Perjalanan spiritual saya memasuki hari ketujuh, tepatnya Sabtu, 16 Mei 2026. Hari itu agenda kami adalah ziarah ke Jabal Tsur, Jabal Nur, dan Jabal Rahmah, lalu dilanjutkan menuju Masjid Aisyah di Tan’im untuk mengambil miqot umrah sunnah yang akan kami laksanakan pada malam harinya.
Sejak pukul 07.00 pagi, kami sudah bersiap di halaman hotel menunggu bus yang akan membawa rombongan berziarah. Kali ini bukan Bus Sholawat yang biasa kami naiki, melainkan bus khusus untuk city tour.
Sebelum berangkat, pembimbing dari KBIHU Nurul Hikmah memberikan arahan kepada seluruh jamaah. Jamaah laki-laki diminta membawa kain ihram bagi yang akan melaksanakan umrah sunnah, sedangkan jamaah perempuan diminta memastikan perlengkapan penutup aurat telah lengkap.
Tak lama kemudian, bus bergerak meninggalkan Kota Makkah menuju lokasi pertama yang hanya berjarak sekitar enam kilometer dari Masjidil Haram.
Jabal Tsur dan Pelajaran tentang Ikhtiar serta Tawakal
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jabal Tsur. Di lokasi tersebut, pembimbing menjelaskan bahwa Jabal Tsur merupakan tempat Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA bersembunyi dari kejaran kaum kafir Quraisy saat hendak hijrah ke Madinah.
Gua di Jabal Tsur, menurut penjelasan pembimbing, hanya cukup ditempati sekitar dua orang yang saling berhadapan. Untuk mencapai puncaknya pun dibutuhkan waktu sekitar satu setengah jam pendakian.
Di tempat itulah kami kembali diingatkan tentang beratnya perjuangan Rasulullah SAW.
Selama tiga hari tiga malam bersembunyi di gua tersebut, Allah SWT menunjukkan pertolongan-Nya melalui mukjizat sarang laba-laba dan burung merpati yang membuat kaum Quraisy yakin tidak ada orang di dalam gua.
Saat Abu Bakar merasa takut, Rasulullah SAW menenangkannya dengan kalimat:
“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
(QS. At-Taubah: 40)
Kisah Jabal Tsur mengajarkan pentingnya keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.
Seberat apa pun ujian hidup, manusia tetap harus melangkah dengan usaha terbaik, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT. Mukjizat sarang laba-laba dan burung merpati menjadi bukti bahwa pertolongan Allah dapat datang dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.
Jabal Nur dan Kisah Cinta Sayyidah Khadijah
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Jabal Nur. Namun qadarullah, kali ini kami tidak diperkenankan turun dari bus karena kondisi jalan dan kebijakan baru yang diterapkan.
Meski hanya mendengar penjelasan dari dalam bus, kisah Jabal Nur tetap menghadirkan getaran tersendiri.
Jabal Nur adalah tempat Rasulullah SAW bertafakur dan berdiam diri untuk merenungkan penciptaan alam semesta. Di puncaknya terdapat Gua Hira, tempat turunnya wahyu pertama, Surat Al-‘Alaq ayat 1-5.
Pembimbing kami juga menceritakan pengalaman rombongan terdahulu saat mendaki Jabal Nur.
Kala itu mereka bertemu seorang wanita tua yang menangis tersedu-sedu di tengah pendakian. Awalnya pembimbing mengira wanita tersebut kelelahan, namun ternyata ia teringat perjuangan Sayyidah Khadijah yang setiap hari naik turun gunung demi mengantarkan makanan untuk Rasulullah SAW.
Cerita itu menjadi pengingat bahwa Jabal Nur bukan sekadar saksi turunnya wahyu pertama, tetapi juga saksi cinta dan pengorbanan luar biasa seorang istri kepada suaminya.
Jika saat ini pendakian sudah dilengkapi tangga dan fasilitas, namun manusia masih merasa lelah, maka betapa berat perjuangan Sayyidah Khadijah di masa itu.
Dari Jabal Nur, saya belajar bahwa perjuangan dakwah tidak pernah lahir dari satu sosok saja. Di balik besarnya perjuangan Rasulullah SAW, ada dukungan, cinta, dan pengorbanan yang begitu tulus dari Sayyidah Khadijah.
Jabal Rahmah dan Makna Pertemuan Kembali
Perjalanan berlanjut melewati Padang Arafah. Dari balik jendela bus tampak deretan tenda yang kelak akan menjadi tempat kami saat puncak ibadah haji.
Hati saya bergetar membayangkan bahwa di tempat itulah jutaan tamu Allah akan berkumpul.
Ibu yang duduk di samping saya tak henti-hentinya mengucap syukur.
“Selama ini lihatnya di HP dan TV, kali ini Alhamdulillah bisa lihat langsung. Yaa Allah,” katanya dengan suara bergetar.
Tujuan berikutnya adalah Jabal Rahmah. Di tempat ini kami diperbolehkan turun dari bus dan berjalan mendekati area bukit yang dibatasi pagar.
Menurut penjelasan pembimbing, Jabal Rahmah berarti Gunung Kasih, tempat Nabi Adam AS dan Siti Hawa kembali dipertemukan setelah diturunkan ke bumi secara terpisah.
Kisah itu menyimpan pelajaran mendalam tentang pertobatan dan kasih sayang Allah SWT.
Nabi Adam AS menyadari kesalahannya, memohon ampun kepada Allah SWT, lalu dipermudah jalannya untuk kembali bertemu dengan Siti Hawa.
Dari Jabal Rahmah, saya belajar bahwa setiap perpisahan tidak selalu berarti kehilangan selamanya. Ada kalanya Allah memisahkan manusia untuk mengajarkan kesadaran, introspeksi, dan kerendahan hati sebelum akhirnya dipertemukan kembali dalam waktu terbaik menurut-Nya.
Jabal Rahmah bukan hanya bukit batu yang menyimpan sejarah, melainkan simbol harapan bahwa kasih sayang Allah selalu lebih besar daripada kesedihan manusia.
Miqot di Masjid Aisyah Tan’im
Perjalanan terakhir kami hari itu adalah menuju Masjid Aisyah Tan’im.
Begitu sampai, saya langsung terpukau melihat keindahan masjid tersebut. Namun ternyata, kisah di baliknya jauh lebih indah.
Pembimbing menjelaskan bahwa dahulu Sayyidah Aisyah RA tidak dapat mengikuti rangkaian haji wada’ bersama Rasulullah SAW karena sedang haid. Setelah kembali suci, beliau melapor kepada Rasulullah SAW, lalu diperintahkan mengambil miqot di Tan’im dengan ditemani saudaranya, Abdurrahman bin Abu Bakar.
Sejak peristiwa itu, Tan’im kemudian dikenal sebagai salah satu tempat miqot.
Di masjid tersebut kami segera bersiap mengambil miqot, berwudhu, melaksanakan salat sunnah ihram, lalu berniat ihram untuk umrah sunnah.
Menariknya, KBIHU sengaja menjadwalkan miqot sekitar pukul 11 siang WAS, sedangkan pelaksanaan umrah sunnah baru dilakukan sekitar pukul 10 malam WAS.
Artinya, selama kurang lebih 11 jam kami harus menjaga diri dari berbagai larangan ihram.
Awalnya saya mengira itu hanya soal teknis jadwal. Namun ternyata di baliknya terdapat pelajaran spiritual yang sangat dalam.
Belajar Sabar dalam Keadaan Ihram
Selama menunggu dalam keadaan berihram, saya menyadari bahwa ihram bukan sekadar pakaian putih tanpa jahitan.
Ihram adalah simbol pengendalian diri.
Di dalam masa penantian itu, kami belajar menjaga lisan, menahan ego, dan melatih kesabaran. Kami diajak memahami bahwa ibadah bukan sekadar gerakan fisik yang harus cepat selesai, melainkan proses panjang untuk menata hati.
Semakin lama menunggu, justru semakin terasa makna tawakal dan ketaatan itu sendiri.
Dari perjalanan ziarah hari itu, saya belajar bahwa setiap tempat di Tanah Suci bukan hanya menyimpan sejarah, tetapi juga menghadirkan pelajaran kehidupan.
Jabal Tsur mengajarkan tentang tawakal.
Jabal Nur mengajarkan tentang perjuangan dan cinta.
Jabal Rahmah mengajarkan tentang ampunan dan harapan.
Sedangkan Masjid Aisyah Tan’im mengajarkan tentang kesabaran dalam ketaatan.
Dan mungkin, itulah salah satu hikmah terbesar dari perjalanan spiritual ini: bahwa perjalanan menuju Allah tidak pernah hanya soal langkah kaki, tetapi juga perjalanan hati.





0 Tanggapan
Empty Comments