Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ibrah dari Lembah Bakkah

Iklan Landscape Smamda
Ibrah dari Lembah Bakkah
Oleh : Agus Rosid Pekerja Sosial, Alumni STKS Bandung dan Ketua Pemuda Muhammadiyah Bubutan Barat Surabaya 1987–1990

Apa yang akan terjadi ketika seorang suami, demi menjalankan perintah, harus meninggalkan istri dan anaknya tanpa bekal yang cukup?

Di masa kini, hal semacam ini tentu dianggap sebagai tindakan penelantaran.

Namun dalam lanskap sejarah, ada contoh yang memutarbalikkan logika manusia.

Peristiwa ini memang pernah terjadi, dan benar-benar tercatat dalam perjalanan peradaban manusia, bahkan menjadi riwayat yang sangat akrab di telinga umat Islam.

Hanya saja, peristiwa itu memang tidak pernah dirancang untuk diukur menggunakan logika manusia biasa.

Sebab, momen ini adalah titik awal dari skenario besar Allah dalam mempersiapkan sebuah peradaban mulia.

Semua dimulai dari padang pasir gersang yang kelak berujung pada kemunculan sosok utusan pembawa risalah terakhir.

Kisah ini menggambarkan perjalanan Nabi Ibrahim yang membawa istrinya, Hajar, beserta buah hati yang masih dalam buaian, Ismail, ke suatu tempat yang sunyi, bernama Bakkah.

Di lembah tandus yang hanya berupa hamparan pasir itu, Nabi Ibrahim meninggalkan mereka dengan bekal yang sangat minim dan tidak masuk akal.

Tidak ada kepastian logistik, tidak ada jaminan keamanan, hanya ada keteguhan hati Hajar saat ia bertanya: “Apakah Allah yang memerintahkan kamu melakukan ini?”

Nabi Ibrahim hanya mengiyakan dengan singkat.

Jawaban itu disambut dengan kalimat legendaris Hajar yang melintasi zaman: “Jika demikian, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Di era globalisasi yang serba cepat ini, peristiwa tersebut tidak kehilangan momentum untuk dihayati dan dijadikan ibrah pendidikan keluarga.

Di baliknya, tersirat hikmah agung tentang ketaatan tanpa batas, pengorbanan penuh ikhlas, serta keseimbangan ikhtiar lahiriah dan tawakal batiniah.

Nabi Ibrahim dan Hajar memperlihatkan bahwa ketaatan bukanlah soal “masuk akal” atau “menguntungkan”, melainkan tentang penerapan keyakinan tanpa banyak kata.

Nilai ini menjadi kian langka di masa kini, ketika hampir segala sesuatu diukur dengan parameter untung-rugi atau manfaat material.

Padahal, justru pada nilai spiritualitas itulah letak kekuatan sesungguhnya dari sebuah keluarga.

Begitu pula dengan spirit pengorbanan, keputusan Nabi Ibrahim meninggalkan keluarganya adalah puncak pengorbanan tertinggi —melepaskan ego kemanusiaan demi menjalankan perintah Tuhan tanpa bertanya maksud dan kehendak-Nya.

Namun di zaman ini, pengorbanan sering kali diukur secara transaksional.

SMPM 5 Pucang SBY

Orang cenderung berkorban sejauh ada imbal balik yang kasat mata.

Pengorbanan lahir karena ada kepentingan, bukan murni dari keikhlasan.

Hal ini sangat kontras dengan Hajar yang berlari antara Shafa dan Marwah.

Ia tidak sekadar berikhtiar secara lahiriah, tetapi karena dorongan keyakinan bahwa pertolongan Allah itu nyata.

Ia mengajarkan bahwa anugerah rezeki bisa datang dari arah yang tak terduga, selama ada pergerakan dan doa.

Sangat terasa perbedaannya di era serba materialistis ini, di mana manusia semakin menggantungkan hidupnya pada materi, tidak percaya rezeki ada yang mengatur, sampai harus berlomba-lomba hingga terkadang mengabaikan batasan-batasan yang seharusnya dijaga.

Nabi Ibrahim juga tidak meninggalkan keluarganya begitu saja tanpa bimbingan.

Ia titipkan mereka dalam doa yang panjang, dalam harapan yang tidak putus kepada Allah. “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berilah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 126).

Berkat doa dan ketangguhan mental itulah, sejarah besar peradaban manusia kemudian tumbuh subur.

Lembah Bakkah yang semula mati, kini menjadi kota suci Makkah; pusat magnet spiritual bagi jutaan manusia setiap tahunnya.

Dalam konteks modern, globalisasi memang memberikan akses luar biasa terhadap teknologi dan kemudahan hidup.

Namun, semua itu hanyalah kehampaan tanpa kehadiran nilai spiritualitas yang kokoh.

Di sinilah makna kurban yang akan kita laksanakan menemukan ruhnya.

Ia bukan sekadar ritual menyembelih hewan untuk menumbangkan sifat hewani dalam diri, melainkan upaya menghidupkan kembali semangat pengorbanan ribuan tahun lalu.

Kita belajar dari seorang ayah yang rela berpisah, seorang ibu yang tangguh mencari air di tengah gersangnya hidup, dan seorang anak yang sabar menerima ujian berat.

Pelajaran dari hamparan lautan pasir tandus Lembah Bakkah membuktikan bahwa ketahanan keluarga tidak terletak pada fasilitas yang serba lengkap, melainkan pada seberapa kokoh iman, doa, dan ketabahannya.

Akhirnya, kisah ini menuntun kita menjadi manusia yang lebih bijak, tahan banting, dan bermakna di tengah dunia yang serba instan.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 13/05/2026 09:38
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu