Kitab yang digunakan adalah Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, karya besar di bidang fikih perbandingan mazhab yang disusun oleh Ibnu Rusyd.
Dalam sesi tersebut, siswa dituntut mampu membaca teks Arab tanpa harakat dengan benar, memahami kandungan kitab, menerjemahkan makna, sekaligus menjelaskan sisi kebahasaan dan hukum yang terkandung di dalamnya.
Selain itu, kemampuan membuka kamus Arab melalui metode Fathul Mu’jam Munawir juga menjadi bagian penting dalam pengujian.
Para siswa diuji mencari akar kata, memahami asal-usul pembentukan kata, serta menemukan makna kosakata secara cepat dan tepat di hadapan para penguji.
Situasi tersebut menjadikan ruang-ruang belajar dipenuhi suasana latihan yang serius sekaligus penuh semangat.
Para siswa tampak terus mengasah hafalan, memperkuat kemampuan berbicara, melatih ketepatan berpikir, serta membangun keberanian mental untuk menghadapi ujian akademik yang tidak ringan tersebut.
Dalam proses pembinaan, para siswa mendapatkan bimbingan intensif dari Ustadz Nailul Khoir, S.PdI. M.Pd. melalui metodologi pembelajaran Nahwu Shorof, dan teknik penggunaan Fathul Mu’jam Munawir secara sistematis.
Metode tersebut tidak hanya melatih kemampuan linguistik siswa, tetapi juga membentuk pola berpikir ilmiah, analitis, dan kritis dalam memahami teks-teks Arab klasik maupun modern.
“Kami dibiasakan memahami akar kata, perubahan bentuk kata, kemudian mempraktikkannya dalam pidato dan percakapan Bahasa Arab. Awalnya terasa sangat sulit, tetapi justru di situlah mental dan kemampuan kami ditempa,” ujar salah satu siswa ACP kelas 11.
Pelaksanaan ujian live melalui YouTube dan Instagram menjadi pengalaman yang sangat menegangkan sekaligus membanggakan bagi para siswa.
Mereka tidak hanya diuji sebagai pelajar, tetapi juga sebagai generasi muda yang sedang dibentuk menjadi intelektual muslim bermental tangguh.
“Ketika tampil live, rasa gugup itu pasti ada. Tetapi justru di situlah kami belajar keberanian, belajar percaya diri, dan belajar menghadapi tekanan secara nyata,” ungkap salah satu peserta dengan penuh semangat.
Program ACP sendiri merupakan salah satu program unggulan MAM 1 Paciran yang dirancang untuk membangun tradisi akademik pesantren, memperkuat penguasaan Bahasa Arab aktif, serta melahirkan generasi yang mampu memahami literatur Islam langsung dari sumber aslinya.
Penguasaan ilmu alat seperti Nahwu dan Shorof dipandang sebagai pondasi utama dalam membentuk generasi intelektual muslim yang siap berdakwah, melanjutkan pendidikan tinggi, dan menghadapi tantangan global dengan bekal ilmu, keberanian, dan karakter yang kuat.
Meski dipenuhi ketegangan dan tekanan akademik yang tinggi, para siswa ACP tetap menunjukkan semangat belajar yang membara.
Mereka memahami bahwa setiap hafalan, setiap latihan pidato, setiap pembukaan kamus, dan setiap dialog Bahasa Arab adalah bagian dari perjuangan panjang dalam menapaki jalan ilmu.
Semangat mereka hari ini bukan sekadar tentang menghadapi ujian, tetapi tentang membangun masa depan, menempa mental pejuang, serta mempersiapkan diri menjadi generasi intelektual muslim yang siap membawa cahaya ilmu dan peradaban ke tengah masyarakat.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments