Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hidup Semau Kita, Mati Tak Bisa Ditunda

Iklan Landscape Smamda
Hidup Semau Kita, Mati Tak Bisa Ditunda
Foto: yahoo.com
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Suatu hari Malaikat Jibril Alaihi Salam datang menasihati Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Nasihat itu bukan hanya untuk Rasulullah, tetapi juga untuk seluruh manusia yang hidup di muka bumi ini.

Malaikat Jibril berkata: “Wahai Muhammad, hiduplah semaumu, tetapi ingatlah bahwa engkau pasti akan mati.”

“Isy ma syi’ta fa innaka mayyit.”

Kalimat itu singkat, tetapi mengguncang hati. Sebab manusia sering hidup seolah-olah tidak akan pernah meninggalkan dunia.

Kita membangun rumah setinggi mungkin, mengejar jabatan tanpa lelah, mengumpulkan harta tanpa henti, bahkan terkadang melupakan halal dan haram demi memenuhi ambisi. Hidup semau kita. Padahal setiap hari sebenarnya kematian sedang berjalan mendekati kita.

Ada orang yang pagi hari masih sempat bercanda bersama keluarganya, siang hari masih bekerja seperti biasa, namun sore hari namanya sudah diumumkan melalui pengeras suara masjid. Ada yang semalam masih merencanakan masa depan, tetapi esok paginya tubuhnya sudah terbujur kaku dibungkus kain kafan.

Begitulah hidup. Kematian tidak mengenal usia, jabatan, kekayaan, atau kedudukan.

Kita sering menyaksikan iring-iringan ambulans lewat di jalan raya. Sirene meraung keras membelah kemacetan kota.

Orang-orang hanya menoleh sebentar, lalu kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Padahal bisa jadi suatu hari nanti kitalah yang berada di dalam ambulans itu, dibawa menuju rumah terakhir bernama kubur.

Mati bukan akhir dari segalanya. Mati hanyalah pintu menuju kehidupan berikutnya. Karena itu Jibril melanjutkan nasihatnya:

“Wakmal ma syi’ta fa innaka majziyyun bih.” (Kerjakan apa saja yang engkau mau, tetapi engkau pasti akan mendapatkan balasannya)

Kalau ingin berlaku jujur, silakan. Kalau ingin bersedekah, silakan. Kalau ingin membantu orang lain, silakan.

Namun kalau ingin menipu, memfitnah, mengambil hak orang lain, atau menghalalkan segala cara demi dunia, silakan juga. Allah tidak pernah tidur. Semua akan dicatat.

Ada orang yang tampak hebat di hadapan manusia. Mobilnya mewah, rumahnya besar, pengaruhnya luas. Tetapi semua itu dibangun dari air mata orang kecil, dari hak bawahan yang dipotong, dari amanah yang dikhianati, atau dari kebohongan yang dibungkus rapi.

Di dunia mungkin ia dipuji. Tetapi di hadapan Allah tidak ada yang bisa disembunyikan.

Sebaliknya, ada pula orang sederhana yang hidupnya biasa-biasa saja. Pakaiannya sederhana, rumahnya kecil, pekerjaannya tidak terkenal.

Namun setiap hari ia menjaga kejujuran, menolong tetangga, membahagiakan orang tuanya, dan tidak pernah meninggalkan salatnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Mungkin manusia tidak mengenalnya. Tetapi langit mengenal amalnya.

Setiap ucapan yang keluar dari lisan kita akan dimintai pertanggungjawaban. Setiap langkah kaki, setiap uang yang kita belanjakan, setiap jabatan yang kita gunakan, semuanya akan ditanya.

Karena hidup ini bukan sekadar tentang sukses di dunia, tetapi tentang bagaimana mempertanggungjawabkan semuanya di akhirat.

Kemudian Jibril berkata lagi: “Wa ahbib ma syi’ta fa innaka mufariquhu.” (Cintailah apa pun yang ingin engkau cintai, tetapi engkau pasti akan berpisah dengannya).

Kita mencintai keluarga. Kita mencintai anak-anak yang setiap hari memanggil kita ayah dan ibu. Kita mencintai rumah yang dibangun dengan susah payah. Kita mencintai sawah, kendaraan, usaha, jabatan, dan segala kenyamanan hidup.

Semua itu wajar. Namun jangan sampai cinta dunia membuat kita lupa bahwa semuanya hanya titipan.

Lihatlah pemakaman. Di sana ada orang kaya dan orang miskin yang kini sama-sama dibungkus kain putih. Tidak ada lagi perbedaan pangkat. Tidak ada lagi gelar. Tidak ada lagi pengawal atau kemewahan.

Yang menemani hanyalah amal. Betapa banyak orang yang sepanjang hidupnya sibuk mengejar dunia, tetapi tidak sempat menikmati hasilnya.

Rumah megah yang dibangun akhirnya ditempati anak cucunya. Harta yang dikumpulkan bertahun-tahun justru menjadi bahan perebutan setelah ia meninggal.

Sementara dirinya sendiri masuk ke liang lahat hanya membawa amal perbuatan. Karena itu hidup harus dijalani dengan kesadaran. Bekerjalah, tetapi jangan lupa ibadah.

Kejarlah cita-cita, tetapi jangan tinggalkan kejujuran. Carilah harta, tetapi jangan abaikan sedekah.

Cintailah keluarga, tetapi jangan sampai lupa kepada Allah. Sebab pada akhirnya kita semua sedang berjalan menuju tempat yang sama: kematian.

Dan ketika hari itu tiba, tidak ada yang paling kita butuhkan selain rahmat Allah dan amal saleh yang pernah kita kerjakan.

Semoga kita tidak menjadi manusia yang tertipu oleh dunia yang sementara. Semoga saat berpisah dengan dunia, kita termasuk orang-orang yang tenang karena telah mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang abadi. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 19/05/2026 11:16
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡