Selasa, 12 Mei 2026, kami jamaah haji KBIHU Nurul Hikmah Pamekasan pukul 01.20 mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Arab Saudi. Melirik keluar jendela pesawat, tampak lampu-lampu bandara. Setelah mengambil koper kabin, kami diarahkan menuju pintu keluar.
Saat turun dari tangga pesawat, Ya Allah, akhirnya saya menginjakkan kaki di dekat Mekkah. Sujud syukur saya lakukan karena akhirnya impian untuk bisa melaksanakan ibadah haji terwujud.
Kami semua naik bus bandara, lalu dibawa ke bus transit. Kami harus melakukan pemeriksaan barang bawaan. Koper, kartu nusuk, paspor, semua diperiksa. Alhamdulillah, semua lengkap. Kami kemudian dibawa bus menuju hotel.
Di dalam bus, kami diperiksa lagi berbagai dokumen. Kartu nusuk kami juga diperiksa kembali.
Putri saya—ya, saya berhaji berdua dengan putri saya yang menggantikan posisi suami saya yang wafat beberapa waktu lalu—sempat mengecek jarak perjalanan menuju hotel. Insya Allah kurang lebih satu jam 15 menit.
Benar, Pantaskah?
Bismillah, bus berangkat. Kami merasakan suasana Kota Mekkah di dini hari. Tak henti-hentinya hati mengucap syukur karena Allah memberi saya kesempatan. Allah menakdirkan saya menjadi tamu Allah.
Yaa Allah jadikan hamba sebagai tamu-Mu yang penuh rasa syukur dan bahagia. Jadikan hamba tamu-Mu yang selalu Engkau bimbing dan Engkau beri petunjuk dalam meraih Ridho-Mu.
Sempat tertegun atas doa itu, sampai diingatkan oleh putri saya: ”Ibu, kenapa?”
Saya cuma bilang, ”Tidak apa-apa”.
Perasaan syukur dan rasa bahagia mendorong saya untuk terus merenung: apakah pantas saya menjadi tamu Allah? Kuatkan kami Ya Allah. Mudahkan kami menjadi pribadi yang selalu belajar menata hati. Mudahkan menjadi pribadi yang memiliki semangat untuk selalu belajar agar bisa memantaskan diri menjadi tamu Allah.
Pantaskah saya? Sementara saya adalah orang kecil yang penuh dosa. Saya orang yang kurang pandai bersyukur. Kuatkan ya Allah supaya saya menjadi orang yang selalu berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Ya Allah, terima kasih Engkau sudah memberi hamba kesempatan. Terima kasih Engkau sudah memampukan hamba. Terima kasih Engkau sudah menakdirkan hamba menjadi tamu-Mu. Jadikan hamba sebagai tamu-Mu yang baik walau masih belum sempurna.
Mimpi? Benarkah?
Di tengah perjalanan kami diperiksa kembali oleh petugas keamanan. Sepertinya pihak keamanan memang memeriksa semua kendaraan yang masuk kota. Saya melihat di luar jendela, kendaraan pribadi juga diperiksa.
Alhamdulillah, akhirnya kami sampai di hotel. Sebelum turun dari bus, kartu nusuk dan paspor kami diperiksa lagi. Setelah itu datang lagi petugas yang mengumpulkan paspor kami.
Alhamdulillah, kami lalu turun menuju hotel. Sudah banyak jamaah yang menunggu di lobi hotel. Wajah-wajah mengantuk terlihat, namun tetap terasa semangat mereka untuk melanjutkan kegiatan.
Kami dan rombongan KBIHU lalu masuk ke kamar masing-masing.
Ternyata saya tidak satu kamar dengan putri saya. Ketua rombongan dan jamaah yang lain lalu mengusahakan agar saya bisa satu kamar dengan putri saya. Alhamdulillah, bisa.
Kami langsung sholat subuh karena sudah masuk waktu subuh. Kami bersih-bersih, kemudian beristirahat sebentar.
Kami terus memantau informasi dari grup untuk persiapan umrah. Kami saling mengingatkan karena sudah memakai baju ihram dan sudah berlaku larangan ihram.
Kami diminta turun sebelum pukul 08.00 untuk berkoordinasi di lobi. Kemudian kami mendapatkan nomor bus yang akan membawa kami ke Masjidil Haram.
Ya Allah, mimpi kah saya? Ya Allah, benarkah?
Kami Datang!
Bismillah, kami berangkat menuju Masjidil Haram. Di sepanjang perjalanan, guide di bus membaca talbiyah. Mendengar dan turut melafalkannya, hati merinding.
Labbaik, Allahumma labbaik …..
Sampailah kami di Masjidil Haram. Ya Allah, hamba datang memenuhi panggilan-Mu. Hamba datang memenuhi panggilan-Mu. Hamba kecil, hamba banyak dosa. Ampuni hamba Ya Allah.
Masuk pelataran masjid, perasaan berkecamuk. Saya hanya bisa menangis. Terus menangis sampai pada akhirnya Allah “menuntun” saya berada tepat di depan Ka’bah.
Yaa Allah, akhirnya terwujud penantian panjang saya menunggu antrean berhaji selama 14 tahun.
Alhamdulillah, ini yang saya rindukan selama ini. Ini hal yang selalu menjadi mimpi untuk bisa berkunjung ke Baitullah. Ini hal yang selalu ada dalam setiap doa saya yaitu:
”Ya Allah beri hamba kesempatan melaksanakan haji dan umrah. Mampukan hamba ya Allah dan takdirkan hamba melaksanakan haji dan umrah, aamiin yaa rabbal Aalamiin.”
Air mata terus mengalir tak terbendung. Sambil terus berpegang kepada putri saya, kami memulai thawaf wajib.
Saya teringat almarhum bapak yang sering bercerita dan selalu memberi motivasi tentang pelaksanaan haji.
Bismillah. Ya Allah, Engkau sumber keselamatan. Dari-Mu datang keselamatan. Ya Allah, bukalah pintu rahmat dan ampunan-Mu. Ampuni hamba. Ampuni hamba.
Kami memulai putaran pertama dengan dipimpin oleh pembimbing kami. Doa terucap, air mata terus mengalir.
Merasa diri penuh dosa, merasa diri terlalu banyak masalah pada orang tua, pada suami, pada anak-anak, pada saudara. Juga pada saudara muslim yang lain.
Suasana hati seperti benar-benar tamu Allah yang Allah undang untuk menemui-Nya.
Thawaf mengingatkan kita akan iman dan ketaatan. Thawaf juga menandakan kepatuhan kita sebagai umat manusia.
Ya Allah, pengalaman pertama thawaf sungguh pengalaman ruhani yang luar biasa. Berkumpul menjadi satu mengelilingi Ka’bah sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allah.
Satu kali putaran, dua kali putaran, tiga sampai tujuh kali putaran.
Banyak hal yang saya rasakan saat pelaksanaan thawaf.
Putaran terakhir, kami bergerak bergeser ke arah kanan untuk melakukan sholat sunnah di belakang Maqam Ibrahim.
Ya Allah, hamba merasa benar-benar menjadi tamu Engkau. Ampuni hamba yang terlalu banyak dosa. Pantaskan hamba menjadi tamu-Mu ya Allah. Kami semata-mata berharap ridho-Mu.
Ya Allah, ampuni hamba yang begitu banyak dosa. Ya Allah, berikan anak cucu kami kesempatan untuk bisa berkunjung ke Tanah Suci ini untuk melaksanakan haji dan umrah. Juga saudara-saudara kami.
Luaskan rezeki kami. Luaskan rezeki mereka. Berikan kami kesehatan agar kami bisa melaksanakan ibadah haji dengan sempurna.
Perjalanan Sa’i yang Menggetarkan
Setelah sholat sunnah, kami bergerak menuju Safa-Marwah untuk melakukan sa’i. Sebelumnya, kami beristirahat sebentar sambil menunggu jamaah yang lain lengkap berkumpul.
Pembimbing tetap mengingatkan untuk tidak buru-buru. Juga diingatkan tentang jalur yang akan kami lalui karena ada yang menanjak dan ada yang menurun.
Bismillah, kami memulai sa’i.
Teringat kisah Ibu Siti Hajar, Nabi Ibrahim, dan Ismail putra mereka. Ibu Siti Hajar berlari-lari mencari air untuk Ismail.
Pertanyaannya, apakah hanya sekadar mencari air? Tentu tidak.
Usaha yang dilakukan oleh Siti Hajar merupakan salah satu perjuangan seorang ibu untuk anaknya. Ada keikhlasan orang tuanya, yaitu Nabi Ibrahim dan Ibu Siti Hajar untuk Ismail.
Ini tentang perjuangan seorang ibu yang tidak pernah lelah. Ini simbol perjuangan, simbol keikhlasan, dan kebersamaan.
Kami semua yang ada di tempat itu sama-sama makhluk Allah yang kecil dan tidak lepas dari dosa. Keduniaan, saat itu, kami tinggalkan.
Saat sa’i, saya banyak melihat anak yang mendorong orang tua. Melihat suami atau istri mendorong pasangannya. Juga banyak potret-potret yang lain.
Putaran satu, putaran dua, sampai putaran tujuh kami lakukan.
Setelah putaran ketujuh, kami bergerak ke kanan untuk keluar. Saatnya melaksanakan tahallul setelah berdoa yang dipimpin pembimbing.
Setelah itu kami bergerak untuk minum air zam-zam.
Ya Allah, nikmat. Minum air zam-zam pertama kali langsung diambil di Masjidil Haram. Doa minum air zam-zam kami baca sebelum minum.
Kemudian kami bergerak ke terminal bus.
Pembimbing memang menyarankan kami untuk beristirahat dan kembali ke hotel karena kami baru saja melakukan perjalanan panjang dari Indonesia ke Mekkah.
Kami harus menjaga kondisi karena agenda masih panjang.
Terus, dan Terus!
Kami kembali ke hotel untuk beristirahat.
Kegiatan Senin, 11 Mei 2026, ditutup dengan koordinasi untuk persiapan menuju Masjidil Haram melaksanakan sholat tahajud.
Alhamdulillah.
Beri kami kesehatan, Ya Allah. Jadikanlah kami manusia yang selalu belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Rahmati kami, aamiin.
Mekkah, 12 Mei 2026





0 Tanggapan
Empty Comments