Sebelum dan sesudah peresmian Muhammadiyah cabang Surabaya pada 1921, ada satu tokoh luar biasa. Dia menyediakan rumahnya sebagai tempat pengajian rutin bulanan, bahkan 5 tahun sebelum Muhammadiyah didirikan.
Termasuk saat pertama kali Muhammadiyah Surabaya mendirikan sekolah pada 1922, bagian dari rumahnya dijadikan tempat pembelajaran. Namun, hingga hari ini, namanya belum ketemu. Hanya dikenal sebagai “bapaknya Abdullatif Zain”.
Dalam penulisan awal Muhammadiyah Surabaya, Presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno harus diakui ikut berkintribusi besar. Pada masa-masa perintisan, belum banyak catatan tertulis tentang organisasi ini. Tapi Bung Karno menjadi salah satu orang yang menyaksikan derap dakwah itu.
Muhammadiyah di Surabaya sendiri memang resmi berdiri pada 1 November 1921. Namun, masa perintisannya telah jauh hari dilakukan. Lima tahun sebelumnya, sekitar tahun 1916, pengajian Muhammadiyah telah dilakukan semarak. Salah satunya di Kawasan Peneleh, tepat di depan rumah kost Bung Karno.
Kesaksian itu dikemukakan Bung Karno dalam buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, karya jurnalis Amerika Serikat, Cindy Adams. Di buku yang pertama kali terbit pada 1966 itu, Bung Karno menceritakan tentang pengajian Muhammadiyah saat dirinya berusia 15 tahun. Sementara Bung Karno sendiri lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901.
“Aku menemukan sendiri agama Islam dalam usia 15 tahun, ketika aku menemani keluarga Tjokro mengikuti organisasi agama dan sosial bernama Muhammadijah. Gedung pertemuannja terletak diseberang rumah kami di Gang Peneleh,” kata Bung Karno.
Pengajian itu, lanjut Bung Karno, diselenggarakan setiap bulan. Dihadiri lebih 100 jamaah, dan diselenggarakan pada malam hari.
“Sekali sebulan dari djam delapan sampai djauh tengah malam 100 orang berdesak-desak untuk mendengarkan peladjaran agama dan ini disusul dengan tanja djawab.”
Kalimat Bung Karno “gedung pertemuannja terletak diseberang rumah kami di Gang Peneleh,” adalah petunjuk rumah tokoh tersebut. Rumah kost Bung Karno sendiri, yang juga ditempat HOS Tjokroaminoto, berada di Jl Peneleh Gang VII No. 29-31.
Sementara bangunan atau gedung di seberangnya itu adalah Jl Peneleh Gang VII No. 22. Yang dalam kemudian hari dikenal dengan Toko Buku Peneleh.
“Bangunan itu hari ini memang dikenal sebagai rumah Abdullatif Zain, tokoh Muhammadiyah juga,” jelas salah satu inisiator Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo.
“Tapi yang disebut Bung Karno sebagai pemilik rumah saat itu tentu bukan Abdullatif Zain. Karena Abdullatif Zain lebih muda dari Bung Karno,” jelas pria yang dikenal sebagai spesialis sejarah Soekarno itu. Penjelasan yang sangat masuk akal bahwa seseorang berusia 10-an tahun mempu menggerakkan 100-an jamaah pengajian.
Menurut dugaan Kuncar, panggilan akrabnya, pemilik rumah itu adalah ayah dari Abdullatif Zain. “Tugasmu mencari siapa nama bapaknya Abdullatif Zain itu,” katanya pada PWMU.CO dalam bincang santai pada 11 Mei malam itu.
Mendapat informasi itu, PWMU.CO pun menghubungi salah satu famili Abdullatif Zain yang aktif di Muhammadiyah. Tepatnya Budi Ariawan, yang juga tercatat bagian dari Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi PDM Kota Surabaya.
“Saya agak lupa siapa nama beliau ya… Ini nanti saya carikan lagi,” kata Budi setelah bertemu di Café Lodji Besar, Jl. Makam Peneleh 46 Surabaya.
Perjalanan penelusuran pun dilanjutkan keesokan harinya. PWMU menghubungi salah satu aktivis Muhammadiyah yang tinggal di Plampitan, Abdul Kholiq, S.Si. “Siap. Akan saya cari ke lubang semut sekalipun,” katanya penuh semangat.
PWMU.CO sangat berkepentingan untuk menemukan nama tokoh ini. Sebab, bisa dibilang dialah salah satu punjer Muhammadiyah Surabaya. Rumah ayah dari Abdullatif Zain ini dijadikan sebagai tempat pengajian Muhammadiyah, bahkan sebelum organisasi ini berdiri.
Setelah Muhammadiyah berdiri, di Gedung yang masih menjadi satu juga dijadikan sebagai sekolah ketika HIS Muhammadiyah didirikan pada 1922. Sekolah ini sempat berpindah sebentar di Gang Pandean, sebelum akhirnya pindah ke Jl. Gentengkali Muhammadiyah sekitar tahun 1928. Sementara di Peneleh sendiri, mendirikan sekolah lagi pada 1930.





0 Tanggapan
Empty Comments