Ki Hajar Dewantara mengatakan, “Dengan membaca, seseorang membuka jendela dunia.” Ki Hajar Dewantara menempatkan buku sebagai sarana utama membangun kesadaran dan kemerdekaan berpikir.
Pendidikan menurut beliau tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga melalui budaya membaca.
Setiap kali peringatan Hari Buku datang, pertanyaan yang layak diajukan kepada diri kita adalah: apa kabar budaya membaca Indonesia? Jawabannya, sayangnya, belum menggembirakan.
Di tengah banjir informasi dan kemajuan teknologi digital, buku justru makin tersisih dari kehidupan masyarakat.
Kita hidup di zaman ketika orang lebih cepat membuka layar ponsel daripada membuka lembaran buku.
Ironisnya, bagi umat Islam, perintah pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw bukanlah “berperang”, “berdagang”, atau “berkuasa”, melainkan iqra’ — “bacalah”.
Firman Allah dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
Ayat ini menunjukkan bahwa peradaban besar selalu dimulai dari membaca, ilmu, dan tradisi berpikir. Karena itu, rendahnya minat baca bukan sekadar masalah pendidikan, tetapi juga masalah peradaban.
Berbagai survei menunjukkan bahwa budaya membaca Indonesia masih rendah. Banyak orang lebih akrab dengan media sosial daripada perpustakaan.
Waktu berjam-jam habis untuk menggulir video pendek, melihat hiburan digital, atau perdebatan tak penting di dunia maya. Ponsel pintar yang semestinya menjadi sarana belajar, justru sering berubah menjadi mesin distraksi.
Kita menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan: anak-anak semakin jarang membaca buku utuh. Kemampuan fokus menurun karena terbiasa dengan konten cepat dan singkat.
Informasi dikonsumsi secara instan, tetapi minim pendalaman. Akibatnya, lahir generasi yang mudah bereaksi, tetapi lemah dalam refleksi.
Gerakan Membaca
Teknologi tentu tidak salah. Telepon pintar hanyalah alat. Namun ketika tidak diiringi budaya literasi yang kuat, teknologi justru memperparah kemalasan berpikir.
Banyak orang merasa sudah “tahu” hanya karena melihat potongan informasi beberapa detik. Padahal pengetahuan sejati memerlukan proses membaca, memahami, merenung, dan berdialog dengan gagasan.
Bandingkan dengan negara-negara maju. Di banyak negara Eropa, Jepang, atau Korea Selatan, membaca menjadi bagian dari budaya hidup. Kereta bawah tanah dipenuhi orang membaca buku.
Perpustakaan menjadi ruang publik yang hidup. Orang tua membacakan buku kepada anak sejak usia dini. Pemerintah, sekolah, keluarga, dan media bergerak bersama membangun ekosistem literasi.
Mereka sadar bahwa kemajuan bangsa tidak hanya dibangun dengan gedung tinggi dan teknologi canggih, tetapi juga dengan kualitas pikiran masyarakatnya. Negara maju lahir dari masyarakat yang gemar membaca, bukan sekadar gemar menonton.
Sementara itu di Indonesia, gerakan membaca belum menjadi arus besar nasional. Program literasi memang ada, tetapi sering bersifat seremonial dan belum menyentuh budaya sehari-hari.
Perpustakaan di banyak daerah masih kurang menarik. Harga buku bagi sebagian masyarakat masih terasa mahal. Toko buku semakin sedikit, sementara pusat hiburan digital terus bertambah.
Yang lebih memprihatinkan, membaca belum dianggap kebutuhan hidup. Banyak orang rela menghabiskan uang untuk gawai terbaru, tetapi enggan membeli buku.
Padahal buku adalah investasi peradaban yang nilainya jauh lebih panjang daripada sekadar tren teknologi.
Pemerintah semestinya menjadikan literasi sebagai gerakan nasional yang serius dan berkelanjutan.
Perlu kebijakan nyata: memperbanyak perpustakaan yang nyaman, mendukung penerbitan buku murah, memperkuat literasi digital yang sehat, serta menghadirkan kampanye membaca secara massif.
Sekolah juga jangan hanya mengejar nilai ujian, tetapi harus menumbuhkan cinta membaca.
Namun tanggung jawab tidak hanya berada di tangan pemerintah. Keluarga memegang peran paling penting.
Rumah seharusnya tidak hanya dipenuhi suara televisi dan notifikasi ponsel, tetapi juga percakapan ilmu dan kebiasaan membaca. Anak-anak akan mencintai buku jika melihat orang tuanya juga akrab dengan buku.
Membangun Peradaban dari Membaca
Hari Buku seharusnya menjadi momentum muhasabah bersama. Jangan sampai bangsa besar ini kehilangan tradisi berpikir hanya karena terlena oleh hiburan digital.
Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya pandai memainkan jari di layar, tetapi juga mampu menajamkan akal dan memperluas wawasan.
Peradaban Islam dahulu memimpin dunia karena tradisi ilmu dan membaca. Ulama-ulama besar lahir dari kecintaan terhadap buku.
Maka jika hari ini kita ingin membangun Indonesia yang maju, berakhlak, dan beradab, jalannya tidak bisa dilepaskan dari budaya membaca.
Sebab bangsa yang jauh dari buku, perlahan akan jauh pula dari ilmu, kebijaksanaan, dan masa depan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments