Muhasabah, menghitung diri utamanya tentang kekurangan dan kekhilafan, dapat juga suatu ucapan, sikap, dan tindakan yang telah dilakukan seseorang yang sangat perlu dievaluasi.
Dalam Surat Al Hadyr : 18, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman :
” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Seruan Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang menggugah ini mengingatkan orang-orang yang beriman untuk mengumpulkan bekal hari akhir, yang manusia akan dimintai pertanggungjawaban satu per satu dan tidak ada lagi yang membantu.
Mengevaluasi diri, perbuatan yang salah untuk menjadi hamba yang lebih baik dari sebelumnya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman :
” Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.”
Al Baqarah : 48
Kedua ayat di atas hendaknya dijadikan inspirasi orang-orang yang beriman agar semangat dalam berlomba dalam kebaikan dan mengingat apa yang dilakukan di dunia akan dipertanggungjawabkan.
Bagi saudara kita yang sedang berhaji dan telah menunaikan haji tentu akan mengenang perenungan ketika bermalam di Muzdalifah, betapa kecilnya dan hinanya seorang hamba di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
” Berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam(Muzdalifah) Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.”
Al Baqarah : 198
Di Muzdalifah, tidur beratap langit dan bertikarkan bumi merupakan suatu sentuhan kemewahan rohani yang tidak ternilai harganya.
Di sinilah kita merenungi betapa dahsyatnya hari akhir yang menggugah untuk menyiapkan bekal menghadapinya, karena setiap manusia akan maju dan siap ditanya.
Di Muzdalifah adalah tempat menghilangkan sifat egois yang kerap kali merasuk dalam jiwa, merasa paling berjasa, paling hebat, cerdas, dan paling menentukan.
Maka di sini pula tempat kita mengadu atas kelemahan diri yang tak akan sanggup mengatasinya.
Di sini orang-orang yang sedang menjalankan ibadah haji tidur dengan tempat yang sangat terbatas dan lebih sempit dibanding tidur di rumah sendiri. Tentu hal ini akan menggugah rasa syukur bercampur rasa takut serta siap melakukan ketaatan.
Perenungan di Muzdalifah menjadikan kesadaran seorang hamba untuk mengukir prestasi kebaikan dan siap mengubur segala kemunkaran, tidak mudah membanggakan diri, serta beraktivitas sesuai yang diperintahkan Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
Sungguh perenungan di Muzdalifah ini menginspirasi, memompa semangat, serta menyiapkan bekal hari akhir dengan amal sholeh sebanyak-banyaknya.
Tak lupa meningkatkan hubungan baik kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan sesama manusia. Semua dilakukan untuk mengejar prestasi “Takwa”.





0 Tanggapan
Empty Comments