Besok insya Allah memasuki awal bulan Zulhijah, bulan yang di dalamnya terdapat hari-hari terbaik sepanjang tahun. Pada hari-hari itu, pintu pahala dibuka begitu luas. Amal kecil yang mungkin biasa kita lakukan di hari lain, bisa menjadi sangat besar nilainya di sisi Allah. Berikut adalah berbagai amalan utama 10 hari pertama Zulhijah yang dianjurkan oleh agama Islam.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah melebihi amal pada sepuluh hari pertama Zulhijah. Karena itu, para ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah dan amal kebaikan pada hari-hari tersebut.
Di tengah kehidupan yang serba sibuk hari ini, sepuluh hari pertama Dzulhijjah menjadi momentum untuk kembali mendekat kepada Allah. Ada orang yang mungkin tidak mampu berhaji ke Tanah Suci, tetapi Allah tetap membuka banyak pintu pahala melalui amal-amal lainnya.
1. Haji dan Umrah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dari umrah ke umrah adalah tebusan dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga.”
Betapa beruntungnya orang-orang yang dipanggil Allah menjadi tamu-Nya di Tanah Suci. Namun bagi yang belum memiliki kesempatan, jangan merasa jauh dari rahmat Allah. Sebab semangat pengorbanan dan ketundukan dalam ibadah haji juga bisa dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ada seorang ayah yang setiap hari bekerja keras demi menghidupi keluarganya dengan rezeki halal. Ia menahan diri dari penghasilan yang haram meskipun peluang itu terbuka di depan mata. Kesabaran dan perjuangannya menjaga halal-haram itulah bagian dari ibadah yang sangat dicintai Allah.
2. Berpuasa, Terutama Hari Arafah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah, melebur dosa setahun sebelum dan sesudahnya.” (HR Muslim)
Puasa Arafah bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia melatih hati untuk lebih sabar, lebih lembut, dan lebih dekat kepada Allah. Selain Arafah, tentu juga ada puasa sunnah lain yang bisa dikerjakan: Senin-Kamis, ataupun puasa Dawud.
Sering kali dalam kehidupan, manusia terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa menenangkan jiwanya. Ada pegawai yang setiap hari dipenuhi target pekerjaan. Ada ibu rumah tangga yang lelah mengurus keluarga sejak pagi hingga malam.
Ada mahasiswa yang gelisah memikirkan masa depan. Dalam kelelahan itu, puasa menjadi ruang untuk berhenti sejenak, memperbaiki hati, dan mengingat bahwa hidup bukan hanya tentang dunia.
3. Perbanyak Takbir dan Zikir
Berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma: “Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR Ahmad)
Kalimat-kalimat dzikir terlihat ringan di lisan, tetapi sangat berat dalam timbangan amal. Kadang seseorang merasa hidupnya penuh masalah. Hatinya gelisah karena urusan ekonomi, pekerjaan, atau keluarga. Namun ketika lisannya mulai basah dengan kalimat Allahu Akbar, perlahan hatinya menjadi lebih tenang. Dzikir mengingatkan manusia bahwa Allah lebih besar dari semua persoalan hidup.
Ada orang tua sederhana yang setiap pagi berjalan ke masjid sambil melafalkan takbir pelan-pelan. Hidupnya mungkin tidak bergelimang harta, tetapi wajahnya teduh. Sebab hatinya dipenuhi kedekatan dengan Allah.
4. Bertobat dan Meninggalkan Maksiat
“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah.” (Hadis Muttafaqun ‘Alaihi)
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah juga menjadi waktu terbaik untuk memperbaiki diri. Taubat bukan hanya untuk orang yang merasa banyak dosa, tetapi juga untuk setiap manusia yang ingin lebih dekat kepada Allah.
Ada orang yang selama ini mudah marah kepada keluarganya. Ada yang terbiasa menunda salat. Ada yang lisannya sering melukai orang lain. Dzulhijjah mengajarkan bahwa perubahan selalu mungkin dimulai, meski perlahan.
Kadang taubat dimulai dari langkah sederhana: meminta maaf kepada orang tua, berhenti membuka hal-hal yang haram, atau mulai menjaga salat berjamaah. Langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas bisa menjadi awal perubahan besar dalam hidup seseorang.
5. Banyak Beramal Saleh
Berupa ibadah sunnah seperti salat, sedekah, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar, dan berbagai amal kebaikan lainnya. Sebab amalan-amalan tersebut dilipatgandakan pahalanya pada hari-hari ini.
Bahkan amal yang terlihat sederhana bisa menjadi sangat mulia di sisi Allah bila dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
Mungkin hanya membantu tetangga yang kesusahan. Mungkin sekadar membelikan makan orang yang lapar. Mungkin hanya mengirim pesan untuk menguatkan teman yang sedang sedih. Hal-hal kecil seperti itu sering dianggap biasa, padahal bisa menjadi amal besar di sisi Allah.
Ada seseorang yang diam-diam menyisihkan sebagian gajinya setiap bulan untuk membantu anak yatim. Tidak banyak orang yang tahu. Namun boleh jadi amal itulah yang justru menjadi penyelamat hidupnya di akhirat kelak.
6. Berkurban
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkurban dengan dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir.
Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan. Kurban adalah pelajaran tentang keikhlasan dan pengorbanan.
Dalam kehidupan, setiap orang sebenarnya sedang belajar berkurban. Ada orang tua yang mengorbankan tenaga dan waktunya demi pendidikan anak-anaknya. Ada guru yang tetap mengajar dengan penuh kesabaran meski lelah. Ada seseorang yang menahan ego demi menjaga persaudaraan.
Semua pengorbanan yang dilakukan karena Allah tidak akan pernah sia-sia.
Maka jangan biarkan sepuluh hari pertama Dzulhijjah berlalu tanpa amal. Bisa jadi inilah kesempatan terbaik yang Allah berikan untuk menghapus dosa, memperbanyak pahala, dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Karena kita tidak pernah tahu, apakah tahun depan masih diberi kesempatan bertemu kembali dengan Zulhijah





0 Tanggapan
Empty Comments