Sistem pelayanan sosial juga diperbaharui. Jika panti asuhan di dalamnya hanya diberikan ilmu dan keterampilan kerja, maka Muhammadiyah memasukkan pendidikan agama di dalam panti-panti asuhan yang didirikannya.
Di dalamnya pun dibangun masjid atau musholla tempat warga panti dididik dan menjalankan ibadah salat dan lainnya. Selain itu dijadikan tempat melaksanakan kajian-kajian secara rutin, termasuk membaca al-Quran.
Panti asuhan Muhammadiyah menjadi tempat pembinaan anak-anak yatim dan dhuafa agar menjadi muslim yang taat beribadah, giat dalam menuntut ilmu dan rajin dalam bekerja dalam mencari rezeki dari Allah SWT.
Demikian pula sistem kesehatan diperbarui dengan mendirikan rumah-rumah sakit yang dapat membantu fakir miskin dan kaum dhuafa.
Mereka berobat dan mendapatkan pelayanan yang sama dan baik. Selain itu, menjadikan pusat pelayanan kesehatan dan kesejahteraan Islami dan beradab dalam berbagai aktivitasnya, hingga pembinaan rohani Islam diberikan kepada pasien dan orang-orang yang berobat di rumah sakitnya.
Para pasien dan pihak keluarga yang mengantarnya sedemikian dihormati dan dihargai tanpa pilih kasih. Semua yang datang ke rumah sakit adalah tamu yang harus dimuliakan dan dipenuhi hak-haknya tanpa dibeda-bedakan.
Bukan Agama Baru
Dengan pembaharuan yang dilakukan oleh Muhammadiyah dalam berbagai bidang tersebut tanpa merubah ajaran Islam menunjukan bahwa organisasi dakwah ini bukanlah agama baru atau agama yang baru.
Muhammadiyah lebih tepat disebut gerakan pembaharuan ummat Islam. Bukan ajaran Islam yang diperbarui melainkan cara berpikir dalam memahami dan menerapkan ajaran Islam.
Cara berpikir Islam yang jumut dan terbelakang harus diperbaharui dengan cara berpikir yang lebih maju dan modern. Artinya mengikuti modernisasi perlu dilakukan sepanjang tidak merusak aqidah dan ibadah kaum muslimin.
Dengan cara berpikir maju dan modern yang tidak mengabaikan worldview Islam inilah yang dijadikan pijakan Muhammadiyah dalam gerakan pembaharuannya.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments