Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Tafsir Jalalain hingga Shohih Muslim, Begini Beratnya Ujian Santri Karangasem Paciran

Iklan Landscape Smamda
Dari Tafsir Jalalain hingga Shohih Muslim, Begini Beratnya Ujian Santri Karangasem Paciran
Dari Tafsir Jalalain hingga Shohih Muslim, Begini Beratnya Ujian Santri Karangasem Muhammadiyah
pwmu.co -

Atmosfer menjelang ujian mulai terasa kuat di lingkungan Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran. Lorong pesantren, ruang belajar, hingga sudut-sudut asrama dipenuhi denyut semangat para santri dalam menuntut ilmu.

Malam-malam mereka kini tidak lagi dipenuhi percakapan biasa. Suara hafalan saling bersahutan, lantunan pembacaan kitab kuning terdengar di berbagai sudut, hingga diskusi panjang mengenai Nahwu dan Shorof menjadi pemandangan yang terus hidup menjelang pelaksanaan ujian.

Lembaran kitab-kitab klasik pun terus dibuka demi mengejar pemahaman ilmu yang lebih mendalam.

Di lingkungan Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah, suasana menjelang ujian selalu menghadirkan atmosfer yang berbeda.

Semangat belajar tampak menyala dari wajah-wajah para santri. Sejak pagi hingga larut malam, mereka tenggelam dalam perjuangan akademik yang penuh kesungguhan.

Para santri memahami bahwa ilmu tidak akan diraih tanpa pengorbanan, kesabaran, dan ketekunan yang panjang.

Tahun ini, sebanyak 927 santri Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah akan mengikuti ujian tulis dan ujian lisan berbasis kompetensi yang dijadwalkan berlangsung pada 20 hingga 24 Mei 2026.

Ujian tersebut bukan sekadar agenda evaluasi pembelajaran, melainkan momentum penting untuk mengukur kemampuan ilmiah, kedalaman pemahaman, serta kesiapan intelektual para santri setelah menjalani proses pendidikan di lingkungan pesantren.

Ketegangan mulai terasa di setiap ruang belajar. Para santri tampak sibuk mempersiapkan diri dengan cara masing-masing.

Sebagian santri mengulang hafalan Tafsir Jalalain hingga larut malam. Sebagian lainnya memperdalam pemahaman Riyadlus Sholihin dan Shohih Muslim, menelaah isi Minhajul Muslim, hingga menghafal kaidah Ushul Fiqh dan Ilmu Faroid yang dikenal membutuhkan ketelitian berpikir tingkat tinggi.

Di sisi lain, para santri juga serius mengurai rumus-rumus Nahwu dan Shorof yang menjadi pondasi utama dalam memahami kitab kuning.

Mereka terus melatih kemampuan membaca teks Arab tanpa harakat, memperbaiki makhraj, memperdalam i’rab, hingga memahami perubahan tashrif dari setiap kata yang dipelajari.

Bagi para santri Karangasem Muhammadiyah, menjelang ujian bukanlah waktu untuk menyerah pada rasa lelah.

Momentum tersebut justru menjadi ruang pembentukan mental perjuangan dan ketangguhan dalam menuntut ilmu.

Mereka memahami bahwa setiap malam yang dihabiskan bersama kitab, setiap hafalan yang terus diulang, serta setiap pembahasan Nahwu dan Shorof yang dipelajari merupakan bagian dari perjalanan panjang membangun masa depan ilmu dan pengabdian.

Dalam ujian tulis berbasis kompetensi, para santri akan diuji melalui berbagai disiplin ilmu utama yang selama ini menjadi tradisi akademik pesantren.

Beberapa bidang ilmu yang diujikan meliputi Ilmu Faroid, Tafsir Jalalain, Riyadlus Sholihin, Shohih Muslim, Minhajul Muslim, Ushul Fiqh, Bahasa Arab, Nahwu, hingga Shorof.

SMPM 5 Pucang SBY

Sementara dalam ujian lisan, para santri dituntut menunjukkan kemampuan akademik yang jauh lebih kompleks.

Mereka harus mampu membaca kitab kuning tanpa harakat secara benar dan lancar, menjelaskan kandungan teks yang dibaca, mengurai sisi Nahwu dan Shorof dari setiap kata, menjelaskan i’rab dan tashrif, hingga memaparkan makna ilmiah teks secara sistematis dan argumentatif di hadapan para penguji.

Kitab-kitab yang digunakan dalam ujian lisan pun bukan kitab biasa.

Para santri diuji langsung menggunakan teks-teks dari Tafsir Jalalain, Shohih Muslim, Riyadlus Sholihin, dan Minhajul Muslim yang seluruhnya menuntut ketelitian membaca, kekuatan hafalan, serta kedalaman pemahaman ilmu.

Ketegangan semakin terasa karena sistem evaluasi yang diterapkan benar-benar berbasis kompetensi.

Santri yang berhasil mencapai nilai rata-rata sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) akan dinyatakan naik dan melanjutkan ke jenjang berikutnya. Sementara mereka yang belum memenuhi standar harus kembali memperkuat kemampuan akademiknya hingga benar-benar siap secara ilmiah.

Sistem tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan di Karangasem Muhammadiyah tidak dibangun di atas formalitas semata, melainkan di atas kualitas, kedalaman ilmu, dan tradisi intelektual pesantren yang dijaga dengan penuh kesungguhan.

Di balik ketegangan ujian itu, tersimpan semangat besar yang terus menyala dari wajah-wajah para santri.

Mereka memahami bahwa ilmu tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari perjuangan panjang, malam-malam yang dipenuhi hafalan, kesabaran memahami kitab demi kitab, serta keberanian menghadapi kesulitan dalam perjalanan menuntut ilmu.

Tradisi akademik seperti inilah yang menjadikan Karangasem Muhammadiyah bukan sekadar tempat belajar agama, tetapi juga tempat lahirnya generasi intelektual muslim yang ditempa dengan disiplin, adab, ketangguhan mental, dan kecintaan mendalam terhadap ilmu pengetahuan Islam.

Di pesantren ini, kitab-kitab klasik tidak sekadar dibaca, tetapi dipahami, dianalisis, dan dihidupkan kembali dalam tradisi ilmiah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Para santri juga belajar bahwa ilmu bukan hanya untuk dihafal, melainkan untuk diperjuangkan dan diamalkan demi kemaslahatan umat.

Karena itu, momentum ujian di Karangasem Muhammadiyah bukan sekadar evaluasi pembelajaran.

Lebih dari itu, ujian menjadi medan perjuangan intelektual yang menempa para santri menjadi generasi pejuang ilmu, siap membawa cahaya pengetahuan, dakwah, dan pengabdian bagi masyarakat, bangsa, dan umat.

Revisi Oleh:
  • Satria - 19/05/2026 08:35
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡