Allah telah menciptakan tujuh jalan menuju surga untuk hamba-hamba-Nya. Jalan-jalan itu bukan sekadar teori dalam kitab-kitab agama, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari manusia.
Ada orang yang menempuhnya dengan air mata, ada yang melaluinya dengan pengorbanan, dan ada pula yang tanpa sadar sedang berjalan di atasnya lewat amal-amal sederhana yang dilakukan dengan tulus.
Engkau bisa melalui salah satunya. Atau jika Allah memberi kekuatan lebih, engkau bisa berjalan melalui banyak jalan sekaligus.
Jalan pertama diciptakan bagi hamba-hamba-Nya yang Ikhlas.
Ikhlas adalah amal yang sunyi dari pujian manusia. Ia seperti akar pohon yang tidak terlihat, tetapi justru menjadi penopang kehidupan.
Banyak orang mampu berbuat baik, tetapi tidak semua mampu menyembunyikan rasa ingin dipuji.
Betapa banyak seorang ibu yang bangun sebelum Subuh untuk menyiapkan makanan keluarga, lalu tidur paling akhir tanpa pernah meminta penghargaan.
Tidak ada tepuk tangan untuknya, tidak ada sorotan kamera, tetapi Allah melihat setiap kelelahan yang ia sembunyikan. Itulah ikhlas.
Ada pula seseorang yang diam-diam membantu tetangganya membayar biaya sekolah anak, tanpa pernah menyebut namanya. Ia tidak ingin dikenal manusia, sebab yang ia cari hanyalah ridha Allah.
Jalan kedua diciptakan bagi hamba-hamba-Nya yang Sabar.
Sabar bukan berarti tidak menangis. Sabar adalah tetap bertahan di jalan Allah meski hati berkali-kali ingin menyerah.
Ada orang yang bertahun-tahun mencari pekerjaan, berpindah dari satu pintu ke pintu lain, namun tetap menjaga salatnya.
Ada seorang ayah yang harus bekerja sejak pagi hingga malam demi keluarga, sementara tubuhnya lelah dan pikirannya penuh beban.
Namun ia tetap tersenyum di depan anak-anaknya agar mereka tidak ikut merasa susah.
Itulah sabar yang sesungguhnya.
Sabar juga tampak pada seorang yang diuji sakit bertahun-tahun, tetapi lisannya tetap basah dengan zikir, bukan keluhan. Sebab ia yakin, setiap rasa sakit yang ditanggung dengan sabar akan menggugurkan dosa-dosa.
Jalan ketiga diciptakan bagi hamba-hamba-Nya yang Tawakal.
Tawakkal bukan berarti diam tanpa usaha. Tawakkal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik.
Seorang petani tetap menanam padi meski musim kadang tidak menentu. Ia tahu hujan bukan kuasanya, tetapi menanam adalah kewajibannya. Setelah itu ia berdoa dan berserah diri kepada Allah.
Begitu pula seorang mahasiswa yang telah belajar keras menghadapi ujian. Ia membaca, mengulang pelajaran, dan mempersiapkan diri semampunya.
Setelah itu ia mengangkat tangan di sepertiga malam, memohon hasil terbaik kepada Rabb-nya. Itulah tawakkal.
Jalan keempat diciptakan bagi hamba-hamba-Nya yang Takwa.
Takwa adalah menjaga diri meski tidak ada manusia yang melihat. Ia lahir dari kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi.
Di zaman ketika banyak orang mudah tergoda oleh harta haram, masih ada pegawai yang menolak suap meski gajinya kecil.
Masih ada pedagang yang jujur dalam timbangan walaupun bisa saja ia curang tanpa diketahui pembeli.
Mungkin dunia tidak memuji mereka. Bahkan terkadang mereka dianggap bodoh karena terlalu jujur. Namun sesungguhnya mereka sedang berjalan di jalan pulang menuju Allah.
Jalan kelima diciptakan bagi hamba-hamba-Nya yang banyak Bersyukur.
Bersyukur bukan hanya saat mendapat nikmat besar. Bersyukur adalah kemampuan melihat karunia Allah dalam hal-hal kecil yang sering diabaikan manusia.
Ada orang yang tetap tersenyum meski rumahnya sederhana, karena ia masih memiliki keluarga yang mencintainya. Ada seorang bapak yang makan dengan lauk seadanya, tetapi sebelum menyentuh makanan ia berkata, “Alhamdulillah, hari ini Allah masih memberi rezeki.”
Sebaliknya, ada manusia yang hidup bergelimang harta tetapi hatinya selalu kurang. Karena ternyata kebahagiaan bukan tentang banyaknya nikmat, melainkan kemampuan mensyukurinya.
Jalan keenam diciptakan bagi hamba-hamba-Nya yang banyak berbuat Kebaikan.
Kebaikan sekecil apa pun tidak pernah sia-sia di sisi Allah.
Mungkin hanya sekadar menyingkirkan batu di jalan agar orang lain tidak tersandung. Mungkin hanya memberi senyum kepada orang yang sedang sedih. Atau sekadar mendengarkan keluh kesah seseorang yang hatinya sedang rapuh.
Ada orang yang hidup biasa-biasa saja, tetapi kematiannya membuat banyak orang menangis karena semasa hidup ia sering membantu tanpa diminta. Ia tidak terkenal, namun keberadaannya menenangkan banyak hati.
Kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan terus-menerus bisa menjadi jalan pulang menuju surga.
Jalan ketujuh diciptakan bagi hamba-hamba-Nya yang berbakti kepada Orangtua.
Rida Allah bergantung pada rida orang tua. Betapa banyak orang yang hidupnya sempit bukan karena kurang usaha, tetapi karena melukai hati ayah dan ibunya.
Ada anak yang rela pulang larut malam setelah bekerja, tetapi masih menyempatkan duduk menemani ibunya berbicara.
Ada anak yang dengan sabar menyuapi ayahnya yang sakit, padahal dulu sang ayahlah yang menyuapinya ketika kecil.
Di zaman ketika banyak orang sibuk dengan dunia masing-masing, berbakti kepada orang tua menjadi amal yang semakin berat, namun justru semakin mulia.
Laluilah jalan mana yang Allah beri kekuatan kepadamu. Jika engkau telah menemukan jalanmu, maka pintu langit akan terbuka untukmu. Engkau akan mengerti bagaimana caranya pulang kepada Allah dengan hati yang tenang.
Namun bila sampai hari ini hati masih terasa jauh dari Allah, jangan sibuk menyalahkan keadaan. Bisa jadi ada yang perlu dibenahi dalam diri kita.
Mungkin ibadah yang masih lalai, mungkin ada dosa yang belum ditinggalkan, atau mungkin ada hati orang lain yang pernah kita sakiti.
Karena itu, introspeksi diri adalah langkah penting sebelum terlambat.
Jangan sampai umur habis sementara jalan pulang belum juga ditemukan. Sebab tempat kembali orang-orang yang terus-menerus durhaka adalah Sijjin. Na’udzubillahi min dzalik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kallaa inna kitaabal-fujjaari lafii sijjiin.”
“Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam Sijjin.” (QS. Al-Muthaffifin: 7). (*)





0 Tanggapan
Empty Comments