Suasana penuh kekhusyukan tampak di Masjid Ar Royyan Muhammadiyah Buduran pada Ahad (17/5/2026) dini hari. Sebelum azan Subuh berkumandang, jamaah mulai berdatangan memenuhi saf-saf masjid untuk mengikuti salat Subuh berjamaah dan kajian rutin kitab Riyadusshalihin yang digelar setiap pekan.
Kajian yang diasuh oleh Ridwan Manan berlangsung penuh antusias dengan mengangkat tema “Pentingnya Pengkaderan”. Materi disampaikan melalui pelajaran dari kisah “Raja dan Tukang Sihir” dalam hadis shahih riwayat Muslim dari Sahabat Suhaib RA.
Dalam kajiannya, Ridwan Manan menegaskan bahwa keberlangsungan dakwah, organisasi, hingga peradaban sangat ditentukan oleh keberhasilan menyiapkan generasi penerus yang beriman, tangguh, dan berani mempertahankan kebenaran.
Ketua Takmir Masjid Ar Royyan yang juga Kepala SMA Pondok Pesantren Al Fattah itu menjelaskan bahwa dalam kisah tersebut, seorang raja zalim memiliki tukang sihir sebagai alat mempertahankan kekuasaan. Ketika tukang sihir mulai tua, ia meminta seorang anak muda dipersiapkan untuk menjadi penerus ilmunya.
Namun di tengah proses belajar, anak muda tersebut justru bertemu seorang rahib yang mengenalkannya kepada keimanan dan kebenaran. Dari peristiwa itu lahirlah generasi baru yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akidah kuat dan keberanian melawan kezaliman.
“Mereka yang tidak suka dengan Islam saja menyiapkan kader untuk menjaga kekuatannya. Maka umat Islam lebih wajib menyiapkan kader dakwah, kader ilmu, kader masjid, dan kader pemimpin masa depan,” ungkapnya di hadapan jamaah.
Dalam kesempatan tersebut, Ridwan juga mengingatkan pentingnya dukungan orang tua terhadap kegiatan generasi muda di masjid.
“Para bapak di Muhammadiyah dan ibu-ibu Aisyiyah wajib mendukung kegiatan anak muda di Masjid Ar Royyan untuk mempersiapkan generasi berikutnya,” imbuhnya.
Kajian turut menyoroti fenomena banyaknya lembaga dan komunitas yang melemah bukan karena kekurangan dana, melainkan gagal melahirkan generasi penerus. Menurutnya, kaderisasi bukan sekadar proses pergantian jabatan, tetapi proses menanamkan nilai perjuangan, akhlak, visi, dan ketangguhan menghadapi tantangan zaman.
Jamaah juga diajak menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan generasi, bukan hanya tempat ibadah semata. Sebab, lahirnya generasi sahabat Rasulullah SAW berawal dari pembinaan yang dilakukan di masjid.
“Peradaban dan kepemimpinan yang kuat selalu dimulai dari pembinaan kaderisasi yang kuat,” pesan Ridwan menutup kajiannya.
Usai kajian, takmir masjid memberikan apresiasi kepada anak-anak yang hadir dengan membagikan uang saku. Selain itu, jamaah juga mendapatkan sayuran dan tempe gratis sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus mempererat ukhuwah antarjamaah.
Kegiatan Ahad Subuh di Masjid Ar Royyan Muhammadiyah Buduran ini menjadi bukti bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan umat dan penguatan kaderisasi generasi Islam berkemajuan.





0 Tanggapan
Empty Comments