Entah bagaimana cara Allah menggerakkan hati hamba-Nya dari tiga penjuru—pusat, wilayah, dan daerah—menuju satu titik, cabang dan ranting, yang ternyata sudah lama tak tersentuh air langit.
Tanah yang telah lama menunggu air itu berada di pesisir selatan Jawa Timur, tepatnya di Desa Bulurejo dan Tegalrejo, Kecamatan Tempursari. Bertahun-tahun, namanya identik dengan satu kalimat yang terus diulang warga, “di sini susah hujan”.
Kemarau panjang bukan sekadar musim. Ia telah menjadi watak tanah. Sumur mengering. Biasanya pisang dan salak melimpah, namun saat ini keduanya tak lagi berbuah. Sepanjang jalan, kiri dan kanan, tak lagi tampak tumpukan salak yang biasa berjajar dan mudah ditemui ketika orang ingin membeli.
Tanaman jagung kerdil sebelum berbuah, sementara angin laut membawa garam lebih banyak daripada membawa awan. Orang tak lagi ingat bagaimana rasanya kehujanan di sore hari.
Lalu sesuatu terjadi. Bukan proyek besar dari kota, bukan teknologi mahal. Yang datang adalah bibit cemara laut dan barisan doa.
Hanya dalam hitungan menit, kemudian langit yang semula pelit menurunkan air. Kini, hujan mengguyur tiga kali sehari. Kami menyebutnya “semesta mendukung”.
Tempursari, sebelum cemara laut datang dari kota, menjadi catatan panjang dalam kekeringan di wilayah ini. Bulurejo dan Tegalrejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, berada di jalur pantai yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia.
Secara geografis indah, tetapi secara hidrologi berat.
Tanahnya berpasir dan air cepat meresap. Vegetasi penahan angin nyaris tidak ada. Setiap kali musim kemarau datang, debu beterbangan sampai ke serambi rumah.
Warga bertahan dengan bertani seadanya dan menadah air hujan di bak-bak besar ketika kebetulan ada hujan.
Berbagai cara telah dicoba. Namun, tanpa penutup vegetasi di pesisir, angin kencang dan abrasi terus menggerus. Hujan yang turun pun cepat lari ke laut, tidak sempat meresap dan menghidupi tanaman yang ada.
Di titik inilah muncul gagasan sederhana, yaitu mengembalikan cemara laut ke Bulurejo dan Tegalrejo.
Cemara laut diharapkan bisa menjadi penjaga pantai yang diam. Cemara laut, atau Casuarina equisetifolia, bukan pohon asing di pesisir Jawa.
Bu Rachmawati Husein, Ph.D dalam workshop dan TOT yang bertajuk Pengurangan Resiko Bencana dalam Perawatan Cemara Laut, menyampaikan materi yang benar-benar mencerahkan.
Beliau berkata: “Daunnya seperti jarum, akarnya kuat menahan pasir, dan tajuknya memecah angin laut. ”
Kalimat ini sungguh tertanam kuat di pikiran dan hati kami, para peserta workshop calon relawan yang akan mengasuh cemara laut ini.
Lebih dari itu, cemara laut punya fungsi ekologis penting. Pertama, bisa menjadi penahan abrasi. Akarnya mengikat tanah agar tidak dibawa ombak.
Cemara laut juga berfungsi sebagai penangkap embun dan kabut laut. Pada malam hari, uap air laut yang terbawa angin menempel di daun cemara lalu menetes ke tanah.
Di samping itu, cemara laut juga berfungsi sebagai pencipta mikroklimat. Di bawah rimbun cemara, suhu turun 2–3 derajat, kelembapan naik, dan tanah tidak sepanas dulu.
Maka, bersamaan dengan lembutnya hati para perempuan Aisyiyah dalam gerakan PELITA—Perempuan Aisyiyah Lindungi Pesisir Bangun Ketangguhan—yang direalisasikan di dua desa di Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, pada Ahad, 6 September 2026, warga Aisyiyah dan Muhammadiyah serta ortomnya, yang juga didukung penuh oleh perangkat desa dan masyarakat bersama relawan TRS dan BSD serta Tapak Suci Pemuda Tempursari, menanam ribuan bibit cemara laut di sepanjang garis pantai.
Bukan satu atau dua orang. Gerakannya kolektif, dari pemuda hingga ibu-ibu.
Doa yang turun dari pusat sampai ranting inilah yang membuat penanaman ini berbeda. Melangitnya barisan doa yang mengiringi penanaman, yang didengar khusyuk oleh sejuta debur ombak pantai selatan di Watu Godek, kemudian diamini oleh sayup hembusan angin semilir, membawa pijar-pijar pasir doa menembus langit ketujuh.
Pimpinan Aisyiyah, organisasi sayap perempuan Muhammadiyah yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan kemanusiaan, mulai dari Pimpinan Pusat, Wilayah Jawa Timur, Daerah Lumajang, hingga cabang dan ranting, turut menguatkan gerakan tersebut.
Sebelum sekop pertama ditancapkan, digelar doa bersama. Tidak mewah, hanya berdiri berjajar di atas pasir, yang dimulai dengan menggelar sajadah malam di rumah Pak Rondy, Camat Tempursari, dengan membisikkan suara yang lembut namun kompak memohon kepada Sang Pencipta.
Isi doanya sederhana, memohon agar tanah yang gersang kembali subur, agar air kembali turun, dan agar anak cucu punya masa depan di kampung sendiri.
Pimpinan Aisyiyah mengingatkan bahwa merawat alam adalah bagian dari ibadah.
“Menanam satu pohon sama dengan sedekah yang pahalanya terus mengalir,” begitu pesan yang disampaikan Ibu Ismokoweni, M.Si dalam materinya Sistem Pola Asuh.
Beliau juga mengingatkan bahwa mengasuh cemara laut laksana mengasuh bayi yang memerlukan sentuhan tangan dingin dan keikhlasan pengasuhnya.
Doa tidak berhenti di hari penanaman. Setiap pengajian rutin, nama Tempursari disebut dan diharapkan ada gerakan yang masif dari setiap warga untuk turut melestarikan lingkungan di wilayahnya dengan cara penggalangan bibit tambahan.
Selanjutnya, diharapkan bisa menuntun tangan-tangan dingin tetangga dan warga sekitarnya untuk turut menanam satu orang satu cemara laut. Jaringan Aisyiyah dari pusat sampai ranting seperti akar cemara yang saling menguatkan.
Keajaiban yang datang perlahan ini tampak pada rintik hujan yang turun dalam hitungan menit setelah penanaman.
Warga mulai merasakan perubahan kecil. Angin tidak sepanas siang tadi. Pasir di jalan mulai basah. Berikutnya, berharap awan mulai sering berkumpul di atas bukit belakang desa.
Saat rintik hujan pertama turun di sore hari itu, warga keluar rumah hanya untuk memastikan: “Apakah ini bener-bebar hujan?”
Malamnya, hujan pun turun cukup deras.
Dan kemudian berharap polanya terbentuk sehingga setiap hari Tempursari diguyur hujan. Bukan hujan lebat yang merusak, namun hujan yang cukup untuk membasahi tanah, mengisi sumur, dan membuat bibit cemara laut yang kita tanam tumbuh lebih cepat.
Bang Endra, salah satu peserta workshop, sampai berucap penuh makna:
“Telah lama kemarau tanpa hujan. Setelah workshop dan penanaman bagai mengantar dan melepas kepergian PP ‘Aisyiyah, PW ‘Aisyiyah, dan PD ‘Aisyiyah untuk mengantar Allah berkenan menurunkan hujan cukup deras di sore itu. Bahkan pagi harinya saat berangkat kerja hujan turun lagi yang membuat basah kuyup.”
Ia kemudian menyampaikan:
“Doa-doa dan dzikir memuji asma Allah oleh cemara sejalan dengan hembusan angin pantai yang bertiup dan doa penanamnya. Allah ridlo dan dijawab lewat hujan yang diturunkan di sore, malam, dan pagi ini. Andaikan kita mengerti bisikan cemara laut yang kita tanam, pastilah akan tedengar Ya Allah Ya Robku. Aku mendapat amanah untuk menahan abrasi atas area Tempursari dan sekitarnya. Keberadaanku juga untuk mengurangi dampak perubahan iklim bahkan pemanasan global. Maka turunkan air dari langit-Mu untuk kekuatanku tumbuh ya Rob. Aku tak ingin mengecewakan penanamku.
Penanaman cemara laut dalam jumlah besar diharapkan dapat mengubah iklim mikro. Dan ketika iklim mikro berubah, pola hujan lokal bisa ikut berubah.
Namun, warga Tempursari punya bahasa lain untuk menjelaskan hal ini. Mereka menyebutnya berkah.
Berkah dari kerja bersama. Berkah dari doa yang tidak putus dari Pimpinan Aisyiyah Pusat sampai Ranting. Berkah karena niatnya bukan untuk satu orang, tetapi untuk semua makhluk yang tinggal di tanah itu.
Dua penjelasan ini tidak bertentangan. Sains menjelaskan bagaimana, iman menjelaskan mengapa. Dan di Tempursari, keduanya berjalan beriringan.
Kesaksian dari Bapak Sribangun Endrajaya, PCM Tempursari, saat menyampaikan best practice di hadapan peserta workshop, bahwa dulu pernah sukses menanam 10.000.000 cemara laut hingga Tempursari ramai dikunjungi wisatawan.
Saat berdoa sekarang ini, benar-benar meresap dalam jiwa berharap Allah kabulkan penanaman ini sukses tumbuh dan berkembang dengan perawatan yang ikhlas dari kita.
Kesungguhan Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah Tempursari, Ibu Ima Wahyu S, dalam menyambut sepenuh hati untuk merealisasikan program PELITA yang dicanangkan oleh PP Aisyiyah dengan menanam 1.000 cemara laut tampaknya didukung oleh semesta.
Ketika manusia mau bekerja dan menanam, bukan hanya menuntut, semesta mendukung dengan doa yang diiringi ikhtiar. Pimpinan Aisyiyah selain berdoa, juga turun ke lapangan membawa bibit.
Semesta pun mendukung ketika yang kecil mau bergerak bersama. Dari Pusat yang memberikan arahan, Wilayah yang mengoordinasi, Daerah yang memfasilitasi, Cabang yang menggerakkan, sampai Ranting yang mempraktikkan di tanah.
Ini bukan tentang satu keajaiban instan. Ini tentang proses.
Cemara tidak tumbuh dalam sehari. Hujan tidak turun karena satu doa. Namun, ketika konsistensi bertemu harapan, hasilnya melampaui perhitungan.
Semua itu menjadi pelajaran bagi kita, khususnya perempuan Aisyiyah. Jejak kita di Tempursari meninggalkan tiga pelajaran penting.
Pertama, solusi ekologis sering kali sederhana. Tidak selalu membutuhkan teknologi mahal. Kadang yang dibutuhkan hanya mengembalikan apa yang dulu ada: pohon di pantai.
Kedua, kekuatan jaringan. Tanpa Aisyiyah dari tingkat pusat sampai ranting, kegiatan ini mungkin hanya menjadi acara seremonial. Namun, karena ada struktur yang berjalan, ada pengajian yang mengingatkan, ada kader yang mengawal, maka penanaman menjadi gerakan.
Ketiga, hubungan manusia, alam, dan Tuhan. Kita sering memisahkan ketiganya. Padahal, merusak alam sama dengan mempersulit hidup manusia. Dan melupakan Tuhan membuat kita sombong, merasa bisa menguasai alam sendirian.
Sebagai penutup, hujan yang menjadi cermin. Bagi mereka, hujan bukan lagi sesuatu yang diminta dengan putus asa. Hujan menjadi pengingat bahwa ketika manusia mau menanam dan mau berdoa, maka semesta akan menjawab.
QS. Al-A’raf: 56
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
Kita menanam di tanah. Allah yang menumbuhkan. Kita berdoa dengan lisan. Langit yang mengaminkan.
Tempursari membuktikan itu.
Dari tanah yang tak pernah hujan, kini setiap hari basah. Bukan karena mukjizat yang jatuh dari langit begitu saja. Namun, karena ada tangan yang menanam, ada doa yang dipanjatkan, dan ada semesta yang memilih untuk mendukung.
Semoga kisah ini mengingatkan kita bahwa perubahan besar selalu dimulai dari bibit kecil dan doa yang istiqamah.





0 Tanggapan
Empty Comments