Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Pasuruan menggelar Pengajian Ahad Pagi di Masjid Darul Arqom pada Minggu (17/5/2026) sebagai agenda rutin menjelang bulan Dzulhijjah. Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. Hasan Ubaidillah, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang membidangi Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM). Dalam pengajian itu, ia membahas reposisi peran masjid di era modern sekaligus merefleksikan perjuangan ketauhidan keluarga Nabi Ibrahim AS.
Di hadapan ratusan jemaah yang memadati ruang utama masjid, Dr. Hasan menegaskan bahwa masjid-masjid Muhammadiyah harus segera melakukan transformasi gerakan sosiologis agar tidak sekadar menjadi tempat ibadah ritual yang statis.
Menurutnya, masjid modern wajib naik kelas menjadi pusat solusi dan pemenuhan kelayakan sosial bagi umat melalui penyediaan layanan kesehatan, santunan, hingga biro konsultasi keluarga sakinah yang pengelolanya dari kader terlatih.
“Melalui arah gerakan baru, kita mendorong masjid-masjid Muhammadiyah bertransformasi untuk naik kelas. Masjid harus menjadi pusat kelayakan sosial yang menyediakan layanan kesehatan, santunan, hingga biro konsultasi keluarga sakinah oleh kader-kader terlatih. Prinsipnya, masjid menjadi pusat pergeseran nilai kemanfaatan yang langsung menyentuh problem jemaah,” ujar Dr. Hasan di hadapan ratusan jemaah yang memadati ruang utama masjid.

Historikal Perjuangan Nabi Ibrahim AS
Selain membahas peran masjid, dosen pascasarjana tersebut menguraikan tiga hikmah esensial dari bentangan sejarah dakwah Nabi Ibrahim AS di Babilonia (Irak), Palestina, hingga Makkah yang wajib menginternalisasi warga persyarikatan:
1. Dibenci karena Kebenaran, Bukan karena Akhlak
Merujuk pada fase dakwah di Babilonia saat berhadapan dengan kelaliman Raja Namrud, Dr. Hasan mengisahkan Namrud memusuhi Nabi Ibrahim murni karena membawa prinsip kebenaran tauhid, bukan karena perangai buruk. Menurutnya, ada yang memusuhi saat kita memegang teguh kebenaran Islam merupakan sebuah sunnatullah perjuangan.
“Banyak yang membenci Nabi Ibrahim bukan karena beliau memiliki perangai buruk. Beliau adalah pribadi yang sangat lembut dan mencintai masyarakatnya. Namun, umumnya mereka memusuhi beliau murni karena membawa prinsip kebenaran tauhid. Ini menjadi otokritik bagi kita, bahwa kalau ada yang membenci kita karena akhlak kita buruk, itu musibah. Tapi kalau kita sudah berakhlak baik dan mereka tetap memusuhi kita karena memegang teguh kebenaran Islam, itulah anugerah dan sunnatullah perjuangan,” tegasnya.
2. Dakwah Santun di Tengah Ujian Keluarga
Hikmah kedua menyoroti ujian domestik kedewasaan iman. Kendati menghadapi penentangan ideologis yang kontras dari sang ayah (Azar) yang merupakan produsen berhala, Nabi Ibrahim selalu berdialog menggunakan tutur kata yang sangat santun (Ya abati / Wahai ayahku). Hal ini menjadi otokritik bagi pola dakwah modern yang masih sering diwarnai caci maki.
“Berdakwah itu menanam benih yang hasilnya mungkin baru dipanen oleh keturunan kita di masa depan. Menegakkan kebenaran harus diiringi dengan akhlak mulia. Sangat miris jika hari ini sebagian orang mengatasnamakan kebenaran, tetapi mengisi dakwah mereka dengan hujatan, caci maki, dan kemudahan mengafirkan sesama,” lanjut dosen pascasarjana tersebut.
3. Hakikat Ketaatan Iman (Sam’an wa Tha’atan)
Hikmah ketiga bersumber dari keteguhan hati keluarga Nabi Ibrahim AS dalam menerima perintah penyembelihan Nabi Ismail AS. Peristiwa tersebut melalui fase Hari Tarwiyah sebagai momentum perenungan hingga Hari ‘Arafah sebagai puncak keyakinan. Dr. Hasan Ubaidillah menegaskan bahwa warga Muhammadiyah harus memiliki sikap sam’an wa tha’atan. Yaitu sikap mendengar dan taat secara totalitas terhadap syariat. Menurutnya, ketundukan kepada perintah Allah mencakup ajaran yang rasional maupun suprarasional, tanpa mempertentangkannya dengan keterbatasan logika manusia.
Acara yang berlangsung dinamis ini berakhir dengan sesi tanya jawab interaktif. Pihak panitia turut membagikan sejumlah doorprize menarik bagi jemaah yang mampu menjawab pertanyaan terkait peta jalur dakwah sejarah Nabi Ibrahim AS.
Menutup rangkaian agenda, Dr. Hasan mengapresiasi antusiasme warga Muhammadiyah Kota Pasuruan dan berharap manajemen waktu kehadiran jamaah dapat terus meningkat demi syiar dakwah yang lebih solid di masa mendatang.***





0 Tanggapan
Empty Comments