penting daripada kualitas, viral lebih dicari daripada manfaat, dan popularitas lebih penting daripada integritas. Karena itu karakter Ibrahimik menjadi solusi,” tandasnya.

Dia mengajak umat Islam untuk kembali meneguhkan nilai tauhid, integritas, ketulusan, pengorbanan, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengajian Ahad Pagi PCM Ngagel sendiri merupakan agenda rutin bulanan yang diikuti jamaah dari berbagai AUM dan Ortom di lingkungan PCM Ngagel. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 17/05/2026 09:59
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡