“Inilah kebiasaanku setiap hari di MAM 01 Paciran”, ungkapan sederhana itu kini menjelma menjadi representasi nyata denyut perjuangan intelektual para siswa kelas 10, 11, dan 12 Program Arabic Class Program (ACP) MA Muhammadiyah (MAM) 1 Paciran yang tengah bersiap menghadapi Ujian Tulis dan Ujian Lisan Bahasa Arab dalam atmosfer akademik yang penuh disiplin, ketegangan, dan semangat juang luar biasa.
Di lingkungan Pondok Pesantren Karangasem Paciran, suasana ilmiah tampak hidup hampir di setiap sudut ruang belajar.
Para siswa tenggelam dalam rutinitas akademik yang intens: menghafal kaidah Nahwu dan Shorof, memperkaya mufradat, membaca literatur Arab, menulis materi pembelajaran, hingga melatih kemampuan membuka kamus melalui metode Fathul Mu’jam Munawir yang menjadi ciri khas pembinaan Bahasa Arab di program ACP.
Bukan sekadar pembelajaran biasa, seluruh proses tersebut merupakan bagian dari pembentukan mental intelektual dan kesiapan ilmiah untuk menghadapi ujian yang dirancang dengan standar akademik tinggi. Sebab, baik ujian tulis maupun ujian lisan dilaksanakan sepenuhnya menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa utama pengujian.
Atmosfer perjuangan itu semakin terasa karena sekitar 76 siswa ACP akan mengikuti ujian lisan secara terbuka melalui siaran langsung YouTube dan Instagram.
Sebuah model evaluasi yang bukan hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga keberanian mental, ketahanan menghadapi tekanan, serta kesiapan tampil di ruang publik secara profesional.
Berbeda dari pola ujian konvensional, pelaksanaan ujian ACP tahun ini dirancang layaknya sidang akademik perguruan tinggi.
Setiap siswa akan diuji langsung oleh empat guru penguji dalam suasana ilmiah yang kritis, serius, dan penuh tantangan intelektual.
Dalam ujian tersebut, para peserta tidak hanya diminta memahami teori Bahasa Arab, tetapi juga diwajibkan tampil menyampaikan pidato berbahasa Arab secara aktif dan komunikatif di hadapan para penguji serta audiens media sosial yang menyaksikan secara langsung.
Setelah menyampaikan pidato, para siswa akan memasuki sesi kalam atau dialog spontan menggunakan Bahasa Arab.
Para penguji akan melontarkan berbagai pertanyaan berdasarkan tema pidato yang telah disampaikan, sehingga peserta dituntut mampu berpikir cepat, menjawab secara spontan, sekaligus mempertahankan struktur bahasa yang baik dan benar.
Tidak berhenti sampai di situ, peserta juga diwajibkan menjelaskan deskripsi dan kandungan dari tema pidato yang mereka bawakan secara ilmiah dan argumentatif.
Kemampuan analisis, keluasan mufradat, serta ketepatan penyampaian menjadi aspek penting dalam penilaian ujian tersebut.
Ujian semakin menantang ketika siswa harus menjelaskan sisi Nahwu dan Shorof dari teks atau kalimat yang digunakan dalam pidato mereka.
Para peserta dituntut mampu menguraikan i’rab, perubahan tashrif, pola wazan, hingga kedudukan kata dalam struktur kalimat Bahasa Arab secara mendalam dan sistematis.
Salah satu bagian lain yang paling menegangkan dalam ujian lisan tersebut adalah sesi qirā’atul kutub atau pembacaan kitab berbahasa Arab gundul.





0 Tanggapan
Empty Comments