Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

109 Tahun Aisyiyah: Dari Gerakan Perempuan hingga Pilar Dakwah Kemanusiaan Indonesia

Iklan Landscape Smamda
109 Tahun Aisyiyah: Dari Gerakan Perempuan hingga Pilar Dakwah Kemanusiaan Indonesia
109 Tahun ‘Aisyiyah: Dari Gerakan Perempuan hingga Pilar Dakwah Kemanusiaan Indonesia
Oleh : Muhammad Taufiq Ulinuha Mahasiswa Pascasarjana UAD; Aktifis JIMM & KHM

Di tengah dunia yang terus dirundung konflik, ketimpangan sosial, dan krisis kemanusiaan, kehadiran organisasi perempuan berbasis keagamaan menjadi semakin penting. Dalam konteks Indonesia, ‘Aisyiyah menempati posisi strategis sebagai salah satu gerakan perempuan Islam tertua yang konsisten merawat dakwah kemanusiaan.

Memasuki usia ke-109 tahun, organisasi otonom perempuan Muhammadiyah tersebut tidak hanya bertahan sebagai simbol sejarah, tetapi terus bergerak menjawab tantangan zaman.

Didirikan pada 1917 oleh Nyai Siti Walidah di Kauman, ‘Aisyiyah lahir dalam situasi sosial yang tidak sederhana. Pada masa itu, akses pendidikan perempuan masih sangat terbatas dan perempuan kerap ditempatkan hanya dalam ruang domestik.

Namun, Nyai Walidah membaca Islam secara progresif. Ia meyakini bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, berorganisasi, dan berkontribusi di ruang publik.

Dari titik itulah, ‘Aisyiyah berkembang menjadi gerakan sosial-keagamaan yang melampaui zamannya. Organisasi ini tidak hanya mengajarkan pengajian, tetapi juga membangun sekolah, layanan kesehatan, hingga gerakan pemberdayaan ekonomi perempuan.

Dalam perspektif sosiologi Islam, langkah tersebut menunjukkan bahwa dakwah tidak semata berbentuk ceramah, melainkan juga transformasi sosial.

Selama lebih dari satu abad, ‘Aisyiyah memperlihatkan wajah Islam yang inklusif dan berorientasi pada kemanusiaan.

Ketika banyak kelompok sibuk mempertentangkan identitas, ‘Aisyiyah justru hadir melalui kerja-kerja nyata. Mulai dari pelayanan ibu dan anak, penguatan ketahanan keluarga, penanggulangan stunting, hingga advokasi terhadap kelompok rentan.

Dalam banyak kesempatan, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan merupakan inti gerakan ‘Aisyiyah.

Dakwah, menurutnya, tidak boleh berhenti pada simbol dan slogan semata, tetapi harus menghadirkan solusi konkret bagi persoalan masyarakat.

Pandangan tersebut semakin relevan dengan kondisi global saat ini. Konflik kemanusiaan di berbagai negara menunjukkan bahwa dunia membutuhkan pendekatan damai yang berbasis nilai moral dan solidaritas sosial.

Dalam konteks itu, ‘Aisyiyah menawarkan model gerakan Islam moderat yang menempatkan kemanusiaan sebagai prioritas utama.

Peran tersebut tampak dalam berbagai program strategis yang dijalankan ‘Aisyiyah selama ini.

Melalui ribuan amal usaha di bidang pendidikan dan kesehatan, ‘Aisyiyah ikut memperluas akses layanan dasar masyarakat. Jaringan layanan pendidikan dan kesehatan ‘Aisyiyah tersebar di berbagai daerah, mulai dari perkotaan hingga wilayah terpencil.

Di bidang perdamaian, ‘Aisyiyah juga aktif membangun dialog lintas kelompok.

SMPM 5 Pucang SBY

Organisasi ini konsisten mendorong Islam wasathiyah atau Islam moderat yang menolak ekstremisme. Pendekatan tersebut dinilai penting di tengah meningkatnya polarisasi sosial akibat politik identitas dan disinformasi digital.

Tidak berlebihan jika banyak peneliti menempatkan ‘Aisyiyah sebagai salah satu contoh sukses gerakan perempuan Muslim modern.

Peneliti Islam Indonesia dari Australian National University, Robert W. Hefner, pernah menilai bahwa organisasi-organisasi Islam moderat di Indonesia, termasuk Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, berkontribusi besar dalam penguatan demokrasi dan civil society.

Meski memiliki perjalanan panjang yang kuat, tantangan ke depan tetap tidak ringan.

Perubahan sosial yang berlangsung cepat menuntut kemampuan adaptasi gerakan. Era digital melahirkan generasi baru dengan pola komunikasi yang berbeda.

Di sisi lain, isu kekerasan terhadap perempuan, kemiskinan, hingga kerusakan lingkungan masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama.

Karena itu, usia 109 tahun seharusnya tidak hanya menjadi momentum seremonial. Momentum ini juga menjadi titik refleksi untuk memperkuat kembali orientasi gerakan.

‘Aisyiyah perlu terus menghadirkan dakwah yang mencerahkan, ramah perempuan, serta berpihak kepada kelompok yang lemah.

Yang menarik, kekuatan ‘Aisyiyah justru terletak pada konsistensinya bekerja dalam senyap.

Organisasi ini mungkin tidak selalu dominan dalam perdebatan politik nasional, tetapi pengaruh sosialnya nyata dirasakan masyarakat.

Dari sekolah TK ABA hingga layanan kesehatan, jejak pengabdian ‘Aisyiyah tumbuh dalam kehidupan sehari-hari umat.

Pada akhirnya, perdamaian tidak lahir dari pidato besar semata. Perdamaian tumbuh melalui pendidikan, pelayanan sosial, dan keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan.

Selama 109 tahun, jalan itulah yang ditempuh ‘Aisyiyah. Sebuah jalan sunyi yang justru membuat organisasi ini tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Revisi Oleh:
  • Satria - 19/05/2026 12:05
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡