Alat transportasi apa yang dipakai KH Ahmad Dahlan saat berdakwah di Surabaya? Bagaimana KH Ahmad Dahlan pergi ke Peneleh atau Plampitan setelah turun di stasiun Semut? Dari kesaksian Soekarno muda, alat transportasi itu bukan cikar, dan bukan pula sampan atau perahu tambangan. Tapi dokar.
Sejarah mencatat bahwa KH Ahmad Dahlan naik kereta api dari Yogyakarta ke Surabaya. Turunnya di stasiun kota. Stasiun Semut, lebih tepatnya. Bagaimana Kiai Dahlan ke Peneleh-Plampitan dari stasiun? Berjalan kaki, naik dokar, naik cikar, atau naik sampan/perahu?
Setelah menelisik beberapa literatur, hampir dipastikan alat transportasi yang dipakai Kiai Dahlan naik dokar ke Peneleh. Yaitu alat transportasi tradisional berupa gerobak atau kereta beroda dua yang ditarik oleh satu atau dua ekor kuda.
Pada tahun 1916-an, dokar sudah menjadi alat transportasi di Surabaya. Meski belum menjadi kendaraan yang bisa dinaiki oleh setiap warga.
Tentang keberadaan dokar ini dikatakan oleh Soekarno muda yang saat itu hidup nge-kost di Peneleh. Dalam buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karya jurnalis Amerika Serikat, Cindy Adams. Disebutkan suatu saat Soekarno remaja sedang merenungi nasib bangsanya di atas jembatan Peneleh.
“Satu djam lamanja aku berdiri tak bergerak diatas djambatan ketjil jang melintasi sungai ketjil dan memandangi iring iringan manusia jang tak henti-hentinja.”
Poin penting dari kalimat itu, bahwa jembatan Peneleh yang menghubungkan wilayah Peneleh (kecamatan Genteng) dan Alun-alun Contong (kecamatan Bubutan) sudah ada sejak zaman dulu. Sementara Soekarno sendiri berdiri-termenung di atas jembatan itu selama 1 jam sambil melihat lalu lalang manusia.
“Aku melihat rakjat tani dengan kaki-ajam berdjalan lesu menudju pondoknja jang buruk,” lanjut Soekarno.
Kesaksian Soekarno ini menunjukkan bahwa transportasi di darat sudah lebih dominan dibanding transportasi sungai. Objek yang dijadikan perenungan Bung Karno adalah rakyat yang sedang berjalan. Entah itu di jalan Peneleh atau jalan Alun-alun Contong. Sungai yang di bawahnya tempat berdiri tidak dijadikan perhatian.
Di kesaksian selanjutnya, Bung Karno melihat adanya dokar sebagai alat transportasi. Meski jalan kaki dan naik dokar ini dijadikan bahan perbandingan Soekarno untuk nasib bangsa Indonesia dan Belanda. “Aku melihat Kolonialis Belanda duduk mentjekam diatas kereta terbuka jang ditarik oleh dua ekor kuda jang mengkilat,” jelas Bung Karno.
Meski dokar di kesaksian Soekarno dijadikan sebagai obyek kendaraan bangsa Belanda, tapia da konteks lain yang bisa ditelaah. Sangat dimafhumi bahwa umumnya penduduk Indonesia tidak bisa naik dokar. Tapi tentu saja ada Sebagian kecil yang bisa menyewa alat transportasi ini. Terutama para saudagar, serta mereka yang punya harta berlebih.
Pada sisi lain, KH Ahmad Dahlan bukanlah orang yang tidak berpunya. Dia adalah seorang saudagar batikyang penghasilannya digunakan secukupnya. Selebihnya, digunakan untuk berdakwah lewat Muhammadiyah, sebagaimana yang pernah dipesankannya sendiri.
Kiai Dahlan menggunakan dokar karena alasan praktis. Yaitu kebutuhan alat transportasi yang selain bisa membawa dirinya, juga dagangannya.
“Bacalah secara seksama buku Cindy Adams itu. Banyak kok yang secara implisit maupun eksplisit berbicara tentang Muhammadiyah dan tokoh-tokohnya,” pesan inisiator Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo, pada malam itu, Kamis 14 Mei 2026. (*)
Baca juga: Peneleh, Banteng Hijau Jadi Merah, Dokar-Sampan KH Ahmad Dahlan





0 Tanggapan
Empty Comments