Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Tiga Sekolah Bersatu di Satu Panggung, Kolaborasi Epik Warnai ME Awards 2026

Iklan Landscape Smamda
Ketika Tiga Sekolah Bersatu di Satu Panggung, Kolaborasi Epik Warnai ME Awards 2026
Penampilan Tiga Sekolah Bersatu di Satu Panggung, Kolaborasi Epik Warnai ME Awards 2026. (Choirun Nisa/PWMU.CO)
Oleh : Zahrah Khairani Karim

Lampu panggung menyala. Musik mulai mengalun. Gerakan tari perlahan mengisi ruang. Di atas panggung, tidak tampak lagi sekat antarjenjang maupun antarsekolah. Yang terlihat adalah satu pertunjukan yang dibangun dari berbagai potensi.

Itulah yang tersaji dalam penampilan kolaboratif pada Muhammadiyah Education (ME) Awards 2026. Tiga sekolah Muhammadiyah, yakni MTs Muhammadiyah 1 Malang, SD Aisyiyah Kota Malang, dan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya, menyatukan kreativitas mereka dalam sebuah pertunjukan seni yang memadukan tari dan musik.

MTs Muhammadiyah 1 Malang atau Matsamutu tampil melalui tim tari dengan membawakan tiga karya, yakni Bapang, Saman, dan tari kontemporer. Sementara itu, SD Aisyiyah Kota Malang menghadirkan Lir Ilir, Bunga Jumpo, dan Kumpul Sama Teman.

Di balik penampilan tersebut, SMA Muhammadiyah 10 Surabaya mengambil peran sebagai pengiring musik untuk seluruh rangkaian pertunjukan. Masing-masing sekolah membawa kekuatan yang berbeda, tetapi semuanya diarahkan untuk membangun satu pertunjukan yang utuh.

Bagi Wakil Kepala Kesiswaan MTs Muhammadiyah 1 Malang, Muhlis Ahmat, M.Pd., pertunjukan tersebut menjadi pengalaman yang menarik karena prosesnya tidak dibangun dalam waktu yang panjang secara bersama-sama.

Ada proses menerjemahkan gagasan, menyelaraskan musik, hingga mempertemukan gerakan tari dengan aransemen yang telah disiapkan.

Prosesnya dimulai dari koordinasi konsep. Setelah konsep disepakati, gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam musik oleh tim yang terlibat. Musik kemudian dikirim ke Malang untuk disesuaikan dengan kebutuhan penampilan tari dan paduan suara.

“Awalnya kami koordinasi konsep. Setelah konsep jadi, kemudian diterjemahkan ke musik. Musik dikirim ke Malang, lalu kami menerjemahkan untuk kebutuhan paduan suara maupun tari,” ujar Muhlis.

Latihan pun dilakukan oleh masing-masing tim. Para penari mempersiapkan koreografi, sementara tim musik menyiapkan aransemen untuk mengiringi seluruh penampilan.

Pertemuan secara langsung baru dilakukan menjelang hari pelaksanaan. Dua hari sebelum ME Awards 2026 digelar, seluruh unsur pertunjukan dipadukan di MTs Muhammadiyah 1 Malang.

“H-2 kami memadukan langsung di MTs Muhammadiyah 1 Malang,” kata Muhlis.

Waktu yang singkat untuk mempertemukan berbagai unsur tersebut justru menjadi bagian menarik dari proses kolaborasi. Setiap tim harus saling menyesuaikan agar musik, gerakan, dan perpindahan penampilan dapat berjalan dalam satu kesatuan.

Kolaborasi tersebut bukan hadir tanpa alasan. Ada ekosistem yang mempertemukan sekolah-sekolah tersebut.

Muhlis menjelaskan, salah satu awal gagasan tersebut berasal dari keberadaan komunitas Lentera School di bawah Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Lowokwaru.

Komunitas tersebut kemudian bertemu dengan kebutuhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur untuk menghadirkan penampilan kolaboratif dari sekolah-sekolah Muhammadiyah.

SMPM 5 Pucang SBY

“Kebetulan PCM Lowokwaru punya komunitas Lentera School di bawah Majelis Dikdasmen. Dari situ kemudian klop dengan kebutuhan PWM untuk penampilan kolaboratif sekolah unggul PWM dengan komunitas seperti Lentera School,” ungkapnya.

Pertemuan antara kebutuhan dan potensi itulah yang kemudian melahirkan sebuah karya bersama. Sekolah tidak lagi berdiri sebagai entitas yang tampil sendiri-sendiri, tetapi saling mengisi dengan kekuatan yang mereka miliki.

MTs Muhammadiyah 1 Malang membawa kekuatan seni tari. SD Aisyiyah menghadirkan beragam penampilan seni. Sementara SMA Muhammadiyah 10 Surabaya menjadi penggerak musik yang menyatukan keseluruhan pertunjukan.

Kolaborasi serupa juga hadir dalam penampilan lainnya. SD Muhammadiyah 4 Malang atau SD Mupat turut berkolaborasi dengan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya untuk membawakan lagu Indonesia Raya dan Sang Surya.

ME Awards selama ini dikenal sebagai ruang apresiasi terhadap prestasi siswa, guru, tenaga kependidikan, sekolah, dan madrasah Muhammadiyah. Namun, panggung seni dalam gelaran 2026 menunjukkan bahwa ada nilai lain yang juga penting: kemampuan untuk bertemu, bekerja bersama, dan saling melengkapi.

Bagi para peserta, kolaborasi tersebut bukan sekadar persiapan untuk sebuah penampilan. Ada pengalaman belajar yang berlangsung di dalamnya.

Mereka belajar bahwa sebuah pertunjukan tidak harus lahir dari satu sekolah atau satu kelompok saja. Potensi yang berbeda justru dapat menjadi kekuatan ketika disatukan.

Hal itu pula yang membuat Muhlis memberikan apresiasi terhadap proses dan hasil penampilan tersebut. Ia berharap pengalaman tersebut tidak berhenti pada panggung ME Awards 2026.

Menurutnya, masih banyak ruang yang dapat dimanfaatkan sekolah dan madrasah Muhammadiyah untuk membangun kolaborasi di masa mendatang.

“Luar biasa, sangat berkesan, dan merupakan kolaborasi yang epik. Semoga ada kesempatan lagi, dan sekolah atau madrasah Muhammadiyah terus bertumbuh,” harapnya.

Pada akhirnya, penampilan tersebut mungkin hanya berlangsung beberapa menit di atas panggung. Namun, proses di baliknya meninggalkan cerita yang jauh lebih panjang.

Di panggung ME Awards 2026, mereka tidak hanya menunjukkan apa yang bisa dilakukan sendiri. Mereka menunjukkan apa yang bisa diwujudkan ketika potensi itu tumbuh bersama.(*)

Revisi Oleh:
  • Zahrah Khairani Karim - 10/08/2026 08:59
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu