Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab II berjudul “Jawa Timur Awal Abad ke-20”, halaman 35, 36, dan sebagian 37.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 16
***
Halaman 35
Dari data tersebut dapat disimpulkan, pendidikan modern umat Islam ketinggalan dari umat yang lain. Pesantren Tebuireng, Jombang, yang masih memakai sistem tradisional baru berdiri pada 1899, Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo yang mengadopsi sistem modern berdiri pada 1926, dan Pesantren Persis Bangil, malah baru berdiri pada 1940.(67)
Sedangkan Muhammadiyah di Surabaya yang dipimpin Mas Mansur mendirikan sekolah modern pada 1921 di Kawatan, Surabaya, dan menyebar cepat ke Wonokromo, Gresik, Jagalan, Pacar Keling dan lain-lain.(68)
Namun, pendidikan pesantren itu sebenarnya sudah berdiri di Jawa Timur pada awal abad ke-19. Pesantren Termas, Pacitan, misalnya, berdiri pada 1823. Pesantren Jampes, Kediri; Pesantren Bendo, Kediri; dan Pesantren Langitan, Tuban, berdiri pada 1855.(69) Pada dekade kedua dan ketiga abad ke-20 umat Islam sudah mengenyam pendidikan modern, walau masih terbatas pada anak orang kaya dan putra bangsawan.
2. Seni Budaya
Dalam lingkup seni budaya, Jawa Timur memiliki kekayaan seni yang cukup berarti. Diantaranya seni tari, seni suara, seni bangunan,
Halaman 36
dan bela diri. Pada abad ke-20, terutama dekade kedua dan ketiga, sudah berkembang seni drama panggung dan menampilkan lakonnya ke berbagai daerah. Umumnya disebut sandiwara keliling, atau komedi bangsawan, opera atau kabaret. Ada juga yang menyebut stambul atau tonil.
Di Jawa Timur pernah ada stambul “Dardanella” yang didirikan di Sidoarjo pada 21 Juni 1927, oleh Willy Klimanov, orang Rusia. Stambul ini manggung di berbagai kota. Seorang penyanyi dan penari yang berhasil terorbit bernama Dewi Dja, dengan nama asli Soetidjah. Pamor Dardanella tidak hanya di Jawa atau Indonesia, tetapi sampai menembus dunia, seperti Eropa dan Amerika.(70)
Selain itu, di Jawa Timur berkembang kesenian wayang kulit, ludruk, wayang orang, dan tandhak. Terdapat banyak ragam wayang di Jawa Timur, antara lain Wayang Suluh, Wayang Kancil, Wayang Beber, Wayang Gedog, Wayang Golek -yang mempunyai beberapa jenis, seperti Wayang Golek Purwo, Wayang Golek Menak, dan Wayang Golek Babad. Ada pula Wayang Kulit gaya pesisir utara yang disebut Wayang Keling.
Berkembang juga Wayang Krucil atau Wayang Klitik. Wayang-wayang itu tumbuh di Jawa Timur sejak dulu kala. Wayang Kancil dipentaskan pertama kali pada 1924. Wayang Suluh termasuk generasi baru pewayangan, dan dipentaskan pertama kali di Madiun pada 1 Desember 1947, berfungsi sebagai media penerangan kepada rakyat setelah Indonesia merdeka. Wayang orang atau wayang wong dimainkan oleh banyak orang dan masih manggung di Surabaya hingga 1980-an.(71)
Kesenian Ludruk sudah ada sejak abad ke-15, terutama di Jombang dan Surabaya. Ludruk Lirok muncul di Jombang pada abad ke-16 dan 17, dan masih ditemukan pada 1914. Lirok berasal dari lira, yaitu alat musik mirip siter. Pada 1930 Cak Durasim memprakarsai berdirinya ludruk Surabaya, yang menampilkan cerita-cerita legenda rakyat Surabaya.(72)
Tandhak artinya tarian, yang dilakukan sendirian oleh seorang lelaki. Yang sejenis dengan tandhak adalah ledhek, ronggeng, gambyong atau tayub. Di beberapa daerah tandhak dilakukan juga oleh seorang wanita.(73)
Grup musik muncul pada awal abad ke-20. Seorang komponis terkenal yang lahir pada abad itu bernama asli Wage Soepratman,
Halaman 37
yang kemudian dikenal dengan nama Wage Rudolf Supratman. Rudolf adalah nama tambahan dari kakak iparnya dengan maksud agar ia diterima di sekolah Belanda. Ia lahir di Jatinegara, Jakarta pada 9 Maret 1903, dan meninggal di Surabaya pada 17 Agustus 1938.
Banyak orang mengira ia beragama Kristen, padahal beragama Islam. Ia mengarang lagu Indonesia Raya yang diperdengarkan pada Kongres Pemuda II di Jakarta pada 26-28 Oktober 1928. Ia juga mengarang lagu-lagu lain, seperti Mars KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia), RA. Kartini, dan Bendera Kita.(74)
Film mulai ada di Surabaya awal abad ke-20. Umumnya disebut dengan gambar hidup atau komidi sorot. Tapi masih bisu. Baru pada 1931-an, film dengan memakai suara masuk ke Surabaya. Gedung-gedung bioskop atau film sudah bertebaran di Surabaya, seperti Maxim Theater, Alhambra, Rialto, dan Luxor.(75)
Surabaya memang sudah merupakan kota metropolitan pada awal abad ke-20. Semua kebutuhan hidup tersedia di kota ini, mulai dari kebutuhan pokok hingga hiburan-hiburan yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
***
Buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggotanya adalah Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Sementara konsultannya adalah M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments