Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 7

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 7

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab II berjudul “Jawa Timur Awal Abad ke-20”, sebagian halaman 15, 16, dan sebagian 17.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi-6

***

Halaman 15

Alat pengangkutan umum yang oleh masyarakat dianggap sangat vital adalah kereta api. Pada dekade kedua dan ketiga abad ke-20 tatkala Muhamamdiyah mulai tumbuh di berbagai tempat di Jawa Timur, kereta api telah menghubungkan kota-kota di provinsi ini.

Dibangunnya sarana perhubungan kereta api sebenarnya merupakan kelanjutan dari pengembangan sarana perhubungan laut yang mengalami perubahan besar-besaran akibat terjadinya revolusi industri di Eropa (1759-1869), penggalian terusan Suez (1869) dan inovasi teknologi kapal mesin hingga memungkinkan dibuatnya kapal-kapal berukuran besar dan mampu menempuh pelayaran jarak jauh.

Dibuat atau digalinya Terusan Suez telah menjadikan pelayaran antara Negeri Belanda dan Indonesia makin meningkat, baik volume (jumlah kapal yang berlayar) maupun tonasenya (bobot muatan). Misalnya oleh NHM (Netherlands Handel Matschappij), untuk keperluan tersebut dibangunlah pelabuhan-pelabuhan modern, antara lain di Jakarta (Priok), Semarang dan Surabaya (Perak).

Dalam hubungannya dengan pembangunan jaringan transportasi di Jawa secara hipotetis mestinya sarana pelabuhan sebagai pintu keluar-masuk ke Indonesia seperti Tanjung Priok di Jakarta dan Tanjung Perak di Surabaya dilakukan lebih awal daripada pembangunan jaringan jalan kereta api. Akan tetapi sumber-sumber sejarah yang tersedia ternyata memberikan informasi berbeda. Dalam hal ini, ternyata kereta api dibangun terlebih dahulu, yang meliputi jalur-jalur Semarang-Surakarta-Jogjakarta (1871); jalur

Halaman 16

Batavia-Buitenzorg (Bogor) (1873); dan jalur Surabaya-Pasuruan (1878).(3)

Di lain pihak, pelabuhan Perak baru dibangun secara besar-besaran pada awal abad ke-20.(4) Boleh jadi kapal-kapal mesin saat itu masih biasa membongkar sauh dan muatannya di dermaga yang ada di bagian hilir Kali Mas. Sisa-sisa beberapa derek atau crane masih terlihat di sebelah selatan jembatan Petekan, Jalan Jakarta, Surabaya. (5)

Pada abad ke-19 dan 20 berbagai perkembangan telah terjadi di Eropa sebagai “Negeri Induk”. Perubahan itu tidak hanya meliputi bidang sains dan teknologi, melainkan juga merambah ke bidang-bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya.

SMPM 5 Pucang SBY

Perubahan itu telah mendorong Pemerintah Hindia Belanda, atas desakan kaum Liberal, untuk melaksanakan Politik Pintu Terbuka (opendeur politiek-1871). Politik ini diterapkan untuk memperlancar upaya penanaman modal asing yang akan melahirkan industri dan perusahaan besar, seperti perkebunan gula, kopi, tembakau dan teh, khususnya di Jawa Timur.

Barang-barang tambang juga mulai dieksplorasi, antara lain minyak tanah di Wonokromo (Surabaya) dan Cepu. Perkembangan tersebut memerlukan institusi-institusi modern dalam bidang angkutan massal, teknologi, pabrik atau industri, pasar, dan penyediaan sumber daya manusia dan sarananya, yaitu pendidikan modern.

Untuk memenuhi keperluan tersebut, ternyata Surabaya mampu menangkap peluang zaman dan kemudian berkembang menjadi kota modern sebagai kota dagang dan industri terbesar di Indonesia (awal abad ke-20).(6)

Sarana perhubungan darat, terutama kereta api, ternyata juga berfungsi untuk mengangkut hasil-hasil perkebunan besar, seperti gula di sepanjang lembah Brantas, kopi di Malang, tembakau di Besuki, Bojonegoro dan Madura, menuju pelabuhan Tanjung Perak.

Dari Tanjung Perak, dengan kapal-kapal besar, berbagai komoditi dari Jawa Timur itu diekspor ke luar negeri. Sebaliknya, impor besar-besaran dari negara-negara asing, seperti hasil-hasil industri (misalnya mesin-mesin pabrik, mobil, barang-barang listrik dan tekstil) masuk melalui Tanjung Perak, kemudian diangkut menuju ke berbagai tujuan di Jawa Timur dengan kereta api. Kereta api itu kemudian menjadi sarana angkutan umum yang cepat dan murah.

Halaman 17

Salah seorang anggota masyarakat yang memanfaatkan jasa angkutan kereta api untuk keperluan dagang dan pengembangan Muhammadiyah adalah K. H. Ahmad Dahlan. Dari Jogjakarta, ia menyusuri kota-kota yang jauh-jauh di Jawa Timur, seperti Banyuwangi, Malang dan lain-lainnya, dengan memanfaatkan jasa kereta api.

Suatu hari pada 1922, Dahlan tertinggal kereta api di daerah Malang. Ia kemudian terpaksa menginap di kediaman Kepala Stasiun Sumberpucung. Peluang emas itu tidak disia-siakan untuk berdakwah. Sampai kemudian sang Kepala Stasiun tergerak hatinya dan tertarik menjadi anggota Muhammadiyah.(7)

***

Buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggotanya adalah Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Sementara konsultannya adalah M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 25/05/2026 07:39
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡