Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mekkah: Antara Episentrum Spiritual dan Gurita Bisnis Modern

Iklan Landscape Smamda
Mekkah: Antara Episentrum Spiritual dan Gurita Bisnis Modern
Oleh : Dr. Mukhaer Pakkanna Wakil Ketua MEBP PP Muhammadiyah

Memotret Tanah Suci Mekkah saat ini tidak sekadar melihat episentrum ziarah spiritual umat Islam. Kota ini telah berkembang menjadi ekosistem yang kian “sekuler”.

Aktivitas bisnis dan jasa wisata religi modern tumbuh subur dengan topangan ratusan ribu properti. Etalase hotel berbintang, mal kelas wahid, puluhan ribu pasar kaget, hingga transportasi massal modern kini turut meriuhkan aktivitas kota.

Masjidil Haram menjadi locus dan pusat resonansi yang selalu hidup selama 24 jam. Karakter kotanya pun kian mengglobal. Aura Mekkah tempo dulu seolah tercerabut, berganti tata kelola kota yang sophisticated dengan dukungan teknologi digital teranyar.

Musim haji otomatis menjadi momen emas untuk meraup keuntungan bagi para pedagang dan pemburu rente (rent seeker). Segala penjuru dunia mengirimkan komoditas untuk ditransaksikan di sini. Bahkan, tidak sedikit oknum yang tega mendagangkan “surga” demi keuntungan sepihak.

Mereka memanipulasi keluguan serta ketaatan jemaah dengan mengeksploitasi doktrin ta’abbudi (peribadatan).

Jika menengok sejarah, dinamika ekonomi ini sebenarnya bukanlah hal baru. Pada zaman Rasulullah, oligarki suku Quraisy telah membentuk jalur sutra Arab yang kuat. Mereka menguasai rute perdagangan dua musim: musim dingin ke Yaman dan musim panas ke Syam (Suriah).

Komoditas utama berupa rempah-rempah, wewangian, dan sutra menjadi komoditas utama. Pola bisnis masa itu juga penuh dengan favoritisme, hak istimewa (privilege), dan praktik pemburu rente.

Geliat bisnis purba tersebut ditopang oleh pilar pasar musiman legendaris, seperti Pasar Ukazh, Majannah, dan Zul Majaz. Tempat-tempat ini menjadi ruang bagi para pedagang dan penyair untuk bertransaksi sekaligus bersilang budaya.

Ka’bah, merujuk karya kontroversial Patricia Crone dalam Meccan Trade and the Rise of Islam (1987), bertindak sebagai simbol magnitudo peziarah dari berbagai suku Arab. Keberadaan Ka’bah secara otomatis mendatangkan keuntungan finansial yang sangat besar bagi sektor jasa dan perdagangan lokal.

SMPM 5 Pucang SBY

Melihat kepincangan tersebut, Rasulullah bersama para sahabat kemudian meletakkan fondasi sistem bisnis baru yang revolusioner. Sistem ini terbangun secara lebih adil, terbuka, dan memiliki tata kelola yang akuntabel.

Praktik kotor seperti monopoli, riba, dan penimbunan barang (ihtikar) resmi enyah. Mengarahkan perdagangan Islam agar selalu menjunjung tinggi prinsip kejujuran, transparansi, dan keadilan bagi semua pihak.

Namun, seiring bergantinya rezim kekuasaan dari abad ke abad, kebijakan ekonomi di Tanah Suci terus mengalami pergeseran. Sejak era Dinasti Bani Saud berkuasa, terutama sejak pertengahan abad ke-20, arus modernisasi bertiup sangat kental di Mekkah.

Konsekuensinya, rezim kerajaan Arab Saudi saat ini gencar melakukan transformasi fisik secara masif. Ekspansi proyek raksasa  dilakukan di sekitar kawasan Masjidil Haram, termasuk pembangunan kompleks menara pencakar langit Abraj Al-Bait.

Kerajaan bahkan telah menyusun reorientasi ekonomi baru melalui Visi 2030. Program strategis ini bertujuan mengalihkan ketergantungan ekonomi negara dari sektor minyak bumi ke sektor pariwisata religi. Targetnya, menggaet puluhan juta jemaah internasional setiap tahunnya untuk menjaga roda ekonomi kerajaan tetap berputar kencang.***

Mekkah, 18 Mei 2026

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 18/05/2026 23:44
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu