Beraneka ragam pandangan masyarakat pada Muhammadiyah. Baik sejak berdirinya hingga sekarang ini. Pandangan negatif sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup dan perjuangan organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan ini. Namun hal itu tidak menyusutkan semangat pergerakan Muhammadiyah dalam masyarakat.
Dalam aktivitasnya organisasi ini tetap terus saja merintis, membangun dan mendirikan beragam amal usaha nyata. Semua amal usahanya benar-benar bermanfaat bagi semua golongan dalam masyarakat.
Sejarah mencatat bagi Muhammadiyah ketika pada masa-masa awal berdiri dan perkembangannya dicap sebagai agama baru. Dampaknya yang muncul, bukan saja setiap kegiatan organisasi yang dilakukan dalam masyarakat telah dihambat dengan berbagai macam cara.
Mendirikan masjid ditolak dan juga didemo, bahkan dibakar atau bahan bangunannya diambil dan lain sebagainya. Ini terjadi dan masih dirasakan hingga di zaman reformasi sekarang. Ini tertulis pada berita media, “Pembakaran Masjid Muhammadiyah di Aceh …”. (Amnesty.id, 29.10.2017).
Begitu pula saat penyelenggaraan sholat Idul Fitri dan Idul Adha di tanah lapang. Jika zaman dahulu diganggu, dibully dan dipersekusi dengan cara dilempari kotoran manusia dan hewan di tanah lapang agar salat Id tidak bisa dilaksanakan.
Di era reformasi ini berbeda bentuknya. Tangan-tangan kekuasaan lokal, tidak bisa dilepaskan dari ucapan dari oknum ulama, Muhammadiyah justru dilarang menggunakan lapangan untuk penyelenggaraan salat Id. Ini dapat diketahui dari informasi medsos, “Muhammadiyah dilarang pakai lapangan desa (untuk salat Id.)”. (Facebook, website sang pencerah, 2025).
Pendekatan Dakwah yang Ahsan
Terjadinya berbagai persepsi, persekusi dan sikap apriori yang diikuti dengan tindakan tidak terpuji itu tetap dilihat oleh Muhammadiyah sebagai dinamika dan tantangan dakwah.
Organisasi ini merespon dengan tiga pendekatan yang ahsan. Pertama, mengajak orang-orang yang apriori untuk duduk bersama berdiskusi, bertukar pikiran dan tentu bermusyawarah.
Kedua, mengundang dengan undangan yang bijaksana dan baik-baik tanpa pemaksaan untuk menghadiri acara organisasi, baik berkaitan dengan perayaan atau peresmian amal usaha yang didirikan.
Ketiga, memberikan bantuan sosial kemanusiaan dan dukungan material disaat mereka mengalami musibah dan mengundang kegiatan yang mereka adakan dan selenggarakan secara individu atau kelompok.
Dari tiga pendekatan dakwah Muhammadiyah ini diharapkan berbagai fenomena dan dinamika yang terjadi dapat dinetralisir. Sebab pendekatan seperti itu yang diajarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. (QS. An Nahl:125).
Sebagai Organisasi Pembaharuan
Muhammadiyah tetap berjalan tegak lurus tidak berkelok-kelok seperti partai politik yang biasa bermain dua muka dan dua kaki. Organisasi ini tetap cerah menghiasi wajahnya dan bersinar terang menerangi bumi dan sekitarnya.
Gerakan dakwahnya takkan berhenti hanya karena soal fenomena dan dinamika masyarakat yang tak bisa dihindari. Muhammadiyah tetap berjalan menuju jalan lurus masa depan yang cerah dan gemilang. Beramal usaha dalam kebajikan terus berjalan merambah sendi-sendi masyarakat di berbagai pelok negeri dan dunia.
Toh kini Muhammadiyah yang dianggap sebagai agama baru telah membuktikan sebagai gerakan pembaharuan dakwah Islam. Semua aspek dan sendi-sendi masyarakat diperbaharui. Sistem pendidikan diperbaharui. Dari model pendidikan kolonialisme Belanda yang sekuler dan liberal diperbaharui. Dimasukannya ajaran Islam.
Mulai pelajaran al-Quran, agama Islam, Aqidah, Ibadah, Akhlakul Karimah/Adab, dan Sirah menjadi bagian dari sistem pendidikannya. Lahirlah masyarakat religius dan dapat hidup menyesuaikan diri dengan modernisasi dan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya sebagai muslim.





0 Tanggapan
Empty Comments