Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Transformasi Fundamental Pelaporan Keuangan serta Tantangan PSAK 118

Iklan Landscape Smamda
Transformasi Fundamental Pelaporan Keuangan serta Tantangan PSAK 118
Transformasi Fundamental Pelaporan Keuangan serta Tantangan PSAK 118
Oleh : Oleh: Dr. Anwar Hariyono Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik

Perubahan besar sedang bersiap datang di bidang akuntansi dan pelaporan keuangan di Indonesia. Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) telah menerbitkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 118 yang secara khusus mengatur penyajian dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Standar baru ini mengadopsi prinsip-prinsip dari International Financial Reporting Standards (IFRS) 18 dan akan menggantikan PSAK 201 secara efektif mulai 1 Januari 2027.

Pertanyaannya, apakah perusahaan dan para pemangku kepentingan benar-benar siap menghadapi revolusi pelaporan ini?

Persiapan Tidak Bisa Ditunda

Sekilas, tahun 2027 mungkin masih terasa lama. Namun, realitas operasional justru menuntut perusahaan bergerak jauh lebih cepat. PSAK 118 mengharuskan penerapan secara retrospektif, yang berarti perusahaan wajib menyajikan periode komparatif minimal satu tahun ke belakang.

Jika sebuah perusahaan menerapkan PSAK 118 untuk laporan keuangan tahun 2027, maka data komparatif tahun 2026 harus sudah menggunakan format baru. Bahkan, bagi perusahaan yang merencanakan aksi korporasi besar seperti Penawaran Umum Perdana (IPO), regulator umumnya meminta data komparatif hingga tiga tahun ke belakang. Artinya, persiapan praktis sudah harus dimulai sejak tahun 2025.

Dampak Besar bagi Seluruh Ekosistem

Kehadiran PSAK 118 melampaui batas departemen akuntansi perusahaan. Standar ini bersifat lintas industri dan menjangkau seluruh pembuat laporan keuangan di berbagai sektor bisnis.

Seluruh ekosistem pelaporan keuangan harus melakukan penyesuaian. Para penyusun laporan keuangan (preparer) dituntut merombak chart of accounts dan memastikan sistem teknologi informasi mereka mampu mendukung format baru. Auditor harus menyusun strategi transisi yang presisi agar informasi yang disajikan memenuhi ketentuan terbaru.

Di sisi lain, regulator perlu memperbarui metode evaluasi, sedangkan investor sebagai pengguna akhir harus beradaptasi dengan pola pembacaan laporan keuangan yang berbeda dari sebelumnya.

Transisi ini membutuhkan koordinasi lintas divisi yang masif, mulai dari manajemen senior, tim teknologi informasi, hingga divisi hubungan investor atau public relations.

Mengakhiri Kebingungan Investor

Selama bertahun-tahun, investor kerap kesulitan membandingkan kinerja antarperusahaan, bahkan dalam industri yang sama. Berdasarkan riset International Accounting Standards Board (IASB), dari 100 perusahaan yang disurvei, terdapat 61 perusahaan yang menyajikan angka laba operasi, tetapi menggunakan sembilan variasi metode perhitungan yang berbeda.

PSAK 118 hadir untuk mengakhiri ketidakkonsistenan tersebut melalui standar penyajian yang lebih seragam.

Standar ini memperkenalkan struktur baru yang mengharuskan perusahaan membagi laporan laba rugi ke dalam tiga kategori utama, yaitu aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

Sekilas, struktur ini tampak menyerupai laporan arus kas, namun prinsip kerjanya berbeda. Sebagai contoh, perusahaan manufaktur yang membeli pabrik akan mencatat transaksi tersebut sebagai aktivitas investasi dalam laporan arus kas. Namun, dalam laporan laba rugi berdasarkan PSAK 118, beban depresiasi pabrik masuk ke kategori beban operasi karena aset tersebut digunakan untuk menunjang aktivitas operasional sehari-hari.

Tantangan Penentuan Aktivitas Utama

Penentuan klasifikasi dalam PSAK 118 membutuhkan ketelitian dan professional judgment yang kuat, khususnya terkait penentuan “aktivitas usaha utama” perusahaan.

Sebagai contoh, beban bunga pinjaman pada perusahaan manufaktur umumnya masuk kategori aktivitas pendanaan. Akan tetapi, bagi industri perbankan yang bisnis utamanya menghimpun dan menyalurkan dana, beban bunga justru menjadi bagian inti operasional dan harus masuk dalam laba operasi.

SMPM 5 Pucang SBY

Kompleksitas ini semakin tinggi bagi grup konglomerasi dengan berbagai lini bisnis. Manajemen grup harus melakukan asesmen mendalam untuk menentukan segmen operasi utama secara konsolidasi. Seluruh proses penilaian profesional tersebut wajib didokumentasikan secara baik.

Menjaga Keseimbangan Informasi

PSAK 118 juga mengatur keseimbangan informasi melalui konsep agregasi dan disagregasi.

Selama ini, laporan keuangan sering terjebak dalam dua kondisi ekstrem: terlalu ringkas sehingga menghilangkan informasi penting, atau terlalu rinci hingga membingungkan pembaca.

Melalui PSAK 118, laporan utama seperti neraca dan laba rugi diarahkan untuk merangkum informasi material, sedangkan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) berfungsi menjelaskan detail-detail pendukungnya.

Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan informasi yang relevan tanpa membebani pembaca dengan lautan angka yang sulit dipahami.

Transparansi Ukuran Kinerja Manajemen

Salah satu inovasi paling signifikan dalam PSAK 118 adalah pengaturan mengenai Ukuran Kinerja Tetapan Manajemen (UKTM) atau Management Performance Measure.

Selama ini, perusahaan sering mempublikasikan metrik alternatif seperti EBITDA atau adjusted profit dalam siaran pers maupun laporan tahunan. Tidak jarang, angka tersebut terlihat jauh lebih menarik dibanding laba resmi dalam laporan keuangan.

Melalui PSAK 118, setiap metrik kinerja yang berkaitan dengan subtotal laba rugi dan dikomunikasikan kepada publik wajib direkonsiliasi dengan laporan keuangan resmi.

Manajemen harus menjelaskan secara transparan komponen yang menyebabkan perbedaan antara angka resmi dan metrik alternatif tersebut. Ketentuan ini secara efektif mempersempit ruang manipulasi citra kinerja perusahaan tanpa dasar perhitungan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Transformasi Fundamental Pelaporan Keuangan

PSAK 118 bukan sekadar revisi teknis pembukuan biasa. Standar ini merupakan transformasi fundamental yang mendorong peningkatan transparansi, komparabilitas, dan akuntabilitas dalam pelaporan keuangan.

Perusahaan yang menunda persiapan berisiko menghadapi krisis kepatuhan di masa mendatang. Karena penerapan dini diperbolehkan, saat ini menjadi momentum penting bagi seluruh pelaku industri untuk mulai mempelajari standar baru tersebut, memanfaatkan panduan dari IAI, serta memperkuat koordinasi internal.

Hanya dengan persiapan yang proaktif, perusahaan dapat melangkah mulus memasuki era baru pelaporan keuangan di Indonesia.

Revisi Oleh:
  • Satria - 17/05/2026 08:13
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡