Selasa siang (23/6/2026), saya berkunjung ke Kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) di Jalan Sutorejo 59, Surabaya.
Tak lama setelah tiba, azan zuhur berkumandang. Saya pun menuju Masjid Al-Khoory yang berada di kompleks kampus untuk menunaikan salat berjamaah.
Menjelang azan, suasana kampus berubah. Aktivitas yang semula ramai perlahan berhenti. Ruang-ruang kerja mulai ditinggalkan. Dosen, tenaga kependidikan, hingga jajaran pimpinan rektorat bergegas menuju masjid.
Di Umsura, tradisi itu sudah lama dijaga. Sepuluh menit sebelum azan zuhur dan asar, seluruh aktivitas dihentikan.
Tujuannya sederhana, memberi kesempatan kepada seluruh civitas akademika untuk menunaikan salat berjamaah. Tak heran jika Masjid Al-Khoory selalu dipenuhi jamaah. Rektor Umsura Prof. Mundakir tampak salat di saf terdepan.
Di antara ratusan jamaah itu, saya bertemu sejumlah kawan lama yang masih mengabdi sebagai dosen. Salah satunya Prof. Abdul Azis Alimul Hidayat. Guru Besar Fakultas Ilmu Kesehatan Umsura yang kini juga mendapat amanah sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla). Kebetulan, siang itu saya berdiri tepat di sampingnya.
Usai salat, jamaah di saf depan mulai bergeser. Beberapa pengurus takmir tampak sibuk mengangkat meja dan kursi. Semuanya ditata rapi di depan mimbar.
Rupanya, siang itu bukan hari biasa. Hari itu merupakan jadwal rutin Pengajian Insyiroh, kajian bulanan yang diikuti civitas akademika Umsura dan jamaah umum.
Program tersebut mulai digelar pada awal tahun ini. Salah satu penggagasnya adalah Dr Abdul Wahab, Ketua Takmir Masjid Al-Khoory.
Pembicara yang hadir siang itu adalah Dr HM Sholihin Fanani, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Ia juga tercatat sebagai dosen Umsura.
Nama itu tentu tidak asing bagi saya. Kiai Sholihin, demikian ia akrab disapa, merupakan senior saya di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Pria kelahiran Lamongan itu dikenal memiliki jadwal ceramah yang padat. Mereka yang ingin mengundangnya biasanya harus mengatur jadwal jauh-jauh hari.
Namun, kiprahnya tidak hanya di mimbar pengajian. Kiai Sholihin pernah memimpin SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya atau yang lebih dikenal dengan SD Mudipat selama dua periode, yakni 2006 hingga 2014.
Saat ini, Kiai Sholihin juga menjadi pengurus Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.
Pengalamannya yang panjang di dunia pendidikan membuat namanya kerap diundang ke berbagai daerah di Indonesia. Bukan hanya untuk mengisi pengajian, tetapi juga memberikan pelatihan bagi para guru dan kepala sekolah.
***
Siang itu, Masjid Al-Khoory kembali dipenuhi jamaah. Namun, mereka tidak beranjak pulang. Sebagian memilih tetap duduk bersila. Sebagian lainnya berbincang ringan dengan teman di sebelahnya. Mereka menunggu kajian dimulai.
Di tengah kesibukan kampus yang tak pernah benar-benar sepi. Ada tradisi yang terus dirawat di Umsura. Aktivitas boleh berhenti sejenak. Tetapi salat berjamaah dan majelis ilmu tetap menjadi denyut yang menghidupkan kampus ini.
Ketika semua jamaah sudah menempati tempat masing-masing, Kiai Sholihin Fanani mulai menyampaikan tausiyahnya. Suaranya tenang. Sesekali diselingi humor ringan yang membuat jamaah tersenyum.
Pada bagian awal, dia mengingatkan tentang empat bulan mulia dalam Islam atau al-asyhur al-hurum, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharam, dan Rajab.
Empat bulan itu, kata Kiai Sholihin, memiliki keistimewaan tersendiri. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ketaatan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
“Bukan hanya memperbanyak ibadah wajib, tetapi juga meningkatkan amalan-amalan sunah, memperbanyak sedekah, serta mempererat silaturahmi,” pesannya.
Khusus bulan Muharam, dia mengingatkan jamaah pada peristiwa besar dalam sejarah Islam, yakni hijrahnya Nabi Muhammad sawa dari Makkah ke Madinah.
“Peristiwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan simbol perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Makanya ada yang menyebut fenomena hijrah, semangat itu untuk memperbaiki diri,” papar Kiai Sholihin.
Memasuki bagian inti kajian, Kiai Sholihin mengajak jamaah merenungi kandungan Surat Al-Fatihah. Menurutnya, surat yang selalu dibaca dalam setiap rakaat salat itu sesungguhnya memuat panduan hidup yang sangat lengkap.
Kiai Sholihin kemudian menguraikan sepuluh pelajaran penting dari Ummul Kitab tersebut.
Pertama, Al-Fatihah merupakan pandangan hidup manusia, bukan hanya untuk kehidupan di dunia, tetapi juga sebagai bekal menuju akhirat.
Kedua, Al-Fatihah mengajarkan jalan hidup seorang Muslim. Melalui ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, manusia diingatkan bahwa hanya kepada Allah tempat menyembah dan memohon pertolongan. Karena itu, seorang Muslim harus rajin beribadah dan memperbanyak doa.
Ketiga, Al-Fatihah menjadi petunjuk hidup. Manusia membutuhkan bimbingan Allah agar tidak tersesat oleh hawa nafsu dan godaan dunia.
Keempat, surat ini juga mengingatkan manusia tentang asal-usulnya sebagai makhluk ciptaan Allah. Kesadaran itu penting agar manusia tidak terjebak dalam kesombongan.
Kelima, manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah. Seluruh aktivitas kehidupan pada hakikatnya merupakan bentuk penghambaan kepada Sang Pencipta.
Keenam, seorang Muslim dituntut menjadi pribadi yang unggul. Unggul dalam iman, ilmu, akhlak, dan amal.
Ketujuh, Al-Fatihah menumbuhkan kesadaran untuk terus beriman kepada Allah dan menjadikan-Nya sebagai pusat orientasi kehidupan.
Kedelapan, ketakwaan yang benar akan melahirkan sifat kasih sayang. Sifat rahman dan rahim yang dimiliki Allah harus tercermin dalam perilaku manusia, baik kepada keluarga, sesama manusia, maupun lingkungan.
Kesembilan, seorang mukmin harus membangun komitmen untuk selalu berjalan di atas petunjuk Allah. Bukan mengikuti hawa nafsu atau sekadar arus zaman.
Dan kesepuluh, Al-Fatihah mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir. Ada kehidupan akhirat yang kekal, tempat manusia mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya.
Bagi Kiai Sholihin, Al-Fatihah bukan sekadar surat yang dihafal sejak kecil. Surat itu adalah peta jalan kehidupan.
“Karena itulah, meski dibaca berulang kali setiap hari, kandungannya tak pernah habis untuk direnungkan,” katanya.
Siang itu, jamaah Masjid Al-Khoory tampak khusyuk menyimak. Sebagian mencatat poin-poin penting di telepon genggam mereka.
Sebagian yang lain hanya mengangguk pelan, seolah mengiyakan bahwa tujuh ayat dalam Surat Al-Fatihah memang menyimpan pelajaran yang begitu luas bagi kehidupan manusia. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments