Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jum’at Pertama di Baitullah, Pengalaman Spiritual yang Tak Terlupakan

Iklan Landscape Smamda
Jum’at Pertama di Baitullah, Pengalaman Spiritual yang Tak Terlupakan
Pelataran Ka'bah, Jum'at 15 Mei 2026 pukul 11.50, persiapan menunggu Sholat Jum'at.
Oleh : Atika Nur Royyanah Mahasiswa S2 yang menekuni matematika

Alhamdulillah, saya berhaji bersama ibu saya. Kami masuk Mekkah Selasa dini hari 12 Mei 2026. Terima kasih, Yaa Allah.

Sungguh Istimewa

Jumat 15 Mei 2026, sangat spesial bagi saya. Setiap detik di dalamnya adalah keajaiban yang nyata. Ya, serba indah di hari keempat dalam perjalanan haji kami. Jum’at itu, Jum’at pertama saya di Tanah Suci.

Langkah kaki ini bukan lagi menuju hiruk-pikuk duniawi, melainkan menuju Masjidil Haram, tempat di mana doa-doa tak lagi berjarak. Tempat di mana para hamba Allah, menemukan kembali rumah sejatinya.

Pukul 7 pagi waktu setempat, kami dan rombongan sudah bersiap di halte 2 hotel 411 untuk menunggu “bus sholawat” untuk mengantar menuju Masjidil Haram seperti biasanya.

Tak pernah sekalipun terpikirkan dalam benak saya bahwa hari tersebut akan terjadi. Selain akan menjadi sholat Jum’at pertama di hidup saya, pun saya melakukannya di Baitullah. Masya Allah!

Selalu Alhamdulillah

Turun dari bus, kami berjalan ke arah pelataran Masjidil Haram. Dengan mengikuti arahan pembimbing kami, Ustadz Muhsin dari KBIHU Nurul Hikmah Pamekasan, kamipun memasuki pelataran Ka’bah.

Qadarullah, kami menempati tempat yang lengang meskipun bukan seperti yang kami rencanakan. Tadinya, mau yang beratap supaya tidak kena panas, tapi kami menempati tempat yang tidak beratap. Alhamdulillah.

Setelah itu masing-masing dari kami melakukan sholat Tahiyatul Masjid, dilanjutkan dengan Dhuha mengingat saat ini waktu menunjukkan pukul 08.14.

Payung Itu

Seiring berjalannya waktu, shaf-shaf di sekitar mulai terisi, termasuk di sebelah ibu saya. Tak lama, seorang perempuan di sebelah, menawarkan camilan. Beliau bercerita dari India. Dia pun menerima tawaran camilan dari kami.

Qadarullah, beliau tiba-tiba mengeluarkan payung dan kami pun kebagian payung tersebut. Alhamdulillah.

Payung itu, membuat saya tertegun. Saya merasa, itu adalah bagian dari Kasih Sayang Allah.

“Tenggelam” di Depan Ka’bah

Selama rentang waktu menunggu waktu sholat Jum’at tiba, kami melakukan kegiatan masing-masing. Saya menyelesaikan Al-Kahfi dan Al-Waqi’ah. Sedangkan ibu saya larut dalam untaian doa yang tak pernah henti.

Cukup ada rentang waktu yang panjang menunggu adzan dhuhur dikumandangkan. Di sela-sela waktu tunggu itu, Ibu mengingatkan saya, “Nak, ayo berdoa, kamu minta sendiri apa yang mau kamu minta sama Allah, yang menjadi hajatmu, cita-citamu”.

Setelah itu, suasana perlahan hening. Kami kembali tenggelam dalam kekhusyukan masing-masing. Di depan Baitullah yang agung, kami menumpahkan segala rasa, merapalkan doa-doa yang paling jujur dari lubuk hati terdalam. Tidak ada sekat, tidak ada rahasia. Benar-benar hanya ada hamba yang sedang mengetuk pintu langit, membisikkan semua pinta, harapan, dan keluh kesah secara langsung kepada Allah yang Maha Mendengar.

SMPM 5 Pucang SBY

Nikmat, Nikmat

Adzan berkumandang. Khutbah dimulai. Lalu, kami melakukan sholat Jum’at berjamaah.

Tidak bisa digambarkan bagaimana nikmatnya sujud kala itu. Sujud pertama saya, langsung di hadapan Ka’bah, beralaskan ubin Masjidil Haram di tengah teriknya matahari yang masya Allah nikmatnya. Di sujud itu, kami semua, dengan sepenuh harap memohon ampun atas semua dosa.

“Sepotong Surga”

Sholat Jum’at berakhir. Kami pun lanjut melaksanakan sholat jenazah. Juga, mendoakan saudara-saudara yang sudah lebih dulu berpulang. Juga, doa berupa doa taubat kami.

Selanjutnya, langkah kaki kami, meninggalkan pelataran Masjidil Haram. Siang itu, langkah terasa jauh lebih ringan, membawa pulang “sepotong surga” di dalam dada.

Dalam Tangis

Jum’at pertama di Baitullah ini bukan sekadar pemenuhan rukun atau perjalanan fisik biasa, melainkan sebuah titik balik. Terasakan, ada sebuah pelukan hangat dari Sang Pencipta. Itu, menyadarkan saya betapa kecilnya diri ini dan betapa besarnya Kasih Sayang-Nya.

Semoga, sujud di bawah terik matahari Jum’at itu menjadi saksi atas taubat kami yang bersungguh-sungguh. Mudah-mudahan, jejak-jejak spiritual Jum’at itu akan terus hidup dalam diri saya.

Pelajaran Besar

Ketika “bus sholawat” membawa kami kembali menuju hotel, pandangan saya tetap terpaku pada menara-menara Masjidil Haram yang kian menjauh.

Hari keempat ini mengajarkan saya bahwa “keajaiban” nyata itu ada. “Keajaiban” itu hadir, misalnya, lewat ketetapan tempat yang lengang. Melalui payung yang membentang dari seorang saudara seagama asal India. Juga, berupa nikmatnya sujud di atas ubin yang hangat.

Di Tanah Suci ini, pengalaman ruhani tak selalu berupa hal besar. Sering, berupa kebaikan-kebaikan kecil yang Allah susun dengan begitu sempurna.

Sungguh, saya telah mendapatkan sebuah Jum’at yang teramat mengesankan. Sebuah Jum’at yang insya Allah tak akan mungkin terhapus dalam ingatan saya.

Terima kasih, Yaa. Alhamdulillah, Allahu Akbar.

Revisi Oleh:
  • Satria - 16/05/2026 14:22
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡