Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab II berjudul “Jawa Timur Awal Abad ke-20”, halaman 33, 34, dan sebagian 35.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 15
***
Halaman 33
Pada 1924 Khalifah Usmani di Turki diturunkan oleh Mustafa Kemal Attaturk. Dunia Islam ingin ditegakkan kembali dan mereka mengadakan kongres di Mekkah, yang kebetulan kota suci itu juga baru dikuasai oleh Raja Saudi Arabia yang berpusat di Riyad, Abdul Aziz ibn Sa’ud.
Agenda Kongres pada 1926 itu membicarakan masalah khilafah. Utusan dari Indonesia adalah Mas Mansur dari Muhammadiyah dan Cokroaminoto dari SI. Para ulama pesantren membentuk Komite Hijaz pada 31 Januari 1926 untuk menghadapi pertemuan di Mekkah tersebut, dan saat itulah dijadikan hari lahirnya NU.(61)
D. Situasi Sosial-Budaya
1. Pendidikan
Pendidikan modern dalam bentuk sekolah merupakan perkembangan baru dalam sistem pendidikan di Indonesia. Sebelum datang sistem modern tersebut di Jawa Timur sudah ada kegiatan pendidikan yang berpusat di kraton dan luar kraton yang diselenggarakan oleh guru-guru di pertapaan dan mandala-mandala, wiharawihara di zaman Hindu dan Budha.
Setelah Islam datang, cara belajar di pusat-pusat pembelajaran berubah menjadi sistem belajar di mushalla/langgar, masjid dan pesantren, yang diajar oleh para ulama tentang ajaran agama Islam. Kemudian baru berkembang sistem madrasah.(62) Sistem pendidikan Islam yang berpusat di mushalla,
Halaman 34
masjid dan pesantren tersebut, pada 1831, oleh Belanda, dilaporkan telah mencapai ratusan jumlahnya. Misalnya, di Surabaya dan Mojokerto ada 410 lembaga pendidikan Islam, Gresik ada 238 lembaga, Bawean 109 lembaga dan Besuki 500 lembaga (63). Pusat-pusat pendidikan Islam itu mengajarkan ilmu-ilmu agama tanpa mengajarkan ilmu-ilmu umum. Dan pada awal abad ke-20 umat Islam sudah memperbarui pendidikannya.
Dengan adanya politik etis, pemerintah Belanda memberikan fasilitas pendidikan bagi penduduk bumiputera. Mula-mula didirikan Sekolah Desa, setelah 1907 menjadi standar sekolah dasar selama tiga tahun dengan pelajaran membaca, menulis dan berhitung. Kemudian didirikan Sekolah Kelas Dua dengan kurikulum yang lebih ekstensif bagi mereka yang telah tamat Sekolah Desa.
Dalam masa 1900-1942, terbentuk dualisme sistem pendidikan. Pertama, untuk bumiputra, yang hanya sampai pendidikan rendah. Kedua, pendidikan yang memakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dari tingkat rendah hingga pendidikan tinggi.
Sekolah Dasar bagi orang Belanda, Eropa, Timur Asing dan anak-anak priyayi sudah dimulai sejak 1818. Selama 1900-1942 di Jawa Timur sudah berdiri ELS (Europeesche Lagere School) di tiap kabupaten. Hollandsch-Inlandsche School (HIS) merupakan sekolah rendah yang dimasuki oleh bumiputra dan anak Belanda, yang berdiri pada 1914.
Menjelang kedatangan Jepang di Indonesia, tiap kabupaten di Jawa Timur sudah punya HIS. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), pendidikan menengah, didirikan pada 1914 dengan masa belajar tiga tahun, untuk menampung mereka yang telah tamat sekolah rendah. Di Jawa Timur hanya ada MULO di Malang, Surabaya, Madiun, dan Kediri pada 1917.
Algemene Middelbare School (AMS), setingkat sekolah menengah atas, didirikan pada 1919, untuk menampung tamatan MULO, dan dirancang untuk waktu tiga tahun. AMS afdeling B (Jurusan Ilmu Pasti dan Alam) dibuka di Malang pada 1926. Di Surabaya AMS baru didirikan pada 1938.(64)
Di samping sekolah-sekolah tersebut, juga telah berdiri sekolah kejuruan, seperti sekolah untuk penambahan administrasi pemerintah yang bernama Sekolah Raja (Hoofden School) di
Halaman 35
Probolinggo, berdiri pada 1878. Sekolah tersebut berkembang menjadi OSVIA (Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren) pada 1900, dan berubah menjadi MOSVIA (Middelbare Opleidings School voor Inlandsche Ambtenaren). Dibuka juga sekolah pendidikan guru (Kweekschool) di Probolinggo pada 1875, dan sekolah dokter NIAS (Nederlands Indische Artsen School) di Surabaya pada 1913.(65)
Dengan adanya sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah Belanda itu, kelompok Kristen juga mengadakan pendidikan dengan sistem modern. Misalnya, Zending Kristen di Mojowarno, Jombang, telah mendirikan Sekolah Kader (Pendidikan Guru) pada 1851, Sekolah Ketrampilan pada 1864, dan Sekolah Juru Rawat pada 1895.
Pihak missi Katolik juga mendirikan Sekolah Dasar St. Aloysius di Surabaya pada 1862, St. Angela pada 1863, Stela Ursula pada 1864 dan MULO pada 1869. Semula, para murid di sekolah-sekolah tersebut hanya terdiri dari anak-anak orang-orang kaya, tetapi lambat laun diisi juga oleh anak-anak masyarakat umum.(66)
***
Buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggotanya adalah Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Sementara konsultannya adalah M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments