Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hanya Disebut Empat Kali: Mengapa Allah Tidak Memanggil Nama Muhammad secara Langsung?

Iklan Landscape Smamda
Hanya Disebut Empat Kali: Mengapa Allah Tidak Memanggil Nama Muhammad secara Langsung?
Ilustrasi. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Abdul Hafid Mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang di dalamnya berisi aturan hukum, kisah kaum terdahulu, peringatan, dan kabar gembira tentang masa depan. Ketika membaca Al-Qur’an lebih dalam, maka kita akan menemukan bahwa setiap ayat di dalamnya adalah samudra sastra tertinggi dengan keindahan bahasa agar pesan dapat disampaikan dengan penuh makna.

​Salah satu keindahan Al-Qur’an adalah cara Allah menyapa para nabi. Kita akan menemukan sebuah fakta yang menyentuh hati, betapa mulia dan istimewanya Nabi Muhammad di mata Sang Pencipta. Di sepanjang dari Surah Al-Fatihah sampai An-Nas, Allah tidak pernah memanggil Nabi Muhammad dengan sebutan nama langsung seperti “Ya Muhammad”. Cara Allah berkomunikasi sangat berbeda dengan cara Allah memanggil nabi-nabi terdahulu.

​Ketika Allah berbicara kepada nabi-nabi terdahulu, Allah memanggil secara langsung menggunakan nama asli mereka. Hal ini termaktub jelas dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an seperti, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga” (QS. Al-Baqarah: 35). Pola yang sama juga berlaku ketika Allah memanggil nabi-nabi lainnya. Kita akan menemukan kalimat “Wahai Musa”, “Wahai Ibrahim”, dan “Wahai Zakariya” di dalam Al-Qur’an.

​Panggilan langsung ini tidak mengurangi kemuliaan para nabi di hadapan Allah. Namun, ada hal menarik ketika Allah memanggil Nabi Muhammad; gaya komunikasi Allah berubah menjadi kalimat yang penuh kemuliaan dan kehormatan.

Allah selalu memanggil Nabi Muhammad dengan menggunakan gelar kemuliaan, fungsi kerasulan, dan ketika situasi serta kondisi yang sedang dialami. Panggilan yang sering kita dengar adalah “Ya ayyuhan nabi” (wahai nabi) dan “Ya ayyuhar rasul” (wahai rasul).

​Panggilan ini merupakan adab yang telah Allah tunjukkan kepada alam semesta. Allah ingin menunjukkan bahwa Nabi Muhammad memiliki kedudukan mulia yang menjadi sosok penutup para nabi dan pemimpin para rasul, maka sapaan kepada Nabi Muhammad mencerminkan kedudukan spiritual yang tinggi. Allah juga kerap memanggil Nabi Muhammad dengan panggilan yang sangat personal dan penuh kasih sayang.

​Ketika Nabi Muhammad sedang berselimut karena menahan beban emosional pada awal kenabian, sebuah panggilan dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut datang; Allah memanggil dengan kalimat “Ya ayyuhal muzzammil” (wahai orang yang berselimut) atau Ya ayyuhal muddatsir” (wahai orang yang berkemul). Panggilan ini seperti sentuhan ketenangan untuk menghibur hati nabi yang sedang gelisah.

Empat Kali Disebut

​Menjadi sebuah pertanyaan apakah nama Muhammad tidak pernah Allah sebut dalam Al-Qur’an? Nama Muhammad hanya disebutkan empat kali dalam Al-Qur’an, yaitu di Surah Ali ‘Imran: 144, Al-Ahzab: 40, Muhammad: 2, Al-Fath: 29, dan satu nama Ahmad di Surah As-Saff: 6. Namun, nama tersebut tidak pernah diposisikan sebagai panggilan atau sapaan secara langsung.

SMPM 5 Pucang SBY

​Nama Muhammad hanya disebut dalam konteks berita sebagai bentuk penegasan status hukum, legalitas kerasulan, dan identitas kepada umat manusia. Seperti dalam Surah Ali ‘Imran ayat 144:

“Dan Muhammad hanyalah seorang rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka dia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.”

Ayat ini turun untuk menegaskan identitas kedudukan Nabi Muhammad agar umat Islam tidak goyah ketika mendengar isu tentang wafatnya Nabi Muhammad di Perang Uhud.

​Kemudian di Surah Al-Fath ayat 29 Allah berfirman, “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…”. Di sini nama Muhammad digunakan sebagai subjek untuk mendeklarasikan risalah kerasulan kepada umat manusia.

​Gaya bahasa yang unik dalam Al-Qur’an membawa pesan moral dan pelajaran adab yang luar biasa. Dari cara berkomunikasi, Allah mengajarkan kita tentang cara menghormati dan memuliakan Nabi Muhammad. Setiap kali nama beliau terdengar atau terucap, maka iringi dengan shalawat kepadanya. Sebab, menghormati Nabi Muhammad tidak sekadar kewajiban agama, melainkan cerminan dari keimanan dalam hati kita. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 19/05/2026 08:27
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡